Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 35


__ADS_3

"Aku tidak bilang kalau aku mulai mencintai Kinara. Tapi, bagaimana pun kita sudah menikah dan hidup bersama dalam satu atap, bukankah peluang untuk mencintai itu semakin besar. Apalagi ada pepatah jawa yang mengatakan witing tresno jalaran soko kulino yang artinya cinta datang karena terbiasa," jawab Tama panjang kali lebar.


"Tapi, meskipun begitu aku tetap tidak akan membiarkan posisi Kiara digantikan oleh orang lain. Ingat, kamu sudah berjanji padaku. Kalau perlu bangun lah dinding yang kokoh di hatimu agar wanita itu tidak bisa merangsek masuk ke dalamnya!" suruh Dewi dengan tegas.


Kali ini Tama tidak menjawab. Dia sudah menbangun dinding itu sejak awal pernikahanya dengan Kinara. Namun, ia sendiri sadar kebaikan Kinara, ketulusan wanita itu dalam mencintai kedua anaknya sedikit demi sedikit mulai menghancurkan dinding itu.


"Aku dengar kalau Taki dan Maki dirawat di sini karena bekal yang istrimu buat untuk mereka. Jika dia benar menyayangi Taki dan Maki, dia tidak akan melakukan itu," tutur Dewi.


"Apa Mirna yang melaporkan hal ini pada Mama?" tebak Tama.


"Aku yang bertanya padanya, dia hanya menjawab pertanyaanku."


"Benar bahwa Taki dan Maki dirawat disini setelah memakan bekal yang dibuat oleh Kinara, tapi... aku percaya kalau dia tidak salah. Kinara adalah wanita yang baik, dia tidak akan tega melakukan hal keji itu pada mereka," terang Tama.


Dewi tersenyum kecut. "Lagi, kamu membela wanita itu. Padahal sudah jelaskan kalau bekal itu penyebab kedua cucuku masuk rumah sakit. Kamu berubah Tama. Lihat saja kalau sampai Taki dan Maki kenapa-napa lagi gara-gara istri barumu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Setelah mengatakan itu, Dewi beranjak pergi dari sana.


Tama hanya menghela napas panjang menatap kepergian mantan mertuanya tersebut.

__ADS_1


Kinara yang berdiri di balik tembok tersenyum mendengar Tama membelanya. Beberapa saat setelah Dewi keluar mencari Tama, dokter datang dan memberitahu bahwa Taki dan Maki sudah diizinkan untuk pulang. Kinara pun sengaja mencari Tama untuk mengatakan hal tersebut. Namun, saat ia tiba di ruang tunggu ia mendengar Dewi terus menyalahkan suaminya atas kematian almarhum istri pertama Tama dan juga menyalahkanya atas insiden yang menimpa Taki dan Maki.


Kinara bahagia karena Tama membelanya dihadapan Dewi. Tadinya Kinara pikir, suaminya tersebut akan diam saja saat sang mantan mertua menyalahkan dirinya atas insiden yang terjadi dengan Taki dan Maki.


"Keluarlah! Aku tahu kamu disana!" suruh Tama.


Kinara pun keluar dari tempat persembunyianya.


"Sejak kapan kamu disana?" tanya Tama.


"Lumayan untuk bisa mendengar sedikit perdebatan mantan mertua dengan mantan menantu," jawab Kinara.


"Dokter sudah mengizinkan kita membawa Taki dan Maki pulang hari ini."


"Kalau begitu segera berkemas, sebelum ke kantor aku akan mengantar kalian pulang!" suruh Tama.


Kinara mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah sana siap-siap!" suruh Tama lagi saat melihat Kinara masih berdiri di tempatnya.


"Pak Tama," panggil Kinara.


"Hm."


"Terima kasih karena Bapak sudah percaya pada saya dan membela saya didepan mantan mertua Bapak," ucap Kinara sambil tersenyum.


Tama sedikit salah tingkah. "Ehm... kamu tidak salah, makanya aku membelamu."


"Sekali lagi terima kasih ya, Pak," ucap Kinara.


Tama hanya mengangguk samar seraya berdehem.


Mata Tama membulat ketika Kinara tiba-tiba mencium pipinya.


"Aku bersiap-siap dulu," ujar Kinara. Dengan sedikit berlari wanita itu meninggalkan Tama yang masih mematung.

__ADS_1


Tama menyentuh pipi yang baru saja dicium oleh Kinara. Ciuman sekilas itu ternyata mampu membuat jantungnya berdegup tak beraturan.


"Tidak! Ini salah! Aku harus mengendalikan hatiku," gumam Tama.


__ADS_2