Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 45


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanya seseorang yang baru saja membukakan pintu. Dia bingung karena belum pernah melihat Mirna sebelumnya. "Ren, ini teman kamu bukan?" tanyanya kepada sang istri.


"Ada apa sih, Mas?" Seorang wanita datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ini teman kamu bukan? Jangan-jangan kamu punya hutang lagi dan belum bayar? Ingat, Ren. Uang kita udah habis mana kita nggak bisa minta uang lagi sama si Nara," cerocos Susanto.


"Apaan sih, Mas. Bukankah selama ini yang sering utang itu kamu ya. Lagian aku gak punya utang, para tetangga udah enggan ngasih pinjeman ma aku gara-gara utang yang kemarin saja ngembaliinya lama. Makanya Mas cepat cari kerja, biar kita bisa menyambung hidup!" jawab Reni tak kalah cerewet.


"Iya-iya, nanti aku cari kerja."


"Nantinya itu kapan? Ingat Mas uang 100 juta dari Tama waktu itu juga udah habis gara-gara kamu ikutan judi online. Padahal kita bisa gunain uang itu buat modal. Sekarang buat makan besok aja kita tidak tahu bakal dapat uang dari mana. Mana uang kontrakan bulan ini belum dicicil lagi."


Sepasang suami istri itu melupakan tamunya dan malah berdebat.


"Maaf, apa kalian benar om dan tantenya Kinara?" Mirna menginterupsi.


Susanto dan Reni berhenti berdebat. Keduanya lalu saling melempar pandangan dan menatap ke arah Mirna bersamaan.


"Kamu siapa?" tanya Reni.


"Kenalkan nama saya Mirna, saya pengasuh anaknya Pak Tama yang seharusnya menjadi istri Pak Tama," jawab Mirna sambil mengulurkan tangan.


Reni dan Susanto menatap penampilan Mirna dari bawah sampai ke atas, keduanya kembali saling melempar pandangan kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Mirna dengan wajah kesal.


"Hei, Mbak, jangan halu! Tama nggak mungkin lah suka sama wanita modelan kayak gini. Sudah dandananya menor, cara pakaianya aneh, dan satu lagi kamu nggak lebih cantik dari Nara keponakanku," jawab Reni panjang kali lebar.


Mirna menghembuskan napas kasar. "Terserah. Tapi, memang akulah yang seharusnya menjadi istri Pak Tama bukan keponakan kalian. Lagian, meski keponakan kalian menjadi istrinya Pak Tama, kalian juga tetap nggak bisa manfaatin dia kan? Jadi buat apa coba, mending aku yang jadi istrinya Pak Tama, aku jamin aku akan memberikan kalian uang tiap bulan."


"Maksudnya apa ya?" tanya Reni.


"Iya, maksudnya apa?" Susanto ikut bertanya.


Sepasang suami istri itu menatap Mirna penuh tanya.


"Maksudku kalau kalian mau membantuku buat mendapatkan Pak Tama, maka tiap bulan aku akan mentransfer sejumlah uang kepada kalian. Bagaimana?" Mirna memberikan tawaran.

__ADS_1


***


Kinara sudah sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Setelah mandi dan berganti pakaian dia segera menemui anak-anak sambungnya yang sedang ditemani oleh Bik Sumi di kamar mereka.


"Mama." Taki dan Maki yang sebelumnya sedang asik bermain langsung menghambur ke pelukan Kinara saat wanita itu masuk ke dalam kamar mereka.


"Hai, Sayang. Maaf ya mama telat," ucap Kinara, dia membalas pelukan kedua putra sambungnya dengan hangat.


"Tidak apa-apa, Ma. Kami seneng akhirnya mama dan papa pulang juga, jadi ada yang bisa bantuin kami ngerjain pr," jawab Taki.


"Lho bukanya ada Mbak Mirna ya," ujar Kinara. Namun, saat ia melihat ke sekeliling kamar nama yang disebut tersebut ternyata tidak ada di sana.


"Memangnya Mirna belum pulang, Bik? Kok Bik Sumi yang nemenin anak-anak di kamar? Mirna mana?" tanya Kinara ketika melihat hanya ada Bik Sumi di kamar kedua putranya.


"Nggak tahu, Nya. Tadi bilangnya cuma mau pergi sampai sore, tapi sampai sekarang belum pulang. Bibik kan jadi belum masak karena harus nemenin Den Taki dan Maki main. Maaf ya, Nya," jawab Bik Sumi panjang lebar. Perempuan berusia lebih dari 50 tahun itu merasa tidak enak karena belum menyelesaikan pekerjaan utamanya.


"Lho, jadi anak-anak belum makan malam, Bik?"


"Mereka tadi sih sudah makan roti dengan selesai. Tapi, bibik nggak tahu apa mereka sudah kenyang atau belum," jawab Bik Sumi jujur.


Sejak Mirna izin pergi tadi siang ada saja tingkah Taki dan Maki yang membuat perempuan paruh baya itu kerepotan. Alhasil, Bik Sumi tidak bisa memasak untuk makan.


"Belum, Nya. Bibik nggak suka makan roti, jadi Bibik nggak ikutan makan pas anak-anak makan roti."


"Taki, Maki, kalian masih lapar atau sudah kenyang?" tanya Kinara untuk memastikan bahwa kedua anak kembarnya sudah kenyang atau masih lapar karena mereka hanya memakan sepotong roti.


"Masih," jawab kedua anak itu bersamaan.


"Ya sudah, kalau mama buatin nasi goreng mau?" tanya Kinara kepada kedua putra sambungnya. "Atau ada masakan lain yang kalian ingin makan? Hm?"


"Aku mau nasi gorengnya ditambahin potongan sosis yang banyak sama telur mata sapi," jawab Maki antusias.


"Maki juga mau yang seperti Taki bilang, Ma." Maki ikut-ikutan.


"Apaan sih Maki kenapa kamu ikut-ikutan?" Taki mencebik karena Maki terus mengikuti apapun yang diingingkan oleh saudara kembarnya.


"Aku kan juga pingin makan itu juga," jawab Maki dengan bibir mengkerucut.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan tengkar. Mama buatin nasi goreng buat kalian berdua. Sesuai permintaan, mama akan kasih nasi gorengnya potongan sosis yang banyak dan juga telur mata sapi di atasnya," tutur Kinara. "Ohya, Bik Sumi mau nasi goreng juga nggak?" Tak lupa Kinara juga menawarkan nasi goreng kepada wanita paruh baya itu.


"Lho lho kok malah Nyonya yang nawarin? Biar saya yang buatkan nasi goreng buat Nyonya dan anak-anak. Nyonya disini saja temani Den Taki dan Den Maki," seru Bik Sumi yang merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, Bik. Sekali-kali. Lagian aku tahu Bik Sum juga pasti capek karena harus ngerjain tugas rumah sambil ngawasi Taki dan Maki tadi," balas Kinara.


"Tapi, Nya.... "


"Sudah gak ada tapi-tapi, Bik Sumi duduk santai aja di sini sambil temani anak-anak!" seru Kinara. Meski tidak enak, Bik Sumi terpaksa menuruti.


"Ma, boleh nggak Taki ikut bantuin Mama masak nasinya?" Taki meminta izin untuk membantu.


"Maki juga, Maki juga." Maki ikut-ikutan.


"Ya sudah kalau begitu, kalian boleh ikut," balas Kinara.


"Kalau begitu, Bibik juga ikut bantuin Nyonya ya!" Bik Sumi pun ikut-ikutan.


"Ya sudah, ayo kita mulai eksekusi!" ajak Kinara.


Taki dan Maki terlihat sangat antusias untuk membuat nasi goreng spesial ala-ala restoran bersama ibu sambungnya. Keempat orang itu pun mulai berkutat di dapur.


Akhirnya kurang dari 30 menit nasi goreng sosis dengan telur mata sapi sudah tertata rapi di meja makan. Taki dan Maki terlihat bangga dengan hasil karya mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka berdua membantu membuat salah satu menu makanan kesukaan mereka selain pan cake. Hal yang sebelumnya tak pernah mereka lakukan karena Mirna selalu melarang mereka dengan mengatakan bahwa pekerjaan dapur adalah pekerjaan untuk orang yang levelnya rendah dan hanya dikerjakan oleh pembantu.


"Wah, ternyata membantu memasak itu menyenangkan ya, Ma?" ucap Maki dengan wajah sumringah.


"Tentu saja. Justru pria akan terlihat keren saat bisa memasak," jawab Kinara.


"Ayo, Ma, kita makan! Perutku sudah lapar melihat ini!" seru Taki.


"Tunggu sebentar!" Kinara merogoh ponsel dari dalam saku. Dia mulai mengambil gambar nasi goreng di atas meja dengan kamera ponselnya tersebut.


"Mama sedang apa?" tanya Taki dan Maki bingung.


"Nasi goreng spesial ini adalah karya kalian, jadi mama ingin mengabadikanya," jawab Kinara. Tidak lupa dia mengirimkan gambar tersebut kepada Tama. "Sudah. Sekarang ayo kita makan!"


Kinara, Taki, Maki, dan Bik Sumi mulai menyendok nasi goreng tersebut dan memasukanya ke dalam mulut. Satu detik kemudian keempatnya langsung berhenti dan saling melempar pandangan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah, lho! Kira-kira kenapa ya? Jangan lupa, like, komen, share, vote, dan gift sebanyak-banyaknya. Terima kasih.


__ADS_2