
Tama tersenyum setelah melihat foto yang Kinarakan. Foto nasi goreng yang katanya estetik hasil karya dirinya dan kedua putra kembar mereka. Tapi, bukan itu yang membuat Tama terus mengulas senyum di bibir, melainkan pesan yang dikirim Kinara bersama dengan foto itu. Sebuah pesan yang menyuruhnya untuk tidak genit dengan banyak emot marah.
"Dasar cewek aneh!" gumam Tama.
Sikap Kinara yang ceria dan penuh percaya diri di tengah himpitan masalah, selalu membuat Tama kagum bahkan sejak dipertemuan pertamanya.
Iya, dia pernah melihat Kinara menangis diam-diam sesaat sebelum mengikuti interview. Entah alasan apa yang membuat gadis itu diam-diam menangis. Namun, anehnya saat masuk ke ruang interview wajahnya langsung berseri seolah tidak pernah terjadi hal apa-apapun terhadapnya barusan. Dia bahkan tampil paling percaya diri diantara peserta interview yang lain dan hal itulah yang langsung membuatnya diterima.
Pernah sekali, Tama juga memergoki gadis itu berbicara seorang diri, mengeluarkan unek-uneknya setelah menerima telepon yang kemungkinan dari tantenya karena tanpa sengaja Tama mendengar ia memanggil Tante. Tama yakin masalah yang dihadapi gadis itu tidak jauh-jauh dari seputar uang. Dan beberapa hari kemudian semuanya terbukti. Tama mendengar kalau Kinara tinggal di mes yang ada di belakang perusahaan. Entah apa alasanya, tidak ada yang tahu karena Kinara jarang membicarakan hal pribadi kepada siapa pun.
Namun, berbeda dengan Tama. Sejak kedua putra kembarnya menginginkan Kinara menjadi ibu mereka, secara diam-diam dia mencari tahu segala hal tentang kehidupan pribadi dari sekretaris pribadinya itu. Tentu hal itu bukan perkara sulit saat uang mulai berbicara. Dari informasi yang didapatkan dari orang suruhanya, Tama akhirnya tahu bahwa Kinara baru saja kehilangan tempat tinggal karena ulah om dan tantenya. Dari sana juga terungkap fakta lain tentang kehidupan Kinara, ternyata gadis itu sudah dijadikan sapi perah oleh om dan tantenya bahkan sejak usia gadis itu masih remaja.
Tadinya Tama hanya ingin menggali infotmasi pribadi tentang Kinara untuk membuat gadis itu mau menerima tawaranya untuk menjadi ibu sambung bagi kedua putra kembarnya. Namun, semakin dia mengetahui tentang Kinara, semakin dia ingin melindungi gadis itu. Hanya saja janji yang sudah ia ikrarkan kepada mantan mertua membuat Tama tetap berusaha bersikap dingin meski mereka sudah menikah.
Tama menarik napas panjang kemudian menghembuskanya. Sudah dua jam lebih dia berada di atas roof top salah satu gedung di Jakarta. Setelah makan malam dengan Pak Mahdi, Tama sengaja tidak langsung pulang. Dia ingin membuat Kinara yakin bahwa yang ia ucapkan sebelum berangkat makan malam tadi memang nyata.
__ADS_1
Ting! Sebuah notifikasi pesan dari aplikasi percakapan berwarna hijau muncul. Kinara mengirimi Tama beberapa pesan. Tama sengaja membaca pesan-pesan itu melalui balon notif tanpa membuka aplikasi.
[Kenapa belum pulang? Ini sudah jam 00.00 WIB]
[Bagaimana hasil karyaku dan anak-anak? Kerenkan?]
[Sebenarnya nasi goreng tadi tidak sekeren di foto karena rasanya keasinan untung Bik Sumi pandai memasak hingga akhirnya makanan itu bisa kami nikmati]
[Anak-anak juga terlihat begitu senang. Kapan-kapan kita buat nasi goreng itu lagi berempat ya]
[Kapan kamu pulang]
[Kenapa gak balas?]
[Tama Wijya!]
__ADS_1
[Bapak Tama Wijaya]
[Kamu tidak serius soal ingin mencoba wanita-wanita itu kan?]
[Dari pada mencoba dengan mereka, kenapa kamu tidak mencoba denganku]
Rentetan pesan itu mampu membuat Tama tersenyum, namun belum membuatnya tertarik untuk membalas.
Beberapa menit kemudian, Kinara mengirim sebuah gambar yang membuat Tama langsung menyembur minumanya.
"Apa-apaan dia?" gumam Tama saat melihat pesan gambar yang Kinara kirim.
...****************...
Hayo gambar apa yang Kinara kirim? Jangan lupa, like, komen, vote, dan giftnya ya. Terima kasih.
__ADS_1