Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 27


__ADS_3

Kinara tersenyum canggung saat beberapa pegawai menyambut kedatanganya dan Tama di depan pintu masuk. Mereka bahkan memberikan buket bunga dan membentangkan spanduk bertuliskan:


'Selamat Menempuh hidup baru, semoga selalu diberikan kebahagiaan dan segera dianugerahi momongan.'


"Terima kasih atas sambutan kalian," ucap Kinara sambil menerima buket bunga di tanganya. Dia merasa tidak enak karena merasa telah membohongi seisi kantor. Iya, meski dia dan Tama menikah secara resmi baik itu menurut agama apalagi negara, tetap saja pernikahan tersebut hanya sebuah pernikahan yang mirip seperti pernikahan kontrak. Hanya saja, jika pernikahan kontrak lamanya pernikahan sudah diketahui sejak awal, sementara pernikahanya dengan pimpinan Perusahaan Wijaya itu tidak tahu kapan akan berakhir tergantung dari berapa lama laki-laki itu masih membutuhkannya menjadi ibu sambung.


Berbeda dengan Kinara yang berusaha untuk tetap terlihat bahagia di hadapan pegawai yang menyambut mereka, Tama justru tetap bersikap dingin seperti biasanya. Laki-laki yang mendapat julukan kulkas 4 pintu itu juga langsung masuk ke ruang kerjanya dan mengabaikan sambutan mereka.


"Ish, dasar tidak punya hati! Apa salahnya sih tersenyum dan berterima kasih," gumam Kinara. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Tama.


"E... sekali lagi terima kasih ya buat sambutanya," ucap Kinara. "Kalian boleh kembali bekerja."


Para karyawan itu pun membubarkan diri dan pergi ke meja masing-masing.


***


"Pak, kenapa sih Bapak nggak pura-pura tersenyum tadi? Setidaknya Bapak harus bisa menghargai mereka yang sudah sengaja menyambut kedatangan Bapak di lobi," protes Kinara ketika ia masuk ke ruang kerja Tama.

__ADS_1


"Aku tidak minta untuk disambut," jawab Tama.


"Aku tahu Bapak tidak minta untuk disambut, tapi setidaknya hargailah usaha mereka." Balas Kinara. "Lagian menghargai mereka juga tidak akan membuat harga diri Bapak rendah kan? Malahan Bapak akan dipandang sebagai bos yang baik hati."


"Aku tidak butuh pandangan apalagi pendapat mereka tentangku. Mau menganggapku bos kejam kek, dingin kek, atau bahkan bos jahat sekali pun aku nggak peduli. Jadi berhenti mengajariku untuk bersikap seperti apa kepada mereka!" cicit Tama. "Cepat kerjakan saja pekerjaanmu dan jangan-jangan buang-buang waktu. Aku selalu bilangkan kalau aku paling tidak suka dengan pegawai yang lamban." Tama menatap tajam Kinara.


"Iya, Pak. Saya tahu itu, makanya saya sudah mengerjakan sebagian pekerjaan saya hari ini di rumah," jawab Kinara.


"Baguslah, jadi tidak sia-sia aku ngeluarin duit milyaran buat kamu," sahut Tama. Dia juga kembali melanjutkan pekerjaanya.


"Ada apa lagi? Aku sudah menyuruhmu untuk memulai pekerjaanmu kan?" tanya Tama ketika melihat Kinara sudah kembali berdiri di hadapanya.


"Bapak tidak memberikan uang lagi kan sama om dan tanteku?" tanya Kinara.


"Hm," jawab Tama.


"Hm? Hm itu artinya apa, Pak?"

__ADS_1


"Tidak. Sekarang sudah puas? Lagian untuk apa aku memberikan uang lagi untuk manusia serakah seperti mereka," jelas Tama, "Sudah sana kembali bekerja! Jangan ganggu aku karena aku harus memeriksa hasil pekerjaanmu!"


Kinara mengangguk, dia merasa lega karena Tama tidak memberikan uang kepada om dan tantenya.


Kinara dan Tama kembali berkutat dengan komputer di meja mereka hingga sebuah pesan dari sekolah si kembar membuat Kinara panik. Tanpa mengetuk pintu, Kinara kembali masuk ke ruang kerja Tama.


"Ada apa? Kenapa ke sini lagi?" Tama mulai merasa jengah karena Kinara terus mengganggunya.


"Pak, barusan saya dapat dari sekolah Taki dan Maki kalau sekarang mereka berada di rumah sakit," jawab Kinara.


"Apa?! Kenapa mereka sampai berada di rumah sakit?"


"Mereka tidak menjelaskanya secara rinci dan hanya menyuruh kita kesana sekarang."


"Kalau begitu ayo kita ke sana sekarang!"


Dengan tergesa-gesa keduanya segera keluar dari kantor. Mereka bahkan tidak mempedulikan sapaan dari beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2