Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 46


__ADS_3

Reni menyeret Mirna untuk pergi dari rumahnya.


"Pergi kamu dari sini!" usir Reni. Dia menghempaskan tubuh pengasuh Taki dan Maki itu ke tanah dan membuat tubuh Mirna terjerambab. Mereka memang menginginkan uang dari Kinara, tapi bekerjasama menghancurkan rumah tangga keponakanya tentu tidak mereka inginkan. "Kamu kira kami orang yang gampang kamu bodohi? Hei denger ya... sampai kapanpun kami tidak akan mau menghancurkan rumah tangga keponakan kami, apalagi demi kamu. Enak saja! Kamu yang berubah derajat dari pengasuh menjadi nyonya rumah, derajat kami masih gini-gini aja. Mending sekarang lah seenggaknya kami tetep bisa pamer ke tetangga kalau suami keponakan kami adalah anak dari Rangga Wijaya, pemilik perusahaan Wijaya Grup yang cabangnya dimana-mana. Sudah sana pergi kamu dari sini!" cerocos Reni tanpa memberi jeda pada kalimatnya.


Mirna bangun dari posisinya. Tidak lupa ia menepuk-nepuk roknya yang kotor akibat ulah Reni barusan. Dia berusaha untuk tidak terpancing emosi karena bagaimanapun ia masih membutuhkan om dan tante dari Kinara itu untuk dijadikan sekutu. Emosi yang sebenarnya sudah berada di ubun-ubun terpaksa ia tahan demi tujuan yang lebih besar.


"Hei, kalian berdua!" panggil Mirna lagi. "Coba kalian pikirkan lagi! Buat apa bisa pamer kalau kalian nggak nikmatin uangnya? Percuma kan? Mending kerjasama sama saya, saya jamin kalian nggak akan pernah kehabisan uang." Mirna kembali mengeluarkan bajuk rayunya.

__ADS_1


"Ren, omongan dia ada benarnya kali. Buat apa kita punya keponakan kaya, tapi nggak menikmati duitnya? Udah, kita kerja sama sama dia aja," bisik Susanto sambil mengguncang lengan istrinya. Laki-laki pemalas yang memiliki mimpi jadi orang kaya itu mulai termakan omongan Mirna.


"Mas, kamu jangan begok ya! Kamu pikir si Tama bakalan mau nikah sama dia misal pisah dari Nara? Nggak akan!"


"Kenapa kamu seyakin itu, Ren? Siapa tahu dia berhasil merayu si Tama dan menikah dengan bos pelit itu."


"Iya, ya... kalau Tama tertarik sama tuh cewek udah dari dulu si duda itu nikahin dia," sahut Susanto yang akhirnya sependapat dengan istrinya.

__ADS_1


"Sudah sana pergi! Jangan kesini lagi karena sampai kapanpun kami nggak akan sudi kamu manfaatkan!" usir Reni sambil berkecak pinggang.


"Aku tahu kalian lagi butuh duitkan buat bayar kontrakan rumah ini? Aku bisa kasih itu sekarang sebagai DP asal kalian mau bekerja sama denganku." Mirna pantang menyerah. Dia masih berusaha agar pasangan suami istri mata duitan tersebut menerima tawaranya.


Mendengar kata uang kontrakan rumah, tentu saja membuat Reni dan Susanto dilanda kegamangan. Saat ini mereka memang butuh itu setidaknya untuk membayar kontrakan bulan ini.


"Aku bisa kasih kalian 5 juta sekarang juga kalau kalian mau." Mirna kembali membujuk apalagi saat ini raut wajah Reni dan Susanto sudah mulai terlihat bimbang. "Bagaimana? Mau bekerja sama denganku?"

__ADS_1


Reni dan Susanto masih diam, keduanya saling melempar pandangan memikirkan keputusan apa yang akan mereka ambil. Haruskah menerima tawaran Mirna dan menerima dp 5 juta tersebut? Atau kekeh pada pendirian, meski saat ini mereka belum bisa mendapatkan uang dari Kinara lagi?


__ADS_2