
Suasana tegang menyelimuti ruang tamu rumah Tama malam ini. Dua wanita cantik yang sudah tak lagi muda itu menatap Tama, Kinara, dan Mirna bergantian. Tatapan dingin dari keduanya membuat semua yang ada disana merasa tidak nyaman, kecuali Tama. Anak pertama Rangga Wijaya itu malah duduk santai dengan kaki yang ditumpuk.
"Sebenarnya apa sih yang mau Mommy dan Mama Dewi bicarakan sama kami?" tanya Tama kepada ibu dan mantan mertuanya.
"Sudah kamu diam dulu! Mommy mau ngomong sama dia!" seru Bintang sambil menunjuk Mirna dengan dagunya.
"Baiklah. Tama akan diam dan tidak akan ikut campur selama itu bukan urusanku," jawab Tama. Dia memilih diam sambil menunggu hal yang ingin dua wanita itu katakan kepada Mirna.
"Mirna, apa maksud kamu mengirim video tentang Kinara dan keluarganya kepada saya dan Dewi?" tanya Bintang sambil memperlihatkan video yang mantan pengasuh itu kirimkan. Wajah ayu nan tegas itu menatap lekat Mirna.
"Saya... saya tidak ada maksud apa-apa Nyonya Besar. Saya cuma ingin memperlihatakan wajah asli menantu Anda," jelas Mirna. Dia melirik Kinara tajam.
"Maksud kamu berkata begitu tentang menantu saya apa ya?"
"Begini Nyonya. Sebelumnya saya minta maaf karena terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Pak Tama. Hanya saja rasanya saya tidak ikhlas kalau wanita yang akhirnya menjadi ibu sambung Taki dan Maki itu tidak tulus menyayangi mereka. Dia mau menjadi ibu sambung si kembar hanya karena uang dan bukan karena dia benar-benar sayang sama mereka," jawab Mirna panjang kali lebar.
"Menurutmu begitu?" tanya Bintang lagi.
"Iya, Nyonya."
Kini Bintang beralih menatap Kinara. Istri dari Tama itu terlihat gelisah. "Apa semua yang Mirna katakan barusan itu benar?" tanyanya kepada sang menantu.
Kinara memejamkan matanya kemudian mengangguk. "Maaf, Mommy. Memang itulah alasan awal aku menerima tawaran Pak Tama. Waktu itu aku cuma berpikir kalau itu adalah solusi terbaik dari masalahku. Aku tidak pernah berpikir bahwa alasan awal itu akan menjadi masalah sekarang. Tapi, Mom. Setelah menikah dan mengenal Taki dan Maki, aku benar-benar jatuh sama mereka dan sayang sama mereka," jawab Kinara.
"Heleh! Alasan saja itu Nyonya. Dia berkata begitu karena sudah ketahuan saja kalau dia tuh sebenarnya nggak tulus sama mereka apalagi sama Pak Tama. Dasar munafik!" maki Mirna.
"Dew, kamu sudah dengarkan jawaban dari Mirna dan menantuku? Kamu bisa nilai sendiri sekarang!" Bintang berbicara dengan Dewi.
Dewi menatap Kinara lekat. Setelah itu dia hanya menghembuskan napasnya. "Ternyata kamu benar, Bi. Dia tidak bisa berbohong," balas Dewi.
Entah apa yang dibicarakan oleh dua wanita itu sebelumnya. Namun sepertinya mereka sudah membahas tentang Kinara sebelum tiba di rumah ini.
"Sekarang, apa kamu masih beranggapan bahwa kasih sayang dia buat si kembar itu hanya sekedar modus bukan tulus?" tanya Bintang lagi kepada Dewi.
"Aku sudah pernah melihatnya di rumah sakit waktu Taki dan Maki sakit. Darisana aku bisa melihat semuanya," jawab Dewi lagi. "Lagian perasaan anak kecil itu jujur. Dia tidak mungkin akan menyukai menantumu sebegitunya, jika kasih sayang itu cuma pencitraan."
Mirna yang mendengar pembicaraan dua nyonya besarnya itu tampak bingung sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kinara. Dia tidak mengerti dengan hal yang dibahas oleh mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya." Mirna menginterupsi pembicaraan dua nyonya besar dihadapanya.
"Iya, Mir. Ada apa?" tanya Bintang.
"Saya cuma mau tanya, kira-kira kapan ya kalian akan mengusir Kinara dari rumah ini? Dan apa saya sudah bisa kembali bekerja di rumah ini? Kalau boleh malam ini juga izinkan saya tinggal di rumah ini," cerocos Mirna.
Bintang dan Dewi saling melemparkan pandangan.
"Siapa yang mau mengusir Kinara dari rumah ini?" jawab Bintang.
"Terus?" tanya Mirna bingung.
"Tidak ada yang akan mengusir Kinara dari rumah ini. Memang kenapa kami harus mengusirnya? Terus siapa yang bilang kalau kamu masih akan dipekerjakan disini? Hah?" balas Bintang.
"Lho bukanya Nyonya Bintang dan Nyonya Dewi nyuruh saya datang karena menginginkan saya untuk menjadi pengasuh Taki dan Maki lagi?" tanya Mirna.
"Mirna. Asal kamu tahu saja ya. Tanpa kamu mengirimkan video tentang Kinara dan keluarganya pun saya sudah tahu kalau awal mereka menikah karena sebuah kesepakatan. Jadi, nggak usah repot-repot mempengaruhiku untuk membenci apalagi mengusir Kinara," jawab Bintang dengan tegas.
"Terus kenapa kalian menyuruh saya datang ke sini?" tanya Mirna lagi.
"Tapi, Nyonya.... "
"Supir sudah menunggumu di luar. Berangkat sekarang agar sebelum subuh kamu sudah tiba di kampung halaman," potong Bintang. Tak lupa Bintang juga menitipkan amplop untuk anak Mirna.
Meski tidak rela untuk pulang kampung, terpaksa Mirna menurut. Dengan langkah gontai dia keluar dari rumah Tama. Harapan untuk menjadi pengasuh Taki dan Maki lagi pun sudah tidak ada. Apalagi untuk menjadi istrinya Tama, makin tertutup tanpa celah.
"Maaf, Mom. Maksud perkataan Mommy tadi apa ya? Apa Mommy sejak awal benar-benar sudah tahu alasan aku menikah dengan Pak Tama?" Kinara butuh penjelasan. Dari tadi dia hanya bisa menyimak dan mendengarkan perkataan mertuanya tersebut dengan Dewi dan Mirna.
"Bukan hanya aku, tapi kami semua sudah tahu," jawab Bintang.
"Dan kalian masih bisa menerimaku?" tanya Kinara tidak percaya.
"Karena kami percaya kamu adalah wanita yang paling cocok untuk menjadi ibu sambung Taki dan Maki," jawab Bintang sambil mengulas senyum.
Kinara sungguh terharu. Bahkan meski sudah tahu semuanya, keluarga dari Tama itu masih mau menerima dan mempercayainya.
"Duduk sini!" Bintang menepuk-nepuk sofa di sebelahnya dan menyuruh Kinara duduk di sana.
__ADS_1
Kinara menurut, dia pun duduk di sebelah mertuanya tersebut. Dia semakin terharu kala Bintang menariknya ke dalam dekapan. "Kamu adalah menantu pilihan cucuku dan aku yakin pilihan mereka tak pernah salah."
"Terima kasih, terima kasih karena sudah mempercayaiku. Terima kasih, Mom," ucap Kinara.
Bintang melonggarkan pelukan dan menghapus buliran bening di kedua pipi menantunya. "Jangan menangis! Mommy sayang sama kamu," ucapnya.
Kinara mengangguk. Namun, tetap saja air mata itu tidak mau berhenti mengalir.
"Dew, katanya ada hal yang ingin kamu katakan pada Tama?" Bintang berbicara dengan Dewi.
"Kita berbicara di ruang kerja kamu saja, Tam!" ajak Dewi. Mantan mertua dari Tama itu berjalan lebih dulu menuju ke ruang kerja Tama yang ada di lantai dua. Tama mengekori dari belakang.
Saat ini Tama dan Dewi sudah berada di ruang kerja Tama. Untuk beberapa saat keduanya masih sama-sama diam.
"Kamu masih ingat dengan janjimu sama mama kan?" Dewi membuka pembicaraan.
"Iya, Ma. Aku ingat."
"Katakan apa itu!"
"Aku tidak boleh jatuh cinta kepada wanita manapun sebelum mama mengizinkan," jawab Tama.
"Apa kamu masih memegang janji itu?" tanya Dewi lagi.
"Aku sudah berusaha untuk tidak jatuh cinta, tapi... maaf, aku tidak bisa mengendalikan hatiku." Meski dihadapan Kinara, Tama belum mau mengakui perasaannya. Namun, dia tidak segan mengakui itu dihadapan mantan mertuanya.
Dewi menghela napas panjangnya. "Mau bagaimana lagi? Hati memang tidak bisa dikendalikan bahkan oleh pemilik hati itu sendiri," ujarnya.
"Maafkan Tama, Ma," ucap Tama sambik menunduk.
"Mulai sekarang tunjukan pada istrimu itu bahwa kamu mencintai dia!" seru Dewi. Mendengar itu membuat Tama mengangkat kepalanya dan menatap Dewi untuk mamastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya, aku membebaskanmu dari semua janji. Mama sadar kematian Kiara adalah takdir dan itu bukan salah kamu. Kamu juga sama menderitanya seperti mama karena kehilangan Kiara. Seharusnya mama tidak terus menjeratmu dengan perasaan bersalah. Kamu juga berhak melanjutkan hidupmu, kamu berhak berbahagia. Kiara juga pasti akan sangat bahagia jika kamu bisa kembali bahagia. Maaf karena mama baru menyadari kesalahan mama itu sekarang," ucap Dewi panjang lebar. "Maafkan mama ya, Tama!"
Tama mengangguk. "Terima kasih, Ma. Terima kasih karena mama sudah mau mengerti. Sampai kapanpun tidak akan ada yang menggantikan posisi Kiara di hatiku. Kiara masih tetap di tempatnya, hanya saja Kinara juga memiliki tempat khusus di hatiku."
"Iya. Mama mengerti. Sekali lagi maafkan mama ya, Tama," ucap Dewi lagi. Dia memeluk Tama dan mengusap rambut mantan menantunya itu seperti anaknya sendiri. "Berbahagialah mulai sekarang!"
__ADS_1