Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 58


__ADS_3

Akhirnya Reno dan Tama bertemu dalam sebuah rapat yang memang sebelumnya sudah disepakati. Rapat itu berjalan cukup lancar meski sempat terjadi perdebatan kecil. Keduanya akhirnya sepakat membangun hotel berkonsep keluarga.


"Senang bisa bekerjasama dengan Anda Pak Tama. Semoga ke depanya kita bisa bekerjasama di bidang lainnya juga." Reno dan Tama saling berjabat tangan.


"Hm."


"Saya permisi," pamit Reno.


"Tunggu!" seru Tama. Reno berbalik.


"Iya."


"Apa hubungan Anda dengan istri saya? Kalian terlihat akrab tadi."


"Jadi, Anda memperhatikan kami tadi?" tanya Reno dengan senyum yang entah apa artinya.


"Tidak juga. Aku hanya kebetulan melihat kalian berbincang di taman tadi karena ruang kerjaku tepat menghadap taman itu," jawab Tama.


"Ouh. Ku kira Anda sengaja memperhatikan kami karena Anda tidak suka melihat kami bersama. Untunglah bukan itu alasanya," sahut Reno lagi.


"Apa maksudmu?"


"Aku dengar Anda tidak mencintai istri Anda. Jika memang benar demikian, izinkan aku mengejar istri Anda. Jujur saja, aku sudah lama memendam perasaan sukaku pada Nara. Kalau saja Anda belum menikahinya, mungkin saat ini aku sudah melamarnya," jawab Reno panjang lebar.


Tama mengepalkan tanganya. Namun, dia tetap berusaha menahan diri untuk tidak menunjukan perasaan kesalnya itu di hadapan Reno.


"Kalau Anda tidak memiliki perasan malu, silakan saja!"


"Aku bisa mengabaikan semuanya demi Kinara, termasuk perasaan malu yang Anda maksud," jawab Reno yang sengaja memprovokasi suami dari teman masa kecilnya tersebut. "Kalau tidak ada hal lain yang ingin Anda bicarakan lagi. Saya permisi. Kita akan bertemu lagi saat proyek itu mulai berjalan."


Reno memberi hormat, setelah itu pergi meninggalkan Tama yang masih berdiam diri di tempat rapat.


"Dia pikir siapa dia? Berani sekali ingin merebut Nara dariku?" gumam Tama kesal. "Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak suka ada orang lain yang juga menyukai Nara?"

__ADS_1


Tama masih berdiam diri bangkunya. Dia mengingat perkataanya sendiri yang pernah berjanji akan melepaskan Nara jika ada lelaki yang tulus mencintai wanita yang berstatus istrinya tersebut. Namun, kenapa ketika hari itu tiba hatinya tidak rela?


Tama tidak siap melepaskan Nara sesuai dengan janjinya. Bahkan lebih terkesan tidak rela. Membayangkan Nara pergi dari hidupnya saja sudah membuat ia sulit untuk bernapas. Apa ini berarti ia sudah jatuh cinta kepada gadis itu? Atau dia hanya merasa tidak rela karena berarti kebahagiaan si kembar akan hilang?


Sebuah tepukan di bahu menariknya dari lamunan dan itu adalah tepukan dari Nara. Wanita yang beberapa saat yang lalu menguasai hati dan pikiranya. Wanita yang membuatnya kembali merasakan takut akan kehilangan. Tama belum siap untuk itu.


"Kenapa kamu malah melamun di sini? Taki dan Maki barusan merengek ingin makan siang bersama kita. Mereka bahkan rela menahan lapar demi bisa makan siang bersamamu. Kamu sudah selesai rapat kan, Mas?" Kinara memberondong Tama dengan pertanyaan.


Mata Kinara membulat ketika Tama tiba-tiba memeluknya.


"Ada apa?" tanya Kinara bingung.


Tama merenggangkan pelukan dan menatap lekat dua bola mata kecoklatan milik Kinara. "Jangan pergi! Jangan pernah pergi dari sisiku!" lirihnya.


Perkataan itu memang tidak begitu jelas, namun masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Kinara.


"Mas, siapa juga yang mau per.... "


Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Tama membungkam mulutnya dengan bibir. Karena terkejut, Kinara hanya diam saja saat bibir milik Tama bergerak menyesap bibir bawahnya. Merasa tak mendapat balasan membuat duda yang biasa bersikap dingin itu mengakhiri kegiatanya. Namun, kali ini Kinara memberanikan diri menahanya. Dengan cepat dia menahan Tama yang ingin mengakhiri ciuman itu. Kinara mengalungkan kedua tanganya di leher Tama dan ikut menggerakan bibirnya diatas bibir sang suami, meski kaku. Tama menarik pinggang Kinara agar lebih menempel ke tubuhnya. Bibir keduanya bergerak seperti vacum cleaner. Kedua tangan Tama bahkan sudah mulai bergerak menelusup ke dalam baju Kinara. Dan sebaliknya, tangan Kinara juga mulai melepas kancing atas kemeja yang Tama pakai setelah sebelumnya melempar jas yang dipakai pria itu kesembarang tempat.


Kinara merapikan bajunya yang sedikit berantakan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Tama. Pria itu mengambil jas dari lantai dan memakainya kembali.


"Mama dan Papa barusan sedang ngapain?" tanya Maki dengan tatapan polosnya.


Wajah Tama dan Kinara bak kepiting rebus saat ini, merah.


"E... tadi mata papa kelilipan, jadi mama bantuin papa niup," dusta Kinara. Tidak mungkin kan dia mengaku kalau dia dan Tama sedang berciuman, bahkan hampir kebablasan karena terbawa suasana.


"Benarkah?" tanya Maki dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja benar. Tapi, kenapa kalian menyusul kemari? Bukankah mama sudah bilang agar kalian menunggu saja di ruangan papa?" jawab Kinara.


"Habisnya mama lama. Kita kan sudah lapar," jawab Maki sambil mengkerucutkan bibir.

__ADS_1


"Maaf-maaf. Mama lupa kalau kalian sudah kelaparan," ucap Kinara. Dia mencuit hidung Maki gemas.


"Ayo kalau begitu kita makan sekarang! Ayo, Mas!" ajak Kinara.


Sepanjang perjalanan menuju ke restoran, Tama terus merutuki kebodahanya. Bisa-bisanya dia mencium Kinara lebih dulu. Dan lebih parahnya, dia hampir melakukan hal yang lebih dari itu. Kalau saja kedua anaknya tidak hadir tepat waktu. Tama pasti sudah melakukan hal itu, tanpa memikirkan tempat.


"Apa Kinara akan berpikir kalau aku ini pria mesum?" batin Tama. Sesekali dia melirik Kinara yang sedang asik ngobrol dengan kedua putra kembarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Kinara yang sadar kalau sejak tadi Tama terus memperhatikanya.


"Ti... tidak apa-apa," jawab Tama gugup.


"Papa kepanasan ya?" tanya Taki.


"Kepanasan? Kenapa Taki bertanya seperti itu?" tanya Tama kepada putranya tersebut.


"Habisnya wajah Papa merah," jawab Taki jujur.


"Benarkah? Papa rasa ini terjadi karena cuacanya memang agak panas hari ini," jawab Tama.


Mendengar jawaban dari Sang ayah, tentu membuat Taki dan Maki saling melemparkan pandanganya. Keduanya kembali menatap wajah papanya dengan tatapan aneh.


"Lho kok kalian menatap papa dengan tatapan aneh seperti itu? Apa jawaban papa ada yang salah?" tanya Tama bingung.


"Papa tidak sedang sakit kan?" tanya Maki.


Tama menggeleng. "Tidak," jawabnya.


"Papa juga tidak sedang tertekan karena sesuatu kan?" kini giliran Taki yang bertanya.


"Ehm. Tentu saja tidak!" jawab Tama. "Papa rasa, papa cukup sehat hari ini," ujar Tama penuh percaya diri.


"Memangnya kenapa kalian bertanya seperti itu sama papa?" Kini giliran Tama yang memberikan pertanyaan kepada kedua putra kembarnya.

__ADS_1


"Mas, langit gelap lho. Bahkan anginnya juga lebih kenceng dari biasanya," bisik Kinara di telinga Tama.


Teng! Detik itu juga Tama merasa seperti orang begok karena jawabanya sendiri. Tama hanya bisa menyengir tanpa mengatakan apa pun lagi.


__ADS_2