Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 82


__ADS_3

Tante Reni dan Susanto tertawa terbahak-bahak begitu mendengar penjelasan Tama alasan Kinara menutup wajahnya saat perawat datang. Mereka tidak pernah menyangka, jika seorang Tama Wijaya yang dikenal dingin, ternyata bucin juga.


"Tante, Om, kenapa kalian malah ngetawain aku sih?" protes Kinara sambil cemberut.


"Maaf, Sayang. Kami hanya tidak bisa membayangkan saja, gimana perasaan tuh perawat saat memergoki kalian bermesraan. Apalagi kalau misalnya perawat itu jomlo. Gak kebayang deh," balas Tante Reni.


"Udah, yuk, Mas. Kita balik ke kamar aja. Kalau Tante dan Om butuh sesuatu biar mereka urus sendiri!" ajak Kinara merajuk. Wanita itu persis seperti anak kecil yang sedang mengadu dengan orang tuanya.


Bukannya marah, Tante Reni dan Susanto malah terlihat senang melihat tingkah Kinara itu. Jangankan untuk merajuk, bercerita tentang kesehariannya saja tidak pernah. Keponakannya itu selalu terlihat dewasa dari pada usianya. Dan sekarang saat melihat Kinara akhirnya memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan bermanja, sedikit membuat hati dua orang itu lega.


"Ayo, Mas! Kita balik ke kamar kita!" ajak Kinara. Wajahnya terlihat menggemaskan saat bersikap manja seperti itu.


"Iya, Sayang, iya. Ayo!" Tama pun membawa istrinya itu keluar dari ruang rawat Reni dan Susanto.


"Aku senang melihat mereka bahagia. Semoga selamanya mereka akan terus seperti itu," ujar Reni sambil menatap sepasang suami istri yang baru saja keluar dari sana.


"Amin," balas Susanto. Dia juga ikut bahagia melihat keponakannya bahagia.


***


Beberapa hari kemudian....


Akhirnya Reni dan Susanto sudah diperbolehkan pulang. Kinara yang sudah beberapa hari pulang terlebih dulu, terlihat datang menjemput. Tak lupa dia juga mengajak ke dua putra kembarnya ikut serta.


"Lho, Nara. Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju ke kontrakan Om dan Tante," tanya Reni saat melihat mobil yang Tama kendarai bukan menuju ke kontrakan mereka.


Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan rumah yang tidak asing bagi mereka. Mereka semua turun dari mobil.


"Nara, kenapa kita ke sini?" tanya Tante Reni bingung.


"Mulai sekarang, Om dan Tante bisa tinggal di rumah ini lagi," ucap Kinara.


"Nara, tapi... kami yang membuat rumah ini hampir lepas dari tanganmu. Kami tidak pantas menerima kebaikanmu," balas Tante Reni.


"Tante, kalau rumah ini dibiarkan tanpa berpenghuni, bangunan rumah ini pasti akan cepat rusak. Jadi, Tante dan Om Susanto mau ya menempati rumah ini lagi. Rawatlah rumah ini sama seperti almarhum mama dan papa merawatnya."


Iya, Kinara dan Tama membawa Reni dan Susanto ke rumah Kinara yang pernah digadaikan oleh om dan tantenya tersebut. Rumah menyimpan berjuta kenangan tentang kedua orang tua Kinara.


"Om, Tante, tinggallah di rumah ini lagi ya!" pinta Kinara.


Tante Reni memeluk Kinara dengan erat. Dia begitu bahagia karena keponakannya masih mengizinkan mereka untuk tinggal di rumah besar ini lagi.


"Tante janji Nara, Tante akan menjaga rumah ini dengan baik," ucap Tante Reni bersungguh-sungguh.


"Ohya, sebentar." Tama mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. "Ini buat bekal hidup kalian. Kalian bisa buka usaha apa aja dengan uang ini. Terima lah!" Tama memberikan amplop berwarna coklat kepada Reni dan Susanto.

__ADS_1


Namun, diluar dugaan. Keduanya menolak uang tersebut. "Tam, tolong jangan membuat kami semakin malu dengan perbuatan kami dulu. Kami, tidak akan menerima sepeserpun uang darimu. Mulai sekarang kami akan berusaha mencari uang sendiri dengan tenaga sendiri," ucap Om Susanto. "Jika kamu ingin membantu Om, bantulah dengan memberikanku pekerjaan. Om ingin bisa menghasilkan uang dengan keringat Om sendiri."


"Kalau boleh tahu pendidikan terakhir Om apa ya?" tanya Tama.


"Om hanya lulusan SMP. Dulu Om malas untuk belajar makanya sering tinggal kelas. Dan saat lulus SMP, Om memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan Om karena malu sama teman-teman, Om," jawab Susanto.


"Ada sih lowongan di perusahaan untuk lulusan itu, tapi... apa Om tidak malu?" tanya Tama dengan berhati-hati.


"Tidak. Apa pun pekerjaannya, Om tidak akan malu. Asal itu halal," jawab Om Susanto bersemangat.


"Kebetulan, ada satu tukang kebun di perusahaan baru saja resign karena sudah tua. Jadi, posisinya kosong. Kalau Om mau, Om bisa menggantikannya. Soal gaji tenang saja sesuai UMR, kok. Dan ada bonus tiap minggunya bagi pekerja yang rajin," jawab Tama. "Tapi, kalau Om malu tidak usah dipak.... "


"Om mau, Tam. Mau banget. Om pasti akan bekerja dengan baik," potong Susanto.


"Om, yakin?" tanya Tama memastikan.


"Seribu persen malah," jawab Om Susanto.


"Baiklah, besok Om bisa langsung datang untuk bekerja."


"Terima kasih, Tama. Terima kasih," ucap Om Susanto senang.


***


Sebulan kemudian....


"Tidak usah dipaksa dulu, Nyonya, jika memang belum bisa. Ini saja sudah termasuk ada kemajuan karena Anda tak lagi histeris saat melihat kue itu," ucap Dokter Petra menenangkan.


"Tapi, aku akan mencobanya lagi, Dok. Dua hari lagi adalah ulang tahun Taki dan Maki. Aku ingin bisa merayakan ulang tahun mereka berdua disertai dengan balon, kue, dan tiup lilin. Aku ingin anak-anakku bahagia di momen spesial mereka," ucap Kinara.


"Tapi, Nyonya Nara.... "


"Aku mohon, izinkan aku mencobanya sekali lagi!" pinta Kinara.


Dokter Petra menghembuskan napasnya. "Baiklah, tapi kalau kali ini belum berhasil juga. Jangan dipaksa ya. Masih banyak waktu untuk Anda mencobanya lagi," tutur Dokter Petra.


"Iya, Dok."


Sekali lagi, Kinara mencoba menyentuh kue itu. Namun, sayangnya ia kembali gagal. Tubuhnya masih saja tremor saat mencoba memegang benda itu.


"Sayang, jangan sedih. Kita kan bisa ngerayain ulang tahun Taki dan Maki dengan kue, balon, dan lilin tahun depan. Jadi, masih banyak waktu untuk mencobanya. Taki dan Maki, bisa ngerti keadaan kamu kok," ucap Tama. Dia berusaha menghibur istrinya yang terlihat sedih karena masih belum bisa memegang kue ulang tahun tersebut.


Terpaksa, Kinara menyudahi terapinya hari itu. Padahal sebelumnya dia berharap kalau di momen spesial kedua putra sambungnya, dia sudah sembuh dari trauma tersebut. Nyatanya menyembuhkan trauma tak semudah menyembuhkan luka gores karena benda tajam.


***

__ADS_1


Beberapa hari kemudian....


Pesta ulang tahun Taki dan Maki akhirnya digelar. Meski tanpa kue dan balon, Tama dan keluarga tetap sepakat mengundang teman-teman dari kedua putranya untuk merayakan. Bahkan semua anggota Keluarga Wijaya juga sudah ikut berkumpul di kediaman Tama tersebut.


"Ini kado dari Oma dan Opa untuk Taki dan Maki, semoga kalian suka ya." Bintang memberikan kado kepada cucu kembarnya.


Kado dari sepupu-sepupu si kembar pun ikut menyusul. Kedua bocah kembar itu tetap memperlihatkan rasa bahagianya meski sebenarnya mereka merasa ada yang kurang karena harus merayakan ulang tahun tanpa adanya kue, lilin, dan juga balon. Ketiga benda yang biasanya ada di momen spesial tersebut.


"Ya, sudah. Kita mulai makan makanannya saja yuk!" seru Bintang.


"Tapi, Oma. Mama belum kelihatan. Kita makannya nungguin mama dulu," ucap Maki.


Bintang mengedarkan pandangan dan benar. Menantunya itu tidak terlihata disana.


"Tam, dimana Nara? Apa traumanya kambuh melihat suasana ramai seperti ini?" tanya Bintang cemas.


"Perasaan tadi dia baik-baik saja, Mom," jawab Tama.


"Terus kenapa dia tiba-tiba ngilang? Kamu ini, masa sebagai suami nggak peka sih istri kenapa-napa? Mungkin saja dia bilang tidak kenapa-napa karena tidak ingin membuatmu atau anak-anak cemas," Bintang memarahi putra sulungnya itu.


"Ya udah, Mom. Aku cari Nara dulu sebentar," ucap Tama.


Baru saja dia akan melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan istrinya tersebut, tiba-tiba lampu padam dan dari arah pintu muncul Kinara dengan membawa kue di tangan. Dikiri kanannya ada Tante Reni dan Om Susanto yang membawa banyak balon di tangan.


Taki dan Maki terlihat berbinar melihat semua itu.


"Sayang, ayo tiup lilinnya!" suruh Kinara kepada kedua putra sambungnya itu.


"Mama tidak kenapa-napa?" tanya Kedua bocah kembar itu bersamaan.


Kinara menggeleng. "Mama sudah sembuh. Mulai sekarang, kita akan rayakan ulang tahun dengan kue, lilin, dan balon setiap tahunnya," jawab Kinara.


"Yey. Kami sayang Mama," ucap Taki dan Maki. Kedua bocah kembar itu memeluk Kinara dari samping kiri dan kanan.


"Eh, tiup lilin dulu. Ayo sebelum lilinnya padam!" suruh Kinara lagi.


Kedua bocah kembar itu pun mulai meniup lilin.


Akhirnya hari bahagia itu bisa mereka rayakan dengan sempurna. Dan kebahagiaan keluarga Wijaya semakin bertambah saat Tama memberitahu semua anggota keluarga yang lain bahwa saat ini Kinara sedang mengandung.


...~TAMAT~...


NB: TERIMA KASIH BUAT SEMUA READER YANG SUDAH MENGIKUTI KISAH TAMA DAN KINARA DARI AWAL. MAAF YA JIKA ENDINGNYA TIDAK SESUAI DENGAN HARAPAN KALIAN. SAMPAI JUMPA DI KARYAKU BERIKUTNYA.


OHYA IN SYAA ALLAH MULAI BESOK CAHAYA UNTUK BINTANG AKAN KEMBALI UPDATE RUTIN. DAN SATU LAGI BULAN DEPAN IN SYAA ALLAH JUGA AKAN ADA KARYA BARUKU LAGI. JANGAN LUPA BUAT IKUTI YA.

__ADS_1


SEKALI LAGI TERIMA KASIH DAN SARANGHAE, LOVE YOU SEKEBON.


__ADS_2