Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 78


__ADS_3

"Kina.... "


"Tuan, Nyonya pingsan." Potong seseorang dari ujung sana. Dan itu adalah suara Bik Surti.


"Bik Surti, tolong suruh Pak Joko bawa Nara ke rumah sakit!" suruh Tama. "Dan Bibik tolong jaga Taki dan Maki ya selama kami disini. Mungkin kami agak lama di sini."


"Lho Tuan sakit?"


"Bukan. Tapi, Om nya Kinara ditusuk oleh orang tak dikenal. Sekarang dia sedang dioperasi," jawab Tama.


Iya. Karena luka tusuknya cukup dalam. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengoperasi Susanto.


"Baik, Tuan. Anda jangan khawatir. Saya akan suruh Pak Joko membawa Nyonya ke rumah sakit. Urusan Den Taki dan Den Maki, Tuan tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga mereka," jawab Bik Surti.


"Terima kasih, Bik. Maaf ya karena aku selalu ngerepotin Bibik," ucap Tama.


"Sama-sama, Tuan. Tidak masalah. Ohya, barusan Pak Joko dengan dibantu Pak Burhan sudah memindahkan tubuh Nyonya ke mobil. Pak Joko akan segera membawa Nyonya ke rumah sakit. Tuan Tama, tunggu saja mereka di depan rumah sakit," jawab Bik Surti sembari memberitahu.


"Ya sudah ya, Bik. Saya tutup dulu. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, Tuan," balas Bik Surti.


Setelah itu panggilan berakhir. Tama berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Sejahat apapun Susanto, dia tetap Om dari istrinya dan Tama benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Tama baru ingat kalau dia belum memberi tahu Tante Reni tentang keadaan Susanto sekarang. Tapi, sayangnya dia juga tidak memiliki kontak tante dari istrinya itu.


Tama menghela napasnya kasar. Menurut cerita dari securitynya, Susanto datang untuk meminta maaf. Security itu mengusir Susanto karena itu adalah perintah darinya sebelum dia berangkat ke perusahaan tadi.


"Kalau aku tahu akan begini. Aku tidak akan memberikan perintah itu," sesal Tama. Dia kemudian melihat lampu yang masih menyala di depan ruang operasi dan berarlih melihat ke arah jam tangannya. Perjalanan dari rumah menuju ke rumah sakit paling cepat akan memakan waktu sekitar 20 menitan. Itu artinya 10 menit lagi istrinya akan tiba di rumah sakit, karena sudah 10 menit berlalu sejak ia mengakhiri panggilannya.


Tama memilih untuk menunggu kedatangan istrinya di depan rumah sakit karena sepertinya operasi Om Susanto masih membutuhkan waktu yang lebih lama. Terlebih mereka sempat kekurangan kantong darah. Untungnya persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah Susanto di rumah sakit cabang masih ada. Sehingga kemungkinan besar nyawa dari Om istrinya itu pasti akan bisa diselamatkan. Tama juga sudah mendapat kabar dari salah satu security di rumahnya bahwa ia berhasil mengamankan cctv yang ada di sekitar area halte dan sudah menyerahkannya ke pihak yang berwajib. Tama berharap pelaku penusukan om-nya itu segera tertangkap dan diberi hukuman setimpal.


Tidak lama mobil yang dibawa oleh Pak Joko muncul. Buru-buru Tama menghampiri.


"Maaf ya, Pak Joko. Saya jadi merepotkan kalian semua," ucap Tama.


"Tidak masalah, Tuan. Ini kan sudah bagian dari pekerjaan saya," jawab Pak Joko sambil membuka pintu belakang mobil.

__ADS_1


Tama segera membopong tubuh istrinya dan membawanya ke ruang IGD. Sementara itu dia menyuruh Pak Joko untuk berjaga di depan ruang operasi dan menyuruhnya mengabarinya saat operasi itu selesai.


Tidak berselang lama seorang dokter keluar dari ruang IGD.


"Bagaimana, Dok, dengan keadaan istriku?" tanya Tama.


"Pak Tama, istri Anda hanya syok. Dia tidak apa-apa. Tapi, kami punya kabar baik untuk Anda. Sepertinta saat ini istri Anda sedang hamil. Nanti saya akan suruh Dokter obgyn untuk memastikannya," jelas Sang Dokter.


"Hamil?"


"Iya, Pak Tama," jawab Dokter tersebut. "Tapi, seperti yang saya bilang tadi. Untuk memastikannya Dokter Obgyn yang akan memeriksanya."


"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Tama.


Itu adalah berita yang sungguh luar biasa. Tama sungguh sangat bahagia mendengarnya. Saat ini Kinara sedang hamil anak mereka. Taki dan Maki akan segera memiliki adik.


"Ohya Tuan Tama, sebentar lagi kami akan memindahkan istri Anda ke ruang perawatan. Nanti Dokter obgyn akan memeriksanya disana. Setidaknya biarkan istri Anda beristirahat semalam di sini." Dokter itu memberitahu.


"Iya, Dok. Apapun yang terbaik menurut Dokter lakukan saja," jawab Tama.


Karena hari sudah menjelang malam, sebenarnya semua dokter spesialis sudah pulag ke rumah masing-masing hanya menyisakan beberapa dokter jaga. Tetapi, karena yang membutuhkan penanganan adalah menantu dari Sang Pemilik Rumah Sakit, tentu siapa pun tak berani menolak. Termasuk Dokter Obgyn yang dimaksud. Dokter itu datang dengan terburu-buru saat dikabari bahwa istri dari Tama Wijaya membutuhkan bantuannya.


Berdasarkan pemeriksaan sementara yang dilakukan oleh Dokter obgyn. Usia kandungan Kinara baru menginjak 3 minggu.


"Keadaan istri Anda cukup baik. Seperti yang dikatakan oleh dokter di IGD tadi, istri Anda pingsan karena shok. Dan alhamdulillah kandungannya juga dalam kondisi baik. Tapi, untuk lebih memastikannya kita bisa lakukan USG," ucap Dokter Obgyn tersebut. Dari name tag yang terpasang di jubah putih khusus dokter itu nama dokter itu adalah Nilam. Dokter Nilam meresepkan beberapa vitamin untuk menantu dari pemilik rumah sakit tersebut.


"Ini, Pak Tama resepnya. Silakan ditebus!" Dokter Nilam memberikan kertas resep di tangannya kepada Tama.


"Terima kasih, Dok," ucap Tama. "Maaf karena saya mengganggu waktu istirahat Anda."


"Tidak apa-apa, Pak Tama. Itu sudah menjadi tugas saya," jawab Dokter Nilam. "Kalau begitu saya permisi ya, Pak."


Dokter Nilam keluar dari ruang rawat inap Kinara.


"Dimana ini?" tanya Kinara saat ia sudah membuka mata.

__ADS_1


"Kamu di rumah sakit, Sayang," jawab Tama yang sedari tadi menggenggam tangan istrinya.


Kinara mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya jatuh tak sadarkan diri.


"Mas, bagaimana keadaan Om Susanto?" tanya Kinara. Dia ingat sebelum pingsan, suaminya memberi kabar bahwa Omnya itu ditusuk oleh orang tak dikenal.


"Dia masih di ruang operasi. Aku sudah menyuruh Pak Joko berjaga di sana. Dia akan mengabari kita begitu operasinya selesai," jawab Tama.


"Lalu Tante Reni?"


"Tadinya aku mau menghubunginya, tapi aku lupa kalau aku nggak punya nomor telepon tantemu itu," jawab Tama.


"Kalau begitu biar aku saja menelpon Tante Reni." Kinara meminjam ponsel milik suaminya. Karena dia sempat pingsan tadi, ponselnya pasti tertinggal di rumah.


Kinara mengetik beberapa angka di layar ponsel milik suaminya itu. Tidak lama panggilan itu tersambung.


"Assalammualaikum, Tante. Ini Nara," ucap Nara begitu Sang Tante menjawab panggilannya.


"Nara! Apa Om mu sudah ke sana? Maaf ya, Nara karena Om mu tadi sudah meminta uang sama suamimu. Tapi, Tante sudah nyuruh dia ngembaliin uang ke rumah kalian kok. Sekarang dia ada di sana kan?" cerocos Tante Reni dari ujung sana.


"Itu Tante, Om Susanto sekarang ada di.... "


Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya, Pak Joko datang ke ruang rawatnya. Sambil berkata, "Pak Tama, Tuan Susanto... Tuan Susanto.... "


"Ada apa dengan Om Susanto? Kenapa Pak Joko sampai harus ke sini?" tanya Tama.


"Itu Tuan... anu.... "


"Nara, ada apa dengan suamiku? Katakan Nara apa yang terjadi sama dia!" Suara Tante Reni terdengar panik.


Nara melihat ke arah suami. Kemudian beralih menatap Pak Joko yang masih berdiri di depan pintu dengan napas tersengal. Dia juga khawatir dengan keadaan Om nya tersebut.


"Nara! Katakan! Om mu kenapa?" kembali Tante Reni berteriak dari ujung sana.


Kinara bingung. Dia sendiri belum mengetahui keadaan Om Susanto saat ini.

__ADS_1


...****************...


NB: Gaes, aku mohon bantuannya ya. Nanti pas aku up bab ke 80, kalian langsung baca. Dan baca juga bab-bab yang sekiranya tertinggal. Plis! Terima kasih.


__ADS_2