
"Kalian sedang apa? Tak malu apa berbuat seperti itu di depan anak-anak kalian?" tanya Dewi dengan marah.
Buru-buru Tama dan Kinara bangun dari posisinya.
"Ini... ini tidak seperti yang Mama bayangkan. Mama jangan salah paham." Tama berusaha memberikan penjelasan kepada mantan mertuanya itu.
"Memang kamu tahu apa yang mama bayangkan?" Dewi menatap sinis.
"Maaf, Tante. Tapi... yang dikatakan oleh Mas Tama benar. Kami tidak .... "
"Jangan ikut campur!" potong Dewi sebelum Kinara menyelesaikan kalimatnya. "Kamu hanya orang lain di sini," tambahnya.
Kinara terdiam, dia memilih untuk tidak lagi menjawab karena takut akan memancing emosi dari almarhum istri suaminya tersebut.
"Tama, kita bicara di ruang kerjamu!" Tama mengangguk.
"Dan kamu... kamu tidak pantas menjadi ibu mereka. Seorang ibu tidak akan mengajarkan hal yang tidak baik kepada anak-anaknya. Dan apa yang sudah kamu pertontonkan barusan itu adalah hal yang sangat memalukan!" Dewi mendorong tubuh Kinara dan hampir membuat gadis itu jatuh. Beruntung Tama lebih cekatan. Dia berhasil menahan tubuh Kinara. Dan tentu saja perbuatan Tama tersebut kembali memancing emosi Dewi.
"Kamu berani menolongnya Tama!" sentak Dewi.
Tama memilih untuk tidak menjawab dan memanggil Mirna. Dia tidak mau kedua putranya melihat Dewi marah-marah.
"Mirna!" panggil Tama kepada pengasuh yang sebenarnya ingin ia pecat. "Mirna cepat kemari!"
Tidak lama wanita yang dipanggilnya itu datang.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Mirna.
"Kamu bawa anak-anak keluar sebantar!"
"Baik, Tuan," jawab Mirna. "Den Taki, Den Maki ayo!" ajak Mirna.
"Tapi, Pa..... "
__ADS_1
"Kalian ikut Mbak Mirna dulu. Ada yang harus papa bicarakan dengan nenek kalian bersama dengan mama."
Kedua bocah kembar itu sebenarnya enggan untuk pergi dari sana. Keduanya ikut sedih melihat Kinara dimarahi oleh mereka. Namun, karena ini perintah sang papa, keduanya tak berani membantah. Taki dan Maki akhirnya mau ikut dengan Mirna keluar.
"Ma... Apa yang Mama lihat barusan adalah ketidak sengajaan. Jadi, Mama jangan memarahi Nara untuk hal itu." Tama mulai membuka suara.
Dewi hanya memalingkan wajah.
"Dan... aku minta sama Mama tolong jangan pernah membentak Nara apalagi berlaku kasar kepadanya!" pinta Tama dengan nada sesopan mungkin. "Ma, aku yang menarik Kinara ke kehidupanku. Jadi, aku tidak akan biarkan orang lain menyalahkan atau menyakitinya."
"Kenapa? Kamu mulai jatuh cinta sama dia? Kamu lupa kalau Kiara meninggal gara-gara mempertahankan anakmu! Tama, sampai kapan pun mama tidak akan rela kalau posisi Kiara digantikan oleh wanita lain. Termasuk dia!" Dewi menunjuk Kinara dengan jari telunjuk.
Tama hanya bisa menghela napasnya. "Nara, keluarlah! Ini urusanku dengan mama Dewi!" Tama juga menyuruh Kinara untuk keluar dari ruangan tersebut.
Kinara mengangguk. Dia tidak mau terlalu ikut campur urusan Tama dengan mantan mertuanya.
"Aku keluar ya, Mas, Tante. Permisi." Kinara melenggang pergi.
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan Mama akan terus menyalahkan aku atas kematian Kiara?" Mendengar pertanyaan itu Dewi terdiam.
"Mama tahu, bukan hanya Mama yang sedih atas kematian Kiara. Tapi, aku juga, Ma. Hatiku juga hancur sama hancurnya dengan Mama. Bahkan... rasanya aku ingin mati dan menyusul Kiara ke alam baka. Tapi... Tama masih ingat bahwa masih ada dua malaikat kecil yang Kiara tinggalkan yang harus Tama jaga." Tama menghirup napas panjangnya kemudian menghembuskanya.
"Mama tidak tahu kan kalau aku pernah ingin mencoba mengakhiri hidup dengan menabrakan diri ke kereta yang sedang berjalan?"
Dewi terkesiap. Ia menatap Tama seolah tak percaya bahwa laki-laki sekuat menantunya sampai sampai pernah berpikir untuk mengakhiri hidup.
Iya. Saat Kiara meninggal, Tama seolah kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Dan membuatnya pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dia bahkan hampir menabrakan mobilnya ke kereta saat melintasi rel. Namun pesan terakhir Kiara yang memintanya untuk terus menjaga dan membahagiakan kedua putra kembarnya menggema di telinga dan membuatnya menghentikan percobaan bunuh diri tersebut.
"Taki dan Maki sangat menginginkan Kinara menjadi ibunya. Itulah alasan kenapa aku menikah dengan Kinara," lirih Tama.
"Tapi... kamu mulai mencintainya bukan?"
__ADS_1
Tama tidak menjawab. Dia kembali menghela napas sembelum akhirnya kembali bersuara. "Mama tenang saja, aku... akan memegang janjiku pada Mama," jawab Tama. Dia kemudian berlalu meninggalkan Dewi sendirian di kamar si kembar.
Dewi akhirnya memilih pergi dari rumah menantunya tersebut. Namun sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk menemui si kembar yang ternyata sedang bermain dengan Kinara di taman belakang. Dewi mengurungkan langkah mendekati si kembar dan hanya memperhatikan mereka dari ambang pintu.
Taki dan Maki terlihat begitu bahagia saat bermain dengan ibu tirinya itu. Kedua bocah itu tampak tak segan untuk bermanja dan merajuk layaknya terhadap ibu sendiri. Pun demikian dengan Kinara, wanita itu juga terlihat begitu menyayangi cucunya.
"Kiara... apa mama salah terus menyalahkan Tama atas kepergianmu? Apa mama juga salah melarang Tama untuk jatuh cinta kepada istri barunya?" gumam Dewi.
"Nyonya Dewi," sapa Mirna dari belakang Dewi.
Dewi berbalik dan menatap Mirna sebentar. Setelah itu ia memilih berlalu dari wanita yang bekerja sebagai pengasuh cucunya tersebut.
"Tunggu, Nyonya!" Mirna menyusul Dewi dan berjalan sejajar dengan nenek dari Taki dan Maki.
"Nyonya, jangan percaya dengan yang Nyonya lihat. Nyonya Kinara hanya pura-pura menyanyangi si kembar. Dia itu tidak tulus sayang dengan si kembar. Percaya deh, Nyonya." Mirna berusaha menghasut Dewi untuk terus membenci Kinara
"Bukan urusanmu. Bekerja saja dengan baik dan ingat, jangan sekali-kali kamu berani mencelakai cucu lagi," jawab Dewi yang justru memberikan peringatan.
"Nyonya aku.... "
"Aku sudah mendengar semuanya." Dewi memberikan tatapan tajamnya kepada Mirna.
Iya, Dewi datang setelah diberitahu Bik Sumi bahwa pelaku yang sudah mencelakai Taki dan Maki adalah Mirna, bukan Kinara.
"Iya, Nyonya. Saya minta maaf dan saya berjanji tidak akan melakukan hal buruk lagi kepada Taki dan Maki," ucap Mirna. "Sejujurnya saya melakukan itu karena ingin membantu Nyonya."
Dahi Dewi berkerut. "Membantuku? Maksud kamu?"
"Saya tahu Nyonya tidak suka Pak Tama menikah lagi dan mengganti posisi almarhum anak Nyonya dengan Nyonya Kinara. Jadi, saya berinisiatif membantu Nyonya dengan cara memfitnah Nyonya Kinara agar dia diusir oleh Tuan Tama." Mirna terpaksa berpura-pura mengakui bahwa semua yang dia lakukan demi almarhum Kiara.
"Tidak usah ikut campur urusanku dan jangan sok tahu. Aku memang tidak suka Tama menikah lagi, tapi bukan berarti aku benci dengan istrinya. Kamu tahu, aku lebih membenci tukang fitnah sepertimu. Apalagi kamu tega mencelakai cucuku!" Dewi menatap sinis Mirna. Setelah itu dia benar-benar meninggalkan rumah Tama.
Tangan Mirna mengepal kuat. Dia benar-benar kesal karena tidak berhasil mempengaruhi Dewi. Dan sekarang dia benar-benar merasa sendirian dan tidak memiliki sekutu yang bisa diajak bekerja sama untuk membuat Kinara diusir dari rumah Tama.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA. TERIMA KASIH.