
"Mas, kamu memeras Tama?!" ucap Reni dengan wajah murka.
Buru-buru Susanto merebut tas itu dari tangan Reni. "Tidak. Aku tidak memeras Tama. Dia yang memberiku uang ini," jawabnya sambil memeluk erat tas di tanganya.
"Keterlaluan kamu, Mas. Aku menyuruhmu memberikan buku itu kepada Nara bukan untuk memeras uang mereka! Kembalikan uang itu kepada Tama! Kembalikan!" suruh Reni dengan suara lantang.
"Enak saja. Ogah," jawab Susanto. Dia semakin erat memeluk tas di tangannya.
"Mas," sentak Reni.
"Ini uangku. Kalau kamu nggak mau ikut menikmati uang ini, itu urusanmu! Yang jelas uang ini sudah Tama berikan kepadaku, jadi itu artinya uang ini milikku. Milikku, Ren!" Susanto tetep kekeh.
"Tidak! Kamu harus mengembalikan uang itu kepada Tama. Harus!" Reni berusaha merebut uang itu dari Susanto.
Tak mau kehilangan uang yang sudah ada di tangannya membuat Susanto memilih untuk pergi dari rumah. Laki-laki mata duitan itu berlari menuju halte yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Reni tentu saja tak tinggal diam. Tante dari Kinara itu tetap berusaha mengejar suaminya. Bagaimanapun, Reni sudah bertekad untuk mengembalikan uang tersebut kepada Tama. Dia tidak mau memanfaatkan suami dari keponakannya tersebut.
Kebetulan ada bus yang berhenti di halte, tak mau buang waktu, Susanto langsung masuk ke dalam bus. Namun sayangnya, Reni sudah berhasil meraih tali tas yang sedang dipegang oleh pria itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan membawa uang ini!" Reni mencengkeram kuat tali tas tersebut.
"Lepas, Ren! Aku tidak akan biarkan kamu mengembalikan uang ini. Tidak akan!"
"Tidak, Mas! Bagaimana pun caranya, aku pasti akan mengembalikan uang itu kepada Tama. Lepaskan tas itu, Mas!" teriak Reni.
"Kamu yang lepaskan!"
"Tidak! Kamu yang harus melepaskannya!"
Masih terjadi tarik menarik tas antara Reni dan Susanto.
"Pak, silakan Bapak turun saja! Bus ini harus segera jalan." Si Supir bus menginterupsi.
__ADS_1
"Sudah, Bapak jalankan saja busnya. Nanti juga dia bakalan melepaskan tas ini begitu bus ini jalan," jawab Susanto.
Akhirnya supir bus itu pun mulai melajukan bus yang sempat terhenti tadi. Namun, diluar dugaan. Reni masih kuat memegang tali tas tersebut. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa mempertahankan tali tersebut.
Reni terhuyung ke depan, saat bus itu mulai menambah kecepatan. Dan... bruk! Dia terjatuh dengan kepala yang membentur aspal.
Awalnya Susanto merasa senang karena akhirnya, tas itu bisa terlepas dari tangan Reni. Namun, saat melihat Reni tak kunjung bangun dari posisinya membuat Susanto kalang kabut. Dia meminta Si Supir bus untuk menghentikan lajunya.
"Berhenti, Pak! Berhenti!" suruh Susanto. Bus itu pun berhenti. Susantu segera turun dari bus dan berlari menghampiri Reni. Dia terkejut saat melihat ada darah di kepala istrinya.
"Ren, Reni bangun! Ren, kamu tidak apa-apa kan? Reni, bangun, Ren! Cepat bangun!" teriaknya Susanto.
"Tolong! Tolong!" teriak Susanto.
Dengan dibantu warga setempat, Susanto membawa istrinya itu ke rumah sakit.
Susanto terus menggenggam tangan istrinya, saat Reni dibawa oleh petugas medis menggunakan brankar untuk menuju ke IGD. Dia benar-benar tidak tega melihat wanita yang sangat dicintainya itu tak berdaya dengan darah yang menguncur di kepala.
Susanto memang pemalas dan mata duitan. Tapi, cintanya kepada Reni tidaklah main-main. Reni memang bukan cinta pertamanya, juga bukan wanita pertama yang ia nikahi. Sebelum menikah dengan Reni, Susanto sudah pernah menikah bahkan dua kali. Tapi, rumah tangga mereka kandas di tengah jalan. Bukan karena sifat pemalas Susanto rumah tangganya kandas. Namun, kekurangan yang dimiliki Susanto yang membuat dua wanita yang pernah dinikahinya itu menggugat cerai.
Iya. Susanto bukanlah pria normal. Dia sudah diagnosa tidak akan bisa memiliki keturunan karena cairan yang dihasilkan buruk. Dia sudah berusaha untuk mengobatinya. Sayangnya, hasilnya tetap sama. Dan hanya Renilah yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Reni bisa mencintai Susanto dengan tulus dengan semua kekuarangan pria itu. Yang tidak hanya mandul tetapi juga pemalas.
Reni tidak pernah komplain dalam hal apapun. Bahkan wanita itu terkesan selalu mendukung apa pun yang pria itu lakuakan. Bahkan saat ia meminta Reni untuk memanfaatkan harta kedua orang tua Kinara demi kepentingannya pun wanita itu setuju-setuju saja.
"Ren, bangun! Jangan tinggalkan aku, Ren! Aku janji akan mengembalikan uang itu kepada Tama asal kamu bangun. Jadi, jangan tinggalkan aku, Ren!" Susanto terus meracau sambil terisak. Untuk pertama kalinya laki-laki mata duitan dan pemalas itu menangis.
"Maaf, Pak. Bapak tidak diizinkan masuk. Silakan tunggu di luar!" seorang perawat menghalau Susanto saat pria itu ingin ikut masuk ke ruang IGD.
"Tapi, Sus. Saya ingin mendampingi istri saya di dalam, Sus." Susanto menghiba.
"Maaf, Pak. Tetap tidak bisa. Biarkan dokter yang menangani, Bapak tunggu saja di luar sambil berdoa semoga istri Bapak tidak kenapa-napa," jawab Si Perawat berusaha memberikan pengertian.
__ADS_1
Terpaksa Susanto melepaskan genggaman tangannya. Dia membiarkan brankar yang membawa istrinya itu masuk ke ruang IGD untuk ditangani.
Susanto berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD. Dia benar-benar tidak tenang.
"Apa aku harus memberitahu Nara tentang kondisi tantenya sekarang? Tapi, apa dia masih peduli? Apalagi dia pasti mengira kalau aku meminta uang kepada suaminya atas perintah Reni." Susanto bermonolog. Dia kemudian menghela napas panjangnya.
"Ini semua salahku. Haruanya aku menuruti perkataan Reni. Ini salahku. Salahku." Susanto terus meratapi kebodohannya.
Tidak lama seorang perawat kembali keluar dan meminta Susanto untuk masuk kedalam ruang IGD.
"Pak, istri Anda mengalami gegar otak cukup parah. Jadi, saya sarankan agar dia dirawat dulu di rumah sakit untuk sementara waktu. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruang rawat." Dokter yang menangani Reni memberitahu.
"Apa istri saya sudah siuman, Dok?" tanya Susanto.
"Alhamdulillah sudah, Pak. Tapi, kami pindahkan dulu pasien ke ruang perawatan ya, Pak."
"Iya, Dok," jawab Susanto. Dia lega karena istrinya sudah siuman.
Reni sudah berada di ruang perawatan. Susanto sudah berada disana. Sayangnya, Reni malah meminta suaminya tersebut untuk pergi dari sana. Dia tidak mau bertemu dengan Susanto sebelum pria itu mengembalikan uang dari Tama.
"Pergi kamu, mas! Pokoknya, aku nggak mau ketemu sama kamu sebelum kamu mengembalikan uang Tama!" seru Reni.
"Tapi, bagaiaman kita membayar rumah sakit, Ren?"
"Itu urusan kamu. Yang jelas, kamu harus mengembalikan uang itu kepada Tama. Titik!" Reni menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dengan selimut. Dia enggan melihat wajah suaminya. Kecewa, kesal, karena telah dibohongi membuatnya tidak ingin melihat wajah suaminya itu.
"Ren.... "
Tidak ada jawaban. Terpaksa Susanto kelaur dari ruang perawatan Reni. Dia duduk di ruang tunggu sambil menatap tas berisi uang dari Tama tadi.
"Apa aku harus mengembalikannya? Tapi, bagaimana dengan biaya rumah sakit?" batin Susanto. Dia dilema dan bingung harus berbuat apa.
__ADS_1