Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 77


__ADS_3

Tak mau istrinya terus marah dan mengacuhkannya membuat Susanto akhirnya mendatangi rumah Tama untuk mengembalikan uang. Soal biaya rumah sakit Susanto akan meminjamnya secara langsung kepada Tama nanti. Untuk uang yang sudah ia belikan beberapa barang pun akan dia kembalikan. Atau jika Tama mau ia akan memberikan barang yang dibelinya menggunakan uang itu kepada suami dari keponakannya tersebut. Sayangnya ketika sampai di sana, Susanto tidak diizinkan untuk masuk. Jangankan ke dalam rumah, security bahkan melarangnya berdiri di balik pagar karena itu adalah perintah yang diberikan oleh Tama siang tadi. Apalagi saat ini Tama sedang tidak ada di rumah.


"Pak, saya mohon! Saya mohon izinkan saya masuk! Kali ini saya datang bukan untuk membuat onar. Saya ingin meminta maaf pada ponakan saya, saya mohon!" pinta Susanto memelas. Namun, hal itu tetap tidak membuat petugas yang menjaga rumah Tama itu mengubah keputusannya. Mereka tetap tak membiarkan Susanto berada di sekitar area rumah Tama. Susanto pun terpaksa menunggu keponakan iparnya di halte yang berada tidak jauh dari rumahnya. Apalagi langit mulau muram dan sepertinya akan turun hujan.


"Padahal aku berniat baik mau mengembalikan uang ini. Tapi, kenapa jalannya susah ya?" keluh Susanto. Dia menghela napas berat. "Mana mau hujan lagi."


Susanto menatap langit. Dan benar. Akhirnya akhirnya yang dikhawatirkan oleh Susanto terjadi juga. Hujan mulai turun dengan lebat. Beberapa pengguna jalan ada yang ikut berteduh di sana. Dan ada 3 orang diantaranya sepertinya berandalan atau preman. Terlihat dari penampilan mereka yang urakan dengan baju sobek-sobek dan tato di sekujur tubuh.


Beberapa orang yang sempat berteduh di halte tersebut bahkan memilih pergi dari sana meski hujan belum reda. Mereka sepertinya takut dengan ketiga orang tersebut.


Gleg! Susanto menelan ludahnya dengan bersusah payah. Ketakutan juga mulai terlihat di diri suami dari Reni itu kala-ketiga orang tadi menatapnya dengan tatapan mencurigakan. Susanto semakin mengeratkan pelukannya pada tas berisi uang yang dia bawa.


"Sepertinya itu isinya uang," celetuk salah satu dari mereka.


"Bu... bukan. Ini... ini bukan uang kok," jawab Susanto dengan terbata.


"Ohya?" Orang itu memiringkan kepala menatap Susanto dengan tatapan aneh. Dan itu tentu membuat Susanto ketakutan.


"Ya Tuhan. Saya tahu saya mahluk yang penuh dengan dosa. Dan mungkin dosaku tidak dapat dimaafkan, tapi saya mohon Tuhan tolong saya dari orang-orang jahat ini. Jangan sampai mereka mengambil uang yang harusnya saya kembalikan kepada Tama. Saya mohon Tuhan!" Susanto berdoa dalam hati. Menyampaikan permohonannya kepada Dzat Yang Maha Segalanya.


Salah satu dari mereka mulai berjalan mendekati Susanto. "Ayo berikan tas itu kepada kami!" suruh orang tersebut.


"Jangan! Tas ini bukan milik saya. Saya mau mengembalikannya pada yang punya," jawab Susanto. Dia semakin erat memeluk tas di tangannya.


"Heleh. Banyak Bacot lo! Udah rampas aja tas itu! Kalau dia macam-macam sikat saja!" suruh orang satunya lagi.


"Hei, Pak. Cepat berikan tas itu atau lo mau merasakan sayatan dari benda tajam ini?" Orang yang pertama mengeluarkan sebuah belati dari saku celana.


Tentu hal tersebut membuat Susanto ketakutan. Dia tidak mungkin melawan karena kalah jumlah. Dia sendirian sedangkan mereka bertiga, bawa senjata tajam pula.


"Saya mohon, jangan ambil tas ini! Beneran deh, tas ini bukan milik saya. Saya mau mengembalikannya," jawab Susanto. Dia berharap orang-orang jahat itu kasihan lantas melepaskannya.


"Udah, sikat aja!" Orang yang satu tadi memberi perintah. Akhirnya terjadi tarik menarik antara Susanto dan dua orang jahat tadi.

__ADS_1


"Jangan ambil tas ini!" Susanto berusaha keras mempertahankan tas berisi uang tersebut. "Tolong, tolong, tolong!" teriaknya.


"Alah, sepertinya lu lebih sayang tas itu dari pada nyawa lu ya? Oke, kalau begitu gue cabut nyawa lu dulu!" Orang yang tadi mengeluarkan belati itu mengayunkan bend tajam tersebut ke perut Susanto dan....


Jleb.


Susanto menatap perutnya yang mengeluarkan darah. Dengan sisa tenaga dia tetap berusaha mempertahankan tas itu.


"Ja... jangan... ambil tas i... tu. Jang... an!" ujar Susanto lirih.


Sayangnya Susanto tidak bisa mempertahankan tas tersebut. Dia jatuh dengan satu tangan memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


"Kem... bali... kan tas i... tu... ku mohon.... Tol... long... kem... ba... li... kan!" Susanto lalu tak sadarkan diri.


"Coba buka tas itu! Bener isinya duit nggak!" seru salah satu dari mereka.


"Beneran duit, Bro. Banyak lagi," jawab yang lain dengan wajah berbinar.


"Udah ayo tinggalkan dia. Sebelum warga datang!"


Kebetulan saat itu Tama melintas. Dia segera menepikan mobilnya saat melihat ada orang tergelak di halte.


"Pak, Pak, Bapak bangun, Pak! Anda tidak apa-apa kan, Pak! Pak!" Tama berusaha membangunkan orang yang tergelak dengan posisi tengkurap tersebut.


Karena tak kunjung bangun, ia pun membalikkan tubuh orang itu. Tama benar-benar terkejut saat tahu ternyata orang itu adalah Susanto. Dan lebih terkejut lagi saat melihat ada banyak darah.


"Om, Om, bangun, Om!" teriak Tama yang terlihat panik. Sejahat apapun Susanto, dia tetaplah paman dari istrinya.


Tama segera membopong tubuh Susanto masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Sambil berkendara ia menelpon securitynya untuk mengamankan cctv di area halte. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Susanto ditemukan dalam kondisi seperti itu. Tak lupa dia juga menghubungi polisi dan rumah sakit.


Begitu tiba di rumah sakit, Tama sudah disambut beberapa tenaga medis yang sudah siap siaga. Mereka mendekati Tama dengan mendorong brankar. Susanto segera dipindahkan dari mobil salah satu pemilik perusahaan Wijaya Grup itu ke atas brankar. Para tenaga medis itu segera melarikannya ke ruang IGD.


"Dok, tolong selamatkan nyawa Om saya!" pinta Tama kepada salah satu dokter yang menangani.

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan Tama. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik," jawab Dokter itu.


Dokter dan seluruh tenaga medis di rumah sakit tersebut tentu mengenal Tama karena dia adalah putra sulung dari Bintang Permata Putri, pemilik rumah sakit besar tersebut.


"Aku harus memberi tahu Nara soal ini," gumam Tama. Ia segera menghubungi nomor istrinya.


"Assalammualaikum, Mas. Kok belum pulang? Katanya cuma sebentar meetingnya? Awas ya kalau kamu ganjen sama sekretaris baru itu!" cerocos Kinara dari ujung sana.


"Sayang.... " Tama menjeda kalimatnya.


"Ada apa, Mas?"


"Om Susanto.... "


"Sudah, Mas. Jangan bicarakan dia ataupun Tante Reni. Aku tahu kalau tadi siang dia minta uang lagi kan sama kamu?"


"Darimana kamu tahu tentang itu?" tanya Tama pasalnya dia sengaja tidak memberitahu hal tersebut kepada Sang Istri.


"Kamu lupa, seluruh rekeningmu terhubung dengan nomor ponselku. Dan aku dapat notif pemberitahuan dari bank," jawab Kinara. "Maaf ya, Mas. Om dan Tanteku selalu saja memanfaatkanmu."


"Soal uang bukan masalah besar buatku. Tapi, Nara. Kamu harus tahu kalau saat ini Om Susanto.... "


"Aku tidak mau mendengar apa pun tentang dia dan Tante Reni. Jika mereka menganggapku keponakan harusnya mereka tidak memerasmu, Mas. Tapi, mereka malah.... "


"Om Susanto masuk rumah sakit, dia ditusuk orang yang tidak dikenal," potong Tama.


"Apa?!" pekik Kinara.


"Iya, Nara. Om Susanto saat ini ada di IGD rumah sakit milik mommy. Kamu datanglah kesini, minta antar sama Pak Joko. Titip kan si kembar pada Bik Surti. Oke."


Tidak ada sahutan dari ujung sana. "Sayang, kamu masih disana kan?"


Masih tidak ada jawaban dan itu membuat Tama khawatir.

__ADS_1


"Nara, kamu masih disanakan? Nara! Kinara Larasati kamu masih disana kan?" tanya Tama dengan suara keras. Dia cemas takut sesuati terjadi pada istrinya.


__ADS_2