
Pagi itu tak seperti biasanya Tama sudah berangkat ke kantor lebih dulu. Bahkan Kinara mengantar putra kembar mereka ke sekolah dengan diantar oleh supir. Tama sudah berpesan kalau dia ada meeting tepat pukul 8, jadi harus tiba sebelum itu untuk mempersiapkan segalanya.
Setelah mengantar si kembar ke sekolah Kinara langsung pulang ke rumah. Tadinya dia ingin mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah sebagian besar habis. Tetapi ia urungkan karena tidak mau membuat Bik Sumi tersinggung. Biarlah urusan dapur menjadi tanggung jawab Bik Sumi.
Tepat pukul 9 pagi, Kinara sudah tiba kembali di rumahnya. Ia langsung turun dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Namun, Kinara terkejut ketika mendapati Sang Suami sedang duduk bersantai di sofa kamar sambil membaca koran.
"Lho Mas, katanya ada meeting kok sudah ada di rumah?" tanya Kinara.
"Meetingnya ku persingkat," jawab Tama.
"Maksudnya?"
"Iya, aku sengaja mempercepatnya agar bisa cepat pulang ke rumah," jawab Tama. "Aku ingin menuntaskan kegiatan kita yang semalam belum selesai."
Tama melipat koran di tangannya dan berjalan menghampiri Kinara. Ia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Mas, sebentar lagi Bik Sumi datang. Apa kata dia kalau siang-siang begini masih betah di dalam kamar," cicit Kinara.
"Kamu tenang saja, aku sudah menyuruh Bik Sumi untuk datang nanti sore," jawab Tama. Ia memutar tubuh Kinara agar menghadap ke arahnya.
"Sekarang bisakan kita lanjutkan kegiatan yang sempat tertunda itu?" bisiknya tepat di telinga Kinara.
Kinara melingkarkan kedua tangannya di leher Tama. "Dengan senang hati," jawabnya sambil mengerlingkan mata.
"Sudah mulai nakal kamu ya."
"Mas Tama juga mulai mesum sekarang," balas Kinara tak mau kalah.
Tanpa banyak berdebat lagi sepasang suami istri itu pun melanjutkan aktifitas yang semalam sempat tertunda. Kegiatan panas keduanya membuat semakin panas cuaca yang memang sudah panas. Entah karena sudah terlalu lama berpuasa membuat Tama meminta lagi dan lagi. Mereka baru menyudahi aktifitas tersebut saat jam dinding yang tergantung di kamar menunjuk pukul sebelas siang.
"Mas," panggil Kinara dengan kepala masih bersandar di dada bidang suaminya tersebut.
"Hm."
"Kamu kan menduda sudah 5 tahun. Selama rentang waktu itu pernah nggak kamu kepikiran untuk bercinta?" tanya Kinara sambil mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Aku ini masih normal, Nara. Tentu saja aku pun pernah kepikiran ingin melakukan hal itu. Apalagi kadang ada rekan bisnis yang sengaja menyediakan wanita-wanita cantik untuk dipakai. Tapi, untungnya imanku cukup kuat. Aku bisa menepisnya dan untuk mencegah keinginan itu datang aku sengaja menyibukan diri dengan pekerjaan. Kadang pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan dalam jangka waktu sebulan, bisa aku kerjakan dalam waktu seminggu saja," jawab Tama. "Tapi... semua berubah saat kamu mulai merayuku. Rasanya aku begitu tersiksa harus menahan segalanya," tambah Tama.
"Jadi... sejak pertama kali aku mulai merayumu, kamu sudah mulai tersiksa karena harus menahan segalanya?"
"Begitulah. Makanya mulai sekarang aku tidak akan lagi menahannya," jawab Tama. Dia kembali mengambil posisi mengungkung tubuh istrinya.
"Mas, kamu mau apa? Kita harus mandi dan menjemput si kembar," ujar Kinara.
"Kita main sekali lagi, setelah itu kita mandi dan jemput anak-anak."
"Tap.... "
Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya, Tama sudah membungkam dengan bibirnya. Tangan Tama kembali aktif untuk menjamah semuanya. ******* dan lenguhan kembali menggema di kamar tersebut. Kegiatan panas itu berakhir setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan.
Tama membopong tubuh Kinara ke kamar mandi. Keduanya pun mandi bersama untuk membersihkan tubuh mereka dari peluh.
__ADS_1
Dan kini Kinara sedang berdiri di depan cermin sambil berusaha menyamarkan beberapa tanda yang Tama tinggalkan di leher jenjangnya dengan foundation.
"Ini gara-gara kamu, Mas. Harusnya jangan tinggalkan jejak di sini."
Melihat istrinya menggerutu, Tama hanya terkekeh. Dia terlihat puas dengan banyaknya jejak yang ia tinggalkan di sana karena ia sendiri tak menyangka. Semua berjalan begitu saja tanpa dikomando.
"Sudah tidak usah ditutupi, biarkan saja semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang memiliki," ujar Tama santai dan langsung mendapat pelototan dari Kinara.
"Tidak usah diberi tanda seperti ini juga semua orang sudah tahu kalau aku ini istri kamu, Mas," cetus Kinara. Tama kembali terkekeh.
Setelah memastikan jejak-jejak yang Tama tinggalkan tak lagi terlihat. Kinara mengambil hand tas miliknya dan bersiap untuk menjemput Taki dan Maki di sekolah.
"Mas," panggil Kinara.
"Ada apa?"
"Jalanku terlihat aneh nggak?" tanya Kinara.
Tama mengamati cara jalan istrinya. "Sedikit," jawabnya kemudian.
"Ini gara-gara kamu. Masa kamu menggempurku habis-habisan padahal kita harus menjemput anak-anak," keluh Kinara.
"Kamu juga menikmatinya tadi," goda Tama.
"Haish. Dasar!"
"Memang masih sakit ya?" tanya Tama dengan raut wajah cemas.
"Sedikit. Tapi, tidak apa-apa kok," jawab Kinara.
"Iya, Mas. Beneran. Lagian misal aku bilang sakit, kamu tidak akan melakukan lagi? Nggak kan?"
Tama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya sih. Dan rencananya malam ini aku mau lagi," jawabnya sambil nyengir.
"Sudah. Jangan bicarakan itu dulu. Kita ke sekolah sekarang takut anak-anak kelamaan menunggu kita!" ajak Kinara sengaja mengalihkan pembicaraan yang tidak berujung.
Dan benar saja. Ketika sampai di sekolah, Taki dan Maki sudah menunggu dengan wajah ditekuk.
"Tuh, papa dan mamanya sudah datang. Ayo ke sana!" Wali kelas Taki dan Maki itu menghampiri Tama dan Kinara guna menyambut kedatangan kedua orang tua si kembar.
"Maaf, ya, Bu. Kami agak telat menjemput. Tadi ada sedikit urusan," ucap Kinara.
"Tidam apa-apa, Nyonya Tama. Mereka juga baru saja keluar dari kelas kok," jawab Wali kelas si kembar dengan ramah.
"Ya sudah Miss kalau begitu kami permisi. Taki, Maki, ayo salim dulu!" pamit Kinara seraya menyuruh Taki dan Maki salim dengan wali kelasnya. Kedua bocah itu pun melakukan hal yang diperintahkan oleh Kinara.
Keduanya kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa Mama dan Papa lama sih jemputnya?" protes Maki masih dalam mode ngambek.
"Maafin kami ya, Sayang. Tadi beneran ada hal penting yang harus kami selesaikan," jawab Kinara. "Kami janji lain kali tidak akan telat lagi!" Kinara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
__ADS_1
Kedua bocah kembar itu masih cemberut.
"Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf karena kami terlambat, kita jalan-jalan ke happy land?" tanya Tama.
Tentu saja hal tersebut disambut dengan baik oleh keduanya. "Mau, Pa. Mau," jawab Taki dan Maki kompak. Wajah keduanya terlihat sumringah.
Kinara ikut senang melihatnya. Hari itu mereka habiskan dengan bermain di Happy Land.
***
Beberapa hari kemudian....
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponsel milik Tama dan itu dari kedua putra kembarnya.
[Pa, hari ini mama ulang tahun. Kami sudah menyiapkan kejutan untuk Mama]
Sebuah foto kue tart terlihat di sana.
Tama tersenyum melihat antusias kedua putranya untuk memberikan kejutan kepada Kinara. Dia pun sudah menyiapkan kado spesial untuk istrinya tersebut.
[Papa otewe pulang. Kalian ngasih kuenya nunggu Papa dulu ya]
Pesan itu Tama kirimkan sebagai balasan.
[Ya]
Pesan dari kedua putranya kembali masuk.
Tama mengambil kado dari dalam laci meja kerja dan memasukan ke dalam tas. Tak sabar rasanya ingin segera memberikan hadiah itu untuk Sang Istri.
Saat sedang berjalan menuju ke mobil ponsel nya berdering dan tampak nama Reno di layar.
"Ada apa dia menelpon? Bukankah masalah kerja sama sudah selesai dibahas?" batin Tama. Dia pun segera menekan tombol hijau untuk menjawabnya.
"Iya, Ren. Ada apa? Tumben nelpon?" tanya Tama tanpa basa-basi.
"Tam, kamu tahu kalau hari ini hari ulang tahun Kinara kan?"
"Iya. Tahu. Ini rencananya aku dan anak-anak mau memberikan kejutan buat dia," jawab Tama.
"Jangan!"
Tama mengernyit. "Jangan? Kenapa?" tanya Tama.
"Apa kamu tahu kalau Kinara memiliki kenangan buruk tentang hari ulang tahunnya?" bukannya menjawab Reno malah mengajukan pertanyaan.
"Makaud kamu apa?"
"Kinara memiliki trauma dengan hari lahirnya tersebut."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Trauma seperti apa yang dialami oleh Kinara ya dan apa sebabnya? Jangan lupa, like, komen, vote, dan hadiahnya. Terima kasih.