Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 65


__ADS_3

Ciiittt!


Decitan rem terdengar saat Tama menginjak rem mobilnya ketika tiba di halaman parkir bandara. Tak ingin kehilangan wanita yang dicintai lagi membuat Tama bergegas masuk ke dalam bandara. Laki-laki yang memiliki wajah tegas dan sorot mata yang tajam itu menyapu setiap sudut bandara untuk mencari keberadaan Kinara. Tama akhirnya bisa bernapas lega saat melihat sosok itu sedang duduk di ruang tunggu bandara. Buru-buru ia menghampiri wanita yang sudah dinikahinya lebih dari sebulan tersebut.7


"Nara!" panggil Tama dengan napas ngos-ngosan.


Kinara tentu terkejut melihat keberadaan Tama di sana. Wanita berambut panjang itu melepas earphone yang menempel di telinga dan bangun dari tempat duduknya.


"Lho, Mas Tama. Kenapa kamu ada di si.... " Belum sempat Kinara menyelesaikan perkataannya, Tama sudah menarik tubuhnya ke dalam dekapan.


"Jangan pergi Nara! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon!" pintanya.


"Mas, aku.... "


Tama melonggarkan pelukan dan menatap kedua bola mata Kinara. "Aku tahu kamu kesal karena aku terus mengabaikan perasaanmu. Untuk itu aku minta maaf," ucapnya. Tangan Tama yang tadi memeluk tubuh Kinara beralih menggenggam kedua tangan wanita yang berstatus istrinya tersebut.


"Nara, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai lagi. Aku mohon Nara tetaplah disini, disisiku, bukan hanya demi Taki dan Maki. Tapi juga demi aku karena aku juga mencintaimu," aku Tama.


Kinara terperangah mendengar pengakuan suaminya tersebut.


"Iya, Nara. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," aku Tama sekali lagi.


"Kamu benar-benar mencintaiku, Mas?" tanya Kinara. Rasanya dia masih belum percaya jika akhirnya si suami yang selalu memasang wajah dingin itu akhirnya jatuh cinta kepadanya.


Tama mengangguk. "Aku mencintaimu, Nara. Sangat mencintaimu. Jadi, aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" pinta Tama dengan sungguh-sungguh.


"Aku senang, Mas. Karena akhirnya kamu mengakui perasaanmu padaku. Aku sungguh sangat bahagia. Tapi.... "


"Tapi apa? Apa kamu tetap ingin pergi meski tahu aku sudah mencintaimu? Apa kamu ingin balas dendam karena selama ini aku mengabaikanmu?" potong Tama.


"Bukan, Mas. Bukan itu."


"Lalu?"


"Sejak tadi aku bingung kenapa kamu terus memintaku untuk tidak pergi, Mas. Memangnya siapa yang mau pergi?" tanya Kinara dengan wajah bingung.


"Lho bukanya kamu berada disini karena kamu mau pergi ke luar negeri?"


"Pergi ke luar negeri?" Kinara mengulang perkataan Sang Suami.


"Iya. Bukankah kamu disini karena kamu akan pergi ke luar dengan bajing.... " Tama tidak melanjutkan perkataannya. Dia merasa ada sesuatu yang janggal.


"Jadi... kamu menyusulku ke sini karena mengira aku akan pergi ke luar negeri?" Tama tidak menjawab. Gara-gara takut kehilangan Kinara, otak pintarnya tidak bisa diajak untuk berpikir.


"Sepertinya ada seseorang yang sengaja menyuruh Taki dan Maki untuk berbohong," ujar Tama. Dia sangat hapal dengan sifat kedua anak kembarnya. Kedua bocah itu tidak akan mau berbohong jika tidak ada yang menyuruh.


"Jadi... mereka yang bilang kalau aku akan pergi ke luar negeri?" tebak Kinara dan Tama mengangguk.


"Papa," dari arah lain kedua anak yang baru saja dibicarakan itu muncul. Tapi, mereka tidak hanya berdua melainkan bersama dengan Reno.

__ADS_1


"Jadi, kalian bedua sengaja membohongi papa ya?" tanya Tama.


Taki dan Maki hanya menunjukan cengiran kudanya.


"Kalian tahu? Hampir saja papa kena serangan jantung karena mengira mama kalian beneran akan pergi," desis Tama.


"Ini pasti ide kamu kan, Ren?" Tama beralih memberikan tatapan dinginnya kepada Reno.


Teman kecil Kinara itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Tapi, aku tidak menyesal. Aku senang karena akhirnya kamu mau mengakui perasaanmu kepada Nara. Aku jadi lega mendengarnya," ucap Reno. Dia tersenyum sambil menatap Kinara yang tampak bahagia.


"Ehm!" Tama berdehem. "Kamu memang berjasa karena telah membantuku mengakui perasaanku kepada Nara. Tapi... bukan berarti kamu bisa menatapnya seperti itu! Ingat! Kinara itu istri orang!" Tama tidak rela istri cantiknya ditatap oleh pria lain.


"Cih, posesif! Padahal sebelumnya sok cuek." Reno berdecih.


"Terserah lah. Itu kan bukan urusanmu!"


Tama hanya memutar kedua bola matanya. "Ngomong-ngomong sejak kapan kamu akrab dengan anak-anaku dan membuat mereka mau melakukan hal seperti ini?" tanya Tama. Dia menatap Reno, Taki, dan Maki dengan tatapan menyelidik.


Taki, Maki, dan Reno saling melempar pandangan.


"Kami begitu karena kami memiliki tujuan yang sama. Yaitu membuat Papa mengakui perasaan Papa sama Mama Nara," jawab Maki.


Taki dan Maki kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat Reno tiba-tiba kembali lagi ke rumah.


"Om tidak sedang mencari mama kalian. Tapi, Om sengaja balik lagi ke sini karena ada yang mau Om bicarakan dengan kalian berdua," jawab Reno.


Taki dan Maki saling tatap. "Om bukan teman kami, jadi kami nggak mau bicara sama om," jawab Maki. Dia memang dari awal tidak menyukai Reno karena takut pria itu akan membawa Kinara pergi.


"Kalian mau mama kalian tetap bersama kalian kan?" Mendengar hal itu, Taki dan Maki yang awalnya hendak pergi meninggalkan tamunya itu tidak jadi melakukanya. Keduanya menatap Reno dengan tanda tanya


"Jika kalian tidak bisa membuat papa kalian mengakui perasaan papa kalian terhadap Kinara mungkin... suatu hari nanti mama kalian akan pergi meninggalkan kalian."


"Maksud Om apa?" tanya Maki meminta penjelasan.


"Kalian pernah mendengar papa-mama kalian mengucapkan kata aku cinta padamu, aku sayang padamu, atau apa pun itu yang menggambarkan perasaan mereka satu sama lain?" tanya Reno.


"Pernah, bahkan mereka juga saling peluk," jawab Maki.


"Seberapa sering?" tanya Reno lagi. Dia benar-benar ingin tahu lebih dalam lagi hubungan Kinara dengan Sang Suami yang sesungguhnya.


Taki dan Maki mencoba mengingat-ngingat. Beberapa saat kemudian barulah mereka menjawab.


"Hanya sekali," jawab Maki. "Apa itu artinya mama masih bisa pergi ninggalin kami?"


Wajah cemas terpancar jelas dari keduanya. Reno yakin kedua anak dari Tama ini pasti sangat menyayangi Kinara.


"Mungkin. Jadi, apa kalian mau bekerjasama dengan Om untuk membuat papa dan mama kalian tetap bersama selamanya?"

__ADS_1


Taki dan Maki kembali saling tatap. "Mau-mau," jawab keduanya antusias.


"Good. Berarti mulai sekarang kita temankan?"


Meski masih sedikit ragu, keduanya kemudian mengangguk. "Sekarang apa yang harus kami lakukan?" tanya Taki yang diangguki oleh Maki.


Reno mulai menerangkan rencaranya kepada dua bocah kembar tersebut. "Bagaimana kalian mengerti?" tanya Reno setelah menjelaskan rencananya.


Taki dan Maki mengangguk mengerti.


"Ayo kita jalankan misi kita!" Reno mengajak kedua bocah itu untuk tos. Taki dan Maki kemudian mengulurkan tangan mereka untuk ikut tos bersama dengan Reno.


Sesuai rencana, Reno berpura-pura meminta Kinara untuk mengantarnya ke bandara karena dia terpaksa harus kembali ke luar negeri hari ini juga. Kinara awalnya ragu untuk mengantar Reno ke bandara karena sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama dengan Taki dan Maki. Di luar dugaan, bocah itu malah mau ikut denganya ke bandara.


Dan seperti yang telah direncakan, Taki dan Maki sengaja menelpon papanya dan bilang kalau Kinara pergi. Mereka dan Reno bahkan mensabotase ponsel Kinara agar tidak aktif untuk beberapa saat kemudian mengaktifkan lagi saat ada pengumuman keberangkatan. Sementara Kinara yang tidak tahu apa-apa hanya disuruh duduk di ruang tunggu. Sambil menunggu jadwal pesawat Reno yang katanya sebentar lagi akan take off Kinara mendengarkan musik dari mp3 player yang selalu dia bawa didalam tas karena ponselnya masih dipinjam oleh Taki dan Maki entah untuk apa. Dan kini Kinara tahu kenapa dua bocah itu msnsabotase ponsel pribadinya.


"Ingat ya Tam. Nggak peduli sebanyak apa hartamu, sebera kuat kekuasaanmu, aku akan merebut Kinara jika suatu saat nanti aku mendengar dia mengeluh tentangmu. Jadi pastikan kamu akan selalu membuatnya bahagia," ucap Reno penuh dengan ancaman.


Tama tersenyum. "Tidak akan. Aku tidak akan membiarkannya mengeluh tentangku karena aku akan selalu membuatnya bahagia," jawab Tama. Dia mengaitkan jemarinya di jemari Kinara.


"Haish. Kalian berdua benar-benar ya tidak punya perasaan. Aku baru saja patah hati karena harus merelakan Kinara, kalian malah memamerkan kemesraan kalian. Awas saja, saat aku menemukan gadis impianku aku akan pamer kemesraan di hadapan kalian berdua," ucap Reno.


Lagi. Kinara dan Tama kembali tertawa. "Segera lakukan. Aku dan Nara menantikan itu!" jawab Tama.


"Kalian berdua jaga mama kalian baik-baik ya. Kalau papa kalian nakal sama mama, hubungi om!" Kini Reno berbicara dengan si kembar.


"Siap, Om," jawab Taki dan Maki.


"Wah... sekarang kalian sudah jadi bestie rupanya," sindir Tama.


"Iya dong, Pa. Karena berkat Om Reno Papa jadi mau jujur dengan perasaan Papa," jawab Taki.


"Makasih ya, Ren. Kamu memang selalu menjadi sahabat terbaikku," ucap Kinara.


Reno mengangguk sembari tersenyum. "Aku pergi ya," pamit Reno.


"Lho bukanya kamu cuma pura-pura mau pergi?" tanya Kinara.


"Aku memang bukan mau pergi ke luar negeri. Tapi, aku memang harus ke Surabaya karena mama-papa ada disana dan dua hari lagi mereka akan mengadakan pesta ulanf tahun disana."


Mendengar kata ulang tahun, Kinara tiba-tiba terdiam. Reno tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya tersebut.


"Nara, lupakan semua itu. Kamu tidak salah, itu takdir," ucap Reno.


Kinara hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun. Tama yang melihat reaksi Kinara tentu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, dia tidak mungkin menanyakan hal itu sekarang. Dia akan bertanya kepada Reno nanti.


"Aku pamit ya, pesawatku sebentar lagi benar-benar akan take off. Bye Nara, aku selalu berdoa agar kamu selamanya bahagia."


Dan akhirnya Reno benar-benar pergi. Setelah pesawat yang Reno tumpangi lepas landas, mereka pun meninggalkan bandara.

__ADS_1


__ADS_2