Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 69


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu....


Hari itu adalah hari ulang tahun Kinara. Dengan balutan dres berwarna pink dan mahkota bak putri dalam dongeng, Kinara sudah bersiap untuk merayakan ulang tahunnya hari ini.


"Tante, hari ini mama dan papa pulang kan? Mereka akan ikut ngerayain ulang tahun Nara kan?" tanya Kinara kecil sambil berlenggak-lenggok di depan cermin setelah memakai sepatunya.


"Iya, Sayang. Mama dan papamu sudah ngabarin Tante, kalau saat ini mereka sedang di jalan. Dan mungkin akan tiba di rumah sekitar 3 atau 4 jam lagi," jawab Reni sambil melongok jam tangannya.


"Yah masih lama dong, Tante," ucap Kinara kecil sambil cemberut.


"Nggak akan lama kalau Nara tinggal main dulu sama teman-teman. Nanti pas mama papa kamu pulang, baru deh kita tiup lilinnya," ujar Reni.


"Nara mau ganti baju dulu aja. Ntar Nara akan ganti dengan dres begitu mama dan papa pulang." Kinara melepas dres yang dipakainya dan mengganti dengan kaos oblong dan celana kulot setinggi lutut.


"Ya, sudah terserah kamu. Tapi, begitu mama-papa pulang, langung ganti baju lagi ya?" sahut Reni. Dia membiarkan keponakannya tersebut berbuat semaunya. Lagian semakin dicegah, Kinara pasti akan semakin melawan.


4 jam sudah berlalu, teman-teman Kinara juga sudah datang. Namun, kedua orang tua Kinara belum juga tiba di rumah. Kinara kecil pun merengek menyuruh tantenya untuk menelpon mereka.


"Tante ayo buruan telepon mama dan papa. Tanyain kapan mereka sampai rumah! Lihat teman-teman Nara sudah pada tidak betah, Tante!" Kinara merajuk meminta tantenya untuk menelpon.


"Nara Sayang. Nggak usah ya. Tante yakin mama dan papa Nara sebentar lagi sampai. Kalau kita telepon mereka, mereka panik lagi." Reni masih berusaha membujuk keponakannya untuk bersabar.


"Tapi, Nara mau ngomong sama mama dan papa, Tante. Nara mau tanya sendiri mereka udah sampai mana?" Kinara masih merengek. Karena tidak tega melihat keponakannya terus merajuk, Reni pun akhirnya mau menelpon kedua orang tua Kinara.


"Hallo, Mbak. Ini Reni. Mbak dan Mas Herman udah sampai mana? Nara udah ngerengek dari tadi," ujar Reni begitu sambungan telepon itu terjawab.


"Mbak masih agak jauh dari rumah, Ren. Mungkin kami akan terlambat. Kamu bantu bujuk Nara ya, hibur dia sampai Mbak dan Mas Herman tiba di rumah," jawab Ibu Kinara dari ujung sana. Ibu Kinara bernama Kasih.


Kinara menarik baju Reni dan meminta tantenya tersebut memberikan telepon itu kepadanya.


"Ini Mbak, Nara mau bicara sama Mbak." Reni memberikan telepon genggam di tangannya kepada Kinara.


"Mama, Papa, kapan pulang? Kenapa belum sampai rumah?" tanya Kinara.


"Sayang, maaf ya. Mungkin papa dan mama agak telat pulangnya. Nara bisa tiup lilin dulu sama Tante Reni dan Om Susanto. Nanti kalau papa dan mama sudah sampai rumah, kita bisa tiup lilin lagi. Oke, Sayang?" tutur Kasih dengan lembut dari ujung sana.


"Nggak mau, pokoknya Nara mau tiup lilinnya nungguin mama dan papa pulang," tolak Kinara.


"Tapi, Sayang. Mungkin mama dan papa bakal sampai rumah agak malam. Kasihan temen-temsnya kalau harus nungguin mama dan papa," bujuk Kasih.


"Nggak mau! Pokoknya kalau mama dan papa belum sampai rumah, Nara nggak bakalan mau tiup lilin!" sungut Kinara. Gadis kecil itu mengembalikan telepon genggam itu kepada Reni. Dia kemudian masuk ke dalam kamar.


"Hallo, Mbak. Naranya ngambek. Dia malah masuk ke dalam kamar."


"Ren, bantu bujuk Nara ya. Mbak dan Mas Herman usahakan bisa sampai sebelum acara berakhir!" pinta Kasih kepada adik kandungnya tersebut.

__ADS_1


"Iya, Mbak," jawab Reni.


Ketika ia hendak menutup panggilan, ia mendengar suara kakak iparnya sedang berbicara dengan kakakny.


"Kenapa, Nara, Ma?" terdengar Herman sedang bertanya kepada istrinya.


"Nara, ngambek, Mas. Dia malah masuk ke kamar sekarang."


"Anak itu pasti tidak akan mau keluar dari kamar kalau kita belum sampai rumah."


"Mas, jangan ngebut-ngebut!" terdengar suara Kasih meminta suaminya untuk tidak ngebut.


"Kita harus cepat tiba di rumah. Kasihan Nara. Ini adalah hari yang dia tungggu, tapi kita malah belum sampai rumah. Dia pasti sedih. Apalagi ini perayaan ulang tahun pertamanya."


Iya, selama ini Kinara memang tidak pernah merayakan ulang tahun secara besar-besaran karena kondisi keuangan kedua orang tuanya yang sedang sulit. Bisnisnya bangkrut dan keduanya berusaha bangkit agar kelak putri mereka tidak merasa kesusahan. Dan alhamdulillahnya setelah kerja keras Herman dan Kasih setahun ini kondisi keuangan mereka sudah kembali membaik seperti sebelumnya. Akhirnya keduanya sepakat untuk merayakan ulang tahun Kinara secara meriah. Mereka ingin meninggalkan kenangan yang indah untuk masa kecil putri semata wayang mereka tersebut sebelum ia menginjak usia remaja.


"Iya, Mas. Tapi, nggak usah ngebut juga bahaya!" Terdengar suara Kasih yang menegur suaminya.


Dan wajah Reni berubah pucat saat mendengar teriakan kakaknya.


"Awas, Mas!"


Teriakan itu menggema di telinga Reni. Bersamaan dengan itu sambungan telepon terputus.


"Mbak, Mbak Kasih. Hallo Mbak! Kalian tidak apa-apa kan? Mbak, Mbak!" Reni terus berusaha menghubungi nomor kakak dan kakak iparnya secara bergantian. Namun, dua nomor itu tidak bisa dihubungi.


"Mas, nomor telepon Mbak Kasih dan Mas Herman nggak bisa dihubungi," jawab Reni dengan wajah panik.


"Mungkin mereka lagi melewati daerah yang susah signal. Atau telepon mereka kehabisan daya," jawab Susanto.


"Tapi, Mas. Tadi itu aku dengar Mbak Kasih berteriak 'awas' lalu aku juga mendengar dentuman. Aku takut mereka kenapa-napa, Mas," jawab Reni.


"Ren, jangan berpikiran yang nggak-nggak. Aku yakin mereka baik-baik saja kok," Susanto berusaha menenangkan. "Ohya, Nara mana? Tuh teman-temannya udah pada nyariin?"


"Dia di kamarnya sedang ngambek karena Mbak Kasih dan Mas Herman terlambat datang," jawab Reni.


"Ya sudah, ayo bujuk dia buat tiup lilin dulu. Kasihan teman-temennya sudah nungguin lama!"


Reni menghela napasnya. Meski masih mengkhawatirkan kedaan kakak dan kakak iparnya, ia juga memiliki tanggung jawab untuk membujuk keponakannya.


"Baiklah. Ayo, Mas. Kita bujuk Nara!"


Reni dan Susanto pergi ke kamar Kinara. Keduanya mengetuk pintu kamar gadis kecil itu sambil terus membujuknya. Sayangnya Kinara yang keras kepala tetap tidak mau meniup lilin sebelum kedua orang tuanya pulang. Dan terpaksa Reni dan Susanto pun menyuruh teman-teman Kinara yang datang untuk menikmati hidangan tanpa tiupan lilin.


Semua tamu yang datang sudah kembali ke rumah masing-masing, kecuali Reno. Selain tempat tinggalnya yang memang tepat di sebelah rumah Kinara, dia belum mau pergi sebelum memberi ucapan selamat ulang tahun dan hadiah kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamu belum mau pulang?" tanya Susanto kepada Reno yang duduk di salah satu bangku kosong di ruang tamu. Anak itu menggeleng.


"Aku mau nungguin Nara. Mau ngasih kado buat Nara," jawab Reno.


"Naranya nggak akan keluar kamar sebelum mama papanya pulang. Sini titipkan sama Om saja. Soalnya kemungkinan mama-papanya Nara baru akan sampai di rumah dini hari nanti."


Reno melihat kado di tanganya dan melihat pintu kamar Kinara yang masih tertutup rapat. Ia pun tahu sahabatnya itu tidak akan keluar kamar sebelum hal yang dia inginkan terpenuhi.


"Baiklah. Ini, Om. Titip buat Nara ya." Reno menyerahkan kado di tangannya kepada Susanto.


Dan tepat sebelum Reno pergi, Reni mendapat telepon dari pihak kepolisian yang memberitahu bahwa mobil yang membawa Kasih dan Herman mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol. Kedua pengandara mobil itu meninggal di tempat dengan luka bakar yang serius karena mobil itu meledak.


Reni segera mengetuk pintu kamar keponakannya.


"Nara keluar! Nara cepet keluar!" teriak Reni sambil menggedor pintu kamar Kinara.


Ceklek.


Pintu dibuka.


"Ada apa Tante? Apa mama dan papa sudah sampai?" tanya Kinara dengan wajah bahagia karena mengira kedua orang tuanya sudah tiba di rumah.


"Puas kamu? Puas kamu melakukan ini?" sentak Reni.


Kinara tentu bingung dengan sikap tantenya tersebut.


"Ada apa, Tante? Kenapa Tante marah sama Nara?"


"Gara-gara kamu Mbak Kasih dan Herman mengalami kecelakaan. Ini semua gara-gara kamu!" jawab Reni sambil berteriak.


"Kecelakaan?" Kinara tentu syok mendengar kabar itu.


"Iya, mama dan papamu kecelakaan dan mereka meninggal dunia. Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kamu tidak merengek, mereka pasti tidak akan ngebut. Ini salah kamu Nara ini salah kamu!" Reni terus menunjuk-menunjuk Kinara dengan jari telunjuknya.


"Tidak! Itu tidak benar! Mama dan Papa tidak meninggal. Itu tidak benar! Itu tidak benar!" Kinara histeris sambil menutup kedua telinganya. "Tidakkk!"


***


Kinara terbangun dengan napas tersengal. Wajahnya pucat dan keringat membanjiri seluruh tubuh.


"Sayang. Kamu tidak apa-apa?" tanya Tama. Dia sedari tadi menunggui Kinara langsung bangun dan menghampiri istrinya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Tama, Kinara justru menangis.


"Mama, Papa, maafin Nara. Maafin, Nara!" lirihnya. Kinara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Sayang, itu diluar kendalimu. Itu bukan salahmu." Tama menarik Kinara ke dalam dekapan.


Kinara masih tidak menyahut. Dia menggeleng sambil terus terisak tanpa mengatakan sepatah kata pun.


__ADS_2