
Keesokan paginya....
Hari ini Kinara sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dia ingin bersikap layaknya seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Iya, pagi ini Kinara membuat sarapan untuk semua anggota keluarga. Dengan dibantu oleh Bik Sumi, Kinara mulai menyiapkan menu apa saja yang disukai oleh penghuni tempat tinggalnya sekarang terutama kedua bocah menggemaskan yang membuatnya jatuh cinta.
Dan dari info yang diberikan Bik Sumi pula Kinara tahu jika kesukaan anak itu adalah pan cake pisang dan coklat. Kinara pun segera membuat itu.
"Eh... Bik Sumi, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kinara disela-sela kesibukanya membuat adonan pan cake.
"Silakan, Nyonya!" Bik Sumi mempersilakan.
"Kalau makanan kesukaan Pak Tama apa? A... maksudku makanan kesukaan Mas Tama?" tanya Kinara. Hampir saja dia keceplosan memanggil suaminya dengan sebutan Pak. Bagaimanapun orang akan memandangnya aneh jika memanggil suaminya sendiri dengan sebutan Pak.
"Saya tidak tahu persis makanan kesukaan Pak Tama, hanya saja dia paling tidak suka dengan apa pun yang terbuat dari coklat."
"Kenapa? Apa dia punya alergi terhadap coklat?" tanya Kinara lagi.
__ADS_1
Bik Sumi menggeleng.
"Terus?"
"Itu adalah makanan kesukaan almarhumah Nyonya Kiara. Dan Tuan Tama tidak mau memakanya karena hal tersebut bisa mengingatkan dirinya tentang istri beliau," terang Bik Sumi. Wanita yang mulai memasuki usia lima puluh tahunan itu menjelaskan.
"Bik kalau boleh tahu seperti apa sih sosok almarhum istri Mas Tama?" Kinara jadi semakin penasaran dengan sosok istri dari suaminya yang sudah meninggal itu.
"Nyonya Kiara adalah sosok yang lembut, murah senyum, dan pandai memasak. Yang bibik tahu almarhum nyonya dan Tuan Tama adalah teman sejak kecil. Katanya dulu mereka sering bertengkar, meski begitu bagi Tuan Tama, Nyonya Kiara adalah tujuan hidupnya, Tuan Tama bahkan sudah mencintai Nyonya Kiara sejak kecil. Bibik mendengar ini dari Mbok Jum saat bibik pertama kali datang ke keluarga Wijaya," jelas Bik Sumi lagi.
Iya, mendadak Kinara teringat dengan laki-laki yang pernah singgah di hatinya Reno Abraham. Mereka bertemu tanpa sengaja ketika mereka kelas 5 SD dan mereka berteman hingga SMP. Ketika SMA, Reno pindah ke luar negeri karena orang tuanya pindah ke luar negeri sejak saat itu mereka tidak lagi saling kontak.
"Nyonya itu pan cakenya sudah matang." Bik Sumi berteriak karena melihat nyonya itu tiba-tiba diam.
Kinara tersentak dari lamunanya mendengar panggilan Bik Sumi.
__ADS_1
"Ah, maaf, Bik, tiba-tiba aku ingat sesuatu." Kinara pun segera mengangkat pan cake yang sudah matang dari teflon dan memindahkanya ke piring.
"Kira-kira kabar Reno sekarang gimana ya?" Kinara membatin. Kinara memukul kepalanya sendiri agar membuat dirinya sadar tentang statusnya sekarang.
"Ada apa, Nya?" tanya Bik Sumi. Dia bingung melihat tingkah aneh sang majikan.
"Tidak apa-apa, Bik. Kita lanjutkan saja sebelum anak-anak bangun," jawab Kinara.
Keduanya kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Akhirnya semua menu sarapan sudah tersaji rapi di atas meja. Kinara tersenyum melihat pekerjaan dapurnya kali ini. Selain semua masakan yang sudah tertata rapi diatas meja, Kinara juga sudah menyiapkan bekal untuk dibawa kedua putranya ke sekolah.
"Bik, Bibik tolong panggilin anak-anak buat sarapan. Aku mau bangunin Mas Tama." Setelah mengatakan hal itu, Kinara segera naik ke lantai atas untuk membangunkan suaminya.
Saat melihat Kinara sudah naik ke lantai atas dan Bik Sumi sibuk menyiapkan piring, diam-diam seseorang mencampur sesuatu ke dalam bekal yang akan dibawa oleh si kembar nanti. Orang itu sudah melebarkan senyumnya kala membayangkan Tama marah dengan istri barunya itu.
__ADS_1
"Aku pasti akan membuat Pak Tama membencimu Kinara. Kamu tidak layak menjadi ibu sambung mereka, aku lah yang oantas. Lihat saja nanti!" Mirna menyeringai.