Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 38


__ADS_3

"Ma, Mama mau ngapain papa?"


Pertanyaan Maki tersebut sontak membuat mata Kinara membulat. Dia langsung mundur dan membetulkan posisinya.


"Kenapa aku bisa lupa kalau ini masih di kamar anak-anak," batin Kinara. Rasanya malu sekali berperilaku seperti itu di depan kedua anak sambungnya.


"E... tadi... tadi.... " Belum selesai Kinara menjawab matanya kembali membulat saat mendengar celutukan dari Taki.


"Masa kamu nggak tahu sih, barusan Mama tuh mau cium Papa kayak drakor yang sering ditonton sama Mbak Mirna."


Kinara menatap Tama begitu juga sebaliknya. Bagaimana bisa Mirna nonton drama seperti itu di depan anak-anak. Padahal sebagai orang dewasa apalagi yang bertugas mengasuh Taki dan Maki dia harus bisa menjaga tontonanya di depan mereka.


Kinara dan Tama langsung mendekati kedua putranya dengan raut wajah panik.


"Selain drama seperti itu apa saja yang Mbak Mirna tonton?" Kinara memberikan pertanyaan.


"Sinetron, telenovela, serial bollywood dan juga.... " jawab Maki sambil mengingat-ngingat kembali apa saja yang menjadi tontonan kedua anak dari suaminya tersebut.


"Dan juga apa?" tanya Kinara penasaran.


"Sepertinya hanya itu saja sih," jawab Maki.


"Apa... apa hanya adegan itu yang pernah kalian tonton?" tanya Kinara lagi. Dia harus memastikan bahwa kedua anak sambungnya hanya melihat adegan ciuman dan tidak melihat adegan lain yang belum waktunya menjadi tontonan mereka.


Taki dan Maki saling tatap. "Ada adegan berkelahi dan kebut-kebutan," jawab Taki.


Jawaban Taki sedikit membuat Kinara sedikit lega. Setidaknya mereka tidak menonton adegan dewasa lain yang belum pantas keduanya tonton. Tetapi dia tetap harus menjelaskan semua hal yang sudah kedua anak itu lihat agar mereka tidak serta merta meniru semua adegan-adegan tersebut.


Kinara mulai menjelaskan bahwa mereka tidak boleh asal berkelahi sama orang apalagi sok jagoan. Mereka boleh berkelahi hanya untuk membela diri. Dan soal kebut-kebutan Kinara juga menjelaskan dampak negatif dari kebutan-kebutan yang dilakukan di jalan raya. Karena tidak hanya mengganggu dan membahayakan pengguna jalan lain, juga bisa membahayakan nyawa sendiri. Dan beruntungnya kedua bocah itu bisa menerima penjalasan yang Kinara jabarkan. Namun, Kinara sedikit kebingungan ketika harus menjelaskan adegan kissing yang mereka lihat.


"E... soal itu... e.... " Taki dan Maki menunggu penjelasan yang akan Kinara sampaikan dengan serius.


"Kalian hanya boleh melakukan itu pada pasangan sah kalian, bukan dengan yang lain. Seperti papa yang hanya boleh mencium mama. Begitu juga sebaliknya, mama juga hanya boleh mencium papa. Dan hal itu dilakukan sebagai ungkapan kalau papa dan mama saling mencintai. Mengerti?" justru Tama yang menjawab.


Taki dan Maki mengangguk paham.


"Pa," panggil Taki.


"Iya. Ada apa?" jawab Tama seraya bertanya.

__ADS_1


"Apa Papa mencintai mama?" tanya Taki.


Tama tidak segera menjawab. Dia hanya melihat kerah Kinara demikian juga sebaliknya.


"Kenapa Papa tidak menjawab?" Maki pun ikut bertanya.


"E... tentu saja papa mencintai mama, kalau papa nggak mencintai mama mana mungkin papa menikah dengan mama," jawab Tama.


"Tapi... Mbak Mirna pernah bilang kalau papa nikahin mama hanya demi ngebahagiain kami. Mbak Mirna juga bilang kalau sebenarnya papa nggak cinta sama mama. Apa itu benar, Pa?" tanya Taki lagi.


Tama sedikit menyesal karena masih memberi kesempatan Mirna untuk bekerja di sini. Padahal wanita itu bisa saja meracuni otak kedua putra kembarnya. Tama memang menikahi Kinara demi kebahagiaan kedua putranya, namun seharusnya Mirna tidak perlu memberitahu hal tersebut kepada mereka karena itu bukan ranahnya untuk ikut campur.


"Kenapa Papa tidak jawab? Apa semua yang Mbak Mirna katakan benar ya bahwa Papa terpaksa menikahi mama demi kami dan gara-gara itu hidup papa menderita?" tanya Maki dengan wajah sendunya. Kedua bocah kembar itu merasa bersalah karena sudah menginginkan Kinara menjadi mamanya tanpa memikirkan perasaan sang papa.


"Itu tidak benar sayang. Papa cinta kok sama mama," jawab Tama.


"Benarkah, Pa?" tanya Taki dan Maki penuh semangat. Mata keduanya juga tampak berbinar.


"Iya, tentu saja," jawab Tama sambil menatap Kinara.


"Aku tahu saat ini kamu berbohong, Mas. Tapi suatu hari nanti aku pasti akan membuat kebohongan itu menjadi nyata. Aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku," ucap Kinara dalam hati. Ia sudah membulatkan tekad utuk mengejar cinta laki-laki yang sudah menjadi suaminya tersebut.


"Tentu saja. Mama sangat, sangat, dan sangat mencintai papa kalian," jawab Kinara sambil menatap balik suaminya.


"Pa, kalau papa mencintai mama dan mama juga mencintai papa, kenapa Papa tidak mencium mama?" tanya Maki lagi.


"Papa... papa sering kok cium mama, tapi tidak di depan kalian. Iya kan, Nara?" Tama memberikan kode kepada Kinara untuk mengiyakan jawabanya.


"Benarkah, Mas? Perasaan selalu aku yang menciummu lebih dulu." Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kinara membuat Tama mendelik.


"Kali ini akan kubuat kamu menciumku lebih dulu, Mas," batin Kinara.


"Kamu pasti lupa Nara. Bukankah baru tadi pagi aku menciumu." Lagi. Tama memberikan kode agar Kinara mengiyakan. Dan bisa ditebak, Kinara justru berkata kebalikanya.


"Kenapa nggak kerasa ya?" Kinara berpura-pura berpikir. "Apa Mas cium aku waktu aku tidur?"


"Ah... iya, mungkin," jawab Tama.


"Kenapa Papa tidak cium mama sekarang saja, kan mama bilang dia lupa dan tidak terasa!" suruh Maki.

__ADS_1


"Kalian masih kecil, jadi belum boleh melihat hal seperti itu," Tama berusaha berkelit.


"Kami akan tutup mata, iyakan Maki?" sahut Taki. Maki mengangguk.


Kinara menatap Tama sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Haish, dasar!" gumam Tama.


"Ayo, Pa. Cium mama!" rengek Taki dan Maki.


Kinara tersenyum.


"Iya, akan papa lakukan. Tapi, beneran ya kalian tutup mata kalian."


"Siap, Pa," jawab Taki dan Maki.


Tama mulai berdiri tepat di depan Kinara. Dia mulai menarik pinggang wanita itu agar lebih mendekat ke arahnya. "Tutup mata kalian!" suruh Tama pada Taki dan Maki.


Kedua bocah itu pun menurut sambil cekikian.


"Awas ya jangan ngintip!" Tama memperingatkan.


"Iya, Pa." Taki dan Maki menutup kedua mata mereka.


"Jangan kamu pikir aku beneran akan menciummu. Kamu salah besar kalau kamu mengira aku akan melakukan itu," bisik Tama di telinga Kinara.


"Sudah," ujar Tama.


"Papa beneran sudah nyium mama?" tanya Taki.


"Tentu saja," jawab Tama. "Iya, kan?" Dia menatap Kinara sambil berpura-pura tersenyum ceria.


Kali ini, Kinara tidak mungkin menjawab tidak karena itu pasti terlihat aneh untuk kedua anaknya.


"Iya, sudah." Terpaksa Kinara mengiyakan.


"Apanya yang sudah?"


Suara yang terdengar tiba-tiba itu membuat Kinara terkejut dan hampir jatuh karena posisi berdirinya yang tidak seimbang apalagi mereka berdiri di dekat sofa kamar. Tangan Kinara refleks menarik baju Tama dan membuat keduanya jatuh bersamaan di atas sofa dengan posisi Tama menindih tubuh Kinara dengan bibir mereka yang saling menempel.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat orang yang baru bersuara tadi geram dengan kedua mata melotot tak percaya.


__ADS_2