
"Ini... ini digigit nyamuk, Sayang," jawab Kinara yang terpaksa harus berbohong.
"Nyamuk, Ma?" Maki membeo.
"Iya, nyamuk."
"Pasti nyamuknya gede, soalnya warna merahnya segede itu. Biasanya kalau Maki digigit nyamuk, cuma bintik-bintik merahnya," ujar Maki.
"Iya... nyamuknya memang gede," jawab Kinara sambil melirik ke arah suaminya yang sejak tadi menahan tawa.
"Pa," panggil Maki.
"Iya, Sayang?" jawab Tama sambil menoleh ke arah putranya.
"Nanti pulang sekolah antar Maki ke toko yang ada di depan sekolah Maki ya."
"Ada yang mau Maki beli?" tanya Tama penasaran. "Memangnya itu toko apaan sih, Sayang?"
"Itu toko peralatan rumah tangga, Pa. Maki mau kesana mau beli raket nyamuk yang besar. Maki mau ngasih pelajar sama nyamuk yang udah gigit leher mama sampai merah," jawab Taki dengan ekspresi wajah bengisnya.
Tama bergidik ngeri. Dia menelan ludahnya dengan bersusah payah membayangkan dirinya disetrum dengan alat itu. Berbeda dengan Kinara yang justru berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa melihat ekspresi suaminya tersebut.
"Sudah, sudah. Jangan bicarakan soal nyamuk lagi. Sekarang lebih baik kita sarapan habis itu mama dan papa antar kalian ke sekolah!" Kinara berusaha merubah situasi.
"Baik, Ma," jawab Taki dan Maki.
Mereka pun mulai menyantap makanan mereka. Setelah itu Kinara dan Tama mengantar kedua putra kembar mereka itu ke sekolah. Dan sesuai rencanya dari sana Tama membawa istrinya itu ke psikolog untuk konseling. Dia berharap dengan melakukan hal tersebut trauma Kinara akan berangsur membaik. Tama juga berharap, Kinara bisa kembali menikmati momen hari kelahirannya itu dengan bahagia tanpa bayang-bayang rasa bersalah yang membelenggu jiwa.
Dua jam Kinara menjalani sesi konselingnya dengan Dokter Petra. Dan banyak hal yang Kinara tumpahkan saat itu. Tentu saja dengan didampingi oleh Tama. Pria itu selalu ada di sisi Kinara.
"Nyonya Nara. Untuk hari cukup segini dulu. Minggu depan datang lagi ya, kita tambahkan dengan sesi terapi," ucap Dokter Petra saat mengakhiri sesi itu.
"Iya, Dok," jawab Kinara.
"Terima kasih untuk waktunya, Tra. Maaf kemarin gue maksa lo buat jadi psikolog istri gue," ucap Tama.
"Mas, dia teman kamu?" tanya Kinara.
Tama mengangguk. "Dia salah satu temanku yang juga berprofesi dokter selain Alex," jawab Tama.
"Gue senang lho, Tam. Akhirnya lo nikah lagi. Semoga dengan hadirnya istri lo ini, lo bisa kembali bahagia seperti dulu."
__ADS_1
Tama meraih jemari Kinara. "Alhamdulillah, Tra. Gue udah bahagia," jawabnya dengan senyum yang terus mengembang.
"Lo sendiri gimana kabarnya? Setelah putus dari Angel gue nggak pernah denger lo gandeng cewek lagi?" tanya Tama.
Petra hanya membuang napas kasar. "Belum nemu yang cocok gue," jawab Petra.
"Wah, jangan-jangan lo belum move on dari si Angel," tebak Tama dan hal itu sukses membuat Dokter itu salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tebakan gue bener ya?" tanya Tama begitu melihat reaksi teman semasa kuliahnya tersebut. "Tra, Angel udah nikah lho!"
Petra menyuruh Tama lebih mendekat ke arahnya. "Gue dan Angel diam-diam masih menjalin hubungan," bisiknya.
"What?!" Tama dibuat melotot mendengar pengakuan dari salah satu psikolog terbaik di Jakarta tersebut.
"Mas, Dok, kalian ngomongin apa sih?" tanya Kinara yang sejak tadi hanya bisa menjadi pengamat karena dia tidak begitu mendengar hal yang dibicarakan oleh suami dan temanya tersebut.
"Bukan apa-apa kok, Sayang," jawab Tama. "Ya udah, Tra. Gue sama istri gue balik ya. Minggu depan kita ke sini lagi," pamit Tama.
Petra hanya mengangguk.
"Tra sebagai temen gue cuma ngingetin lo. Mendingan lo pikirin lagi deh soal hubungan lo itu. Jangan sampai gara-gara hal itu karir yang udah lo bangun ini hancur," tutur Tama. Petra tidak menjawab. Dia hanya tersenyum mendengar nasehat dari temannya itu.
Tama dan Kinara akhirnya keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Di tempat lain. Reni mengobrak-abrik beberapa barang peninggalan almarhum kakaknya. Dia ingin mencari agenda milik kedua kakaknya dan akan menunjukan agenda itu kepada Kinara.
Reni berharap. Setelah melihat buku agenda itu, Kinara bisa melepas rasa bersalah yang selama ini tertanam di hati. Salah satu hal yang menjadi sumber Kinara trauma.
"Akhirnya. Aku menemukan ini." Reni berujar senang. Dia memeluk buku itu dan berniat akan menunjukan buku itu kepada keponakannya nanti.
"Itu buku apa, Ren?" tanya Susanto.
"Ouh... ini buku daftar jadwal kegiatan Mbak Kasih dan Mas Herman dulu. Aku berharap setelah melihat daftar ini, Nara bisa terbebas dari rasa bersalah itu. Karena kepulangan Mbak Kasih dan Mas Herman malam itu memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Bahkan dua bulan sebelum hari ulang tahun Nara. Jadi, kepulangan Mbak Kasih dan Mas Herman itu murni karena keinginan mereka sendiri. Bukan karena rengekan Nara," terang Reni.
"Ngapain kamu repot-repot ngasih itu? Biarin aja dia trauma seumur hidup. Toh dia sudah bikin kita hidup menderita," jawab Susanto yang masih kekeh menganggap bahwa Kinara lah penyebab hidupnya menderita.
Reni menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Mas, kamu nggak salah ngomong?"
"Apa maksud kamu berkata begitu?"
"Kamu lupa atau amnesia sih? Sejak Nara remaja dia sudah bekerja keras menghidupi kita. Padahal dia yang seharusnya kita hidupi! Kita yang menghabiskan harta yang Mbak Kasih dan Mas Herman tinggalkan untuk Nara. Dan kamu nyalahin dia? Benar-benar ya laki-laki nggak tahu diri!" maki Reni. "Kita menderita karena kamu nggak mau kerja! Jadi, jangan salahkan Nara!"
__ADS_1
Untuk kedua kalinya, Reni berani memaki laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Kamu bentak aku demi keponakan sialanmu itu, Ren?" ucap Susanto dengan emosi.
"Tutup mulut kamu, Mas! Seharusnya sejak dulu aku bicara seperti ini kepadamu. Kamu lupa, Mas? Saat Mbak Kasih dan Mas Herman masih hidup, mereka yang menanggung biaya hidup kita. Dia tidak pernah membiarkan kita kekurangan apa pun. Bahkan saat usahanya sempat koleps, mereka juga tidak membiarkan kita hidup susah. Kamu lupa itu?"
Susanto mendengkus.
"Dan saat mereka meninggal, kita malah ikut menyalahkan Nara. Padahal itu bukan kesalahan dia. Anak sepuluh tahun yang kehilangan kedua orang tua, yang harusnya kita hibur, tapi malah kita bebankan dengan rasa bersalah. Kita terus mendoktrin otaknya untuk menyalahkan diri. Aku tidak pantas disebut Tante! Harusnya aku memberi Nara pelukan, tapi malah sibuk menyalahkanya." Reni menyesali semua perbuatannya kepada Nara. Air matanya meluncur bebas tanpa bisa dibendung.
"Meski terlambat. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku mau keponakanku bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang kecelakaan itu, kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya."
Susanto memutar bola matanya malas. Dia kesal karena Reni tak lagi satu pikiran dengannya.
"Ayo, Mas. Kita temui Nara dan minta maaf padanya!" ajak Reni.
"Malas! Kamu saja sana!" jawab Susanto.
"Ohya, sebentar lagi waktunya kita bayar kontrakan. Kamu harus pikirkan caranya untuk bisa membayar itu. Kali ini, aku tidak akan izinkan kamu memanfaatkan Nara atau pun Tama lagi. Lebih baik kita ngegembel daripada harus memanfaatkan mereka," ucap Reni. Dia kemudian mengambil tas dan memasukkan agenda itu ke dalamnya.
"Aku ke rumah Nara dulu ya, Mas," pamit Reni.
"Tunggu!" cegah Susanto.
"Ada apa?"
"Biar aku saja yang mengantar itu ke rumah Nara. Bukankah kamu bilang kamu tidak enak badan? Lebih baik kamu istirahat!" suruh Susanto.
"Tapi.... "
"Aku akan meminta maaf pada Nara. Setelah mendengar perkataanmu barusan, aku jadi sadar kalau aku juga salah. Izinkan aku meminta maaf pada mereka," ucap Susanto.
Reni menatap suaminya curiga.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu kalau aku beneran menyesal, Ren." Susanto berusaha meyakinkan.
"Baiklah. Kepalaku memang masih sedikit pusing." Reni mengeluarkan buku agenda itu dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada Susanto. "Sampaikan maafku kepada Nara ya, Mas. Bilang kalau aku sangat menyesal."
"Hm," jawab Susanto. Dalam hati Susanto merasa senang. Dia akan memanfaatkan buku itu untuk bisa mendapatkan uang dari Tama.
"Aku pergi ya, Ren," pamit Susanto.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Mas. Kalau Tama ataupun Nara berbicara kasar padamu, kamu yang sabar ya. Maklumi sikap mereka!"
"Iya-iya," jawab Susanto. Laki-laki pemalas itu pun melenggang meninggalkan rumah kontrakan dengan berbagai rencana busuk di otaknya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Reni, istrinya.