Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 61


__ADS_3

Setibanya di rumah, Kinara langsung membawa putra kembarnya itu ke kamar. Dan benar saja keduanya langsung tertidur dengan pulas begitu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Sepertinya mereka benar-benar mengantuk," gumam Kinara. Dia melepas sepatu yang dipakai oleh Taki dan Maki bergantian. "Selamat beristirahat ya anak-anak." Tak lupa ia juga mendaratkan sebuah kecupan di kening mereka. Setelah itu barulah Kinara keluar dari kamar si kembar.


Seperti yang sudah didengar dari Tama pada saat di kantor. Sekitar pukul 15.00 WIB, 3 orang kandidat pengasuh yang dikirimkan oleh yayasan tiba di rumah. Ketiga orang itu berhadapan langsung dengan Kinara untuk diwawancarai.


"Jadi, nama kamu Susi?" tanya Kinara kepada kandidat bernama Susi.


"Iya, Buk. Saya Susi."


"Asal dari mana? Sudah menikah? Apa alasan Anda bekerja sebagai pengasuh?" Kinara memberondong kandidat bernama Susi itu dengan beberapa pertanyaan.


"Saya dari Jawa, Buk. Tepatnya di kota Batang. Kebetulan saya belum menikah, Buk dan alasan saya menjadi pengasuh karena memang sejak dulu saya menyukai anak-anak. Sebenarnya saya pernah bermimpi ingin menjadi seorang guru TK, tapi karena pendidikan saya tidak mumpuni, saya banting setir jadi pengasuh," jelas Susi. Dari tatapan dan cara bicaranya sepertinya Susi ini adalah orang yang jujur dan pekerja keras. "


"Sebelumnya sudah bekerja sebagai pengasuh dimana? Dan apa alasan yang membuatmu keluar dari tempat kerja sebelumnya?"


Susi adalah wanita muda berumur 25 tahun. Dalam cv tertulis, jika 3 bulan yang lalu dia baru berhenti bekerja dari tempat sebelumnya.


"Saya dipecat majikan saya karena dikira saya merayu majikan saya yang laki-laki. Padahal saya bersumpah lho Buk, saya nggak pernah mencoba melakukan itu. Tapi, memang majikan saya itu yang agak ganjen sih. Dia pernah ngedip-ngedipin mata ke saya. Sebenarnya bukan dipecat sih, Buk. Saya yang meminta yayasan untuk menarik saya dari rumah itu. Saya nggak mau merusak rumah tangga orang. Apalagi majikan saya itu sudah lumayan tua, kalau masih muda sih nggak apa-apa, meski cuma jadi selingan," cerocos Susi.


Mata Kinara membulat. Dia tidak menyangka Susi memiliki pemikiran diluar nalar. "Memangnya berapa umur mantan majikanmu itu?" tanyanya.


"Majikan perempuan saya umurnya sekitar 30 tahunan, dia istri ke empat. Kalau majikan yang laki-laki umurnya sudah 60 tahun lebih, sudah aki-aki. Makanya saya nolak tawaran buat jadi selingkuhan, kalau masih muda sih nggak masalah karena itunya pasti masih kenceng," jawab Susi tanpa berdosa.

__ADS_1


Kinara menghela napas panjang. Dia mencoret nama Susi dari daftar kandidat. Siapa juga yang mau mengambil resiko suaminya diambil sama tuh calon pengasuh.


"Terima kasih, Mbak Susi karena sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Tapi, maaf. Anda bukan kandidat yang pas untuk menjadi pengasuh anak-anak saya. Silakan Anda bisa pergi dari sini sekarang juga!" Kinara mempersilakan wanita bernama Susi itu untuk pergi.


Dengan wajah merengut, wanita bernama Susi itu pun pergi meninggalkan rumah Tama.


Calon kandidat kedua bernama Anisah, umur 33 tahun, seorang janda dengan dua orang anak. Dia berhenti dari tempat sebelumnya karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang majikan. Setelah menanyakan beberapa pertanyaan, Kinara pun memutuskan tidak menerima wanita itu. Dia merasa ada sesuatu yang kurang sreg dengan kandidat kedua.


Kandidat yang terakhir adalah Mirah. Usianya sekitar 45 tahun. Kalau dilihat dari pengalaman kerja wanita ini jauh diatas dua orang sebelumya. Dia juga terlihat lebih sabar dari kandidat yang sebelumnya. Sayangnya saat sedang dilakukan wawancara, wanita itu sempat terdengar mengatakan kata-kata kasar dan itu membuat Kinara juga tidak bisa menerima kandidat yang ketiga.


"Hah, ternyata mencari yang sesuai kriteria susah juga," gumam Kinara setelah tiga orang kandidat itu pergi dari rumahnya. "Apa sebaiknya aku resign dari kantor saja ya? Tapi, bagaimana caranya aku ngembaliin uang dari Mas Tama kalau tidak kerja?"


Kinara bukannya tidak mau fokus mengurus si kembar. Akan tetapi keinginannya untuk mengembalikan uang yang Tama berikan sebelum menikah membuatnya ingin tetap bekerja. Akan tetapi saat membayangkan kedua anak sambungnya yang bermain tanpa pengawasan juga membuat hatinya was-was.


Tiba-tiba Kinara ingat dengan pesan dari ibu mertuanya yang mengatakan akan datang ke rumah malam ini untuk mengajak dirinya dan Tama berbicara. Tidak hanya dari Bintang, mantan ibu mertua dari Tama juga mengirim pesan yang sama.


Kinara kembali menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskanya. "Hah... apa Mommy Bintang dan Tante Dewi akan percaya kalau aku mencintai mereka dengan tulus?"


***


Langit yang tadinya terang sudah berubah menjadi gelap karena sang surya sudah tidak menampakkan diri. Namun tetap terlihat indah karena bertaburkan dengan banyak bintang.


Kinara menunggu kepulangan Tama dengan berdiri di atas balkon kamarnya. Tapi, tunggu! Mata Kinara memicing saat melihat sosok yang tidak asing berdiri di depan pintu pagar rumah tempat tinggalnya. Sosok yang sudah dipecat bahkan diusir oleh suaminya pagi tadi, Mirna. Iya. Kinara melihat pengasuh tidak tahu diri itu berdiri di depan pagar rumah lengkap dengan koper-kopernya.

__ADS_1


"Hah. Ngapain dia datang lagi?" Kinara menghembuskan napas berat. Malas sebenarnya kalau harus berdebat dengan pengasuh yang tingkat halunya melebihi halunya para penulis novel online. Tidak lama ia melihat mobil suaminya datang. Mereka seperti berbincang sebentar atau lebih tepatnya Mirna yang terlihat memaksa berbicara. Dan entah apa yang dikatakan oleh si Mirna kepada Tama hingga pria itu akhirnya mempersilakan ia masuk ke dalam rumah. Karena penasaran, Kinara pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemui mantan pengasuh Taki dan Maki itu.


"Mas, ada apa Mbak Mirna datang ke sini lagi?" tanya Kinara kepada suaminya.


"Dia bilang, dia disuruh datang ke sini oleh Mommy dan Mama Dewi. Katanya ada yang ingin mereka bicarakan dengannya di sini," jawab Tama karena memang itulah jawaban yang diberikan oleh Mirna saat ditanya perihal kedatanganya ke tempat ini.


"Apa hal yang ingin mereka bicarakan dengan Mirna sama dengan hal yang ingin mereka bicarakan dengan kita?" Kinara jadi makin penasaran dengan hal yang ingin Bintang dan Dewi bicarakan dengannya dan Tama.


Tama hanya mengedikan bahu.


"Masa kamu nggak bisa menebak sih," gerutu Kinara.


"Aku bukan para normal yang bisa menebak pikiran orang," jawab Tama santai. Kinara beralih menatap Mirna yang sudah duduk di sofa, padahal belum ada yang mempersilakanya untuk duduk di sana.


"Malam Nyonya Nara. Eh, lupa. Aku kan nggak kerja di sini lagi. Karena umurku lebih tua dari kamu, aku panggil Nara aja ya? Atau Kina?" Wanita yang memiliki usia terpaut 13 tahun diatas Kinara itu menyapa dengan pongah.


"Baguslah kamu sadar diri kalau kamu itu sudah tua," celetuk Kinara asal. Dia bosan harus menghadapi wanita yang urat malunya sudah putus tersebut. Hampir saja Tama tertawa mendengar jawaban nyeleneh Kinara. Namun, dia tahan demi tetap terlihat berwibawa.


Mirna memonyongkan bibir. Dia tidak ikhlas dikatakan tua oleh Kinara. "Kamu.... "


"Kamu bisa menunggu di luar kalau tidak bisa menghormati istriku," potong Tama.


Mirna tentu tidak mau jika harus menunggu di luar. Dia akan bersabar sedikit lagi. Mirna yakin kalau kali ini Kinara pasti akan diusir tidak hanya oleh Dewi, tapi juga Bintang.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak Tama," ucap Mirna sambil menunduk.


Tidak lama berselang, terdengar dua bunyi mobil memasuki halaman rumah Tama. Mereka yakin mobil yang baru datang itu adalah mobil milik Dewi dan Bintang. Dan benar, dua wanita yang selalu dihormati oleh Tama itu muncul dari balik pintu.


__ADS_2