Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 26


__ADS_3

Sebelum mandi, Kinara menyiapkan baju ganti untuk Tama. Dia mengambil setelan jas berwarna hitam, kemeja putih, dan dasi berwarna putih abu. Ia meletakan semua pakaian ganti itu di atas tempat tidur.


Tama dan Kinara memang tidur di ranjang yang sama, namun keduanya sepakat untuk tetap berada di kamar yang sama. Kinara tidur di atas tempat tidur, sedangkan Tama tidur di sofa atau kadang dia tidur di ruang kerjanya.


"Apa-apaan sih dia? Sudah dibilang gak usah berlagak jadi istri, masih aja ngeyel," gumam Tama saat melihat sudah ada pakaian kerja di atas tempat tidur. Dia sengaja mengabaikan baju ganti yang Kinara siapkan dan malah mengambil baju ganti sendiri dari dalam lemari.


"Lho... Pak, kok pakai itu? Kan sudah aku siapin baju gan.... "


"Berhenti berperan seperti istri sungguhan karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah menganggapmu sebagai istri. Ingat itu!" Tama memotong perkataan Kinara sebelum wanita itu menyelesaikan perkataanya.


Kinara terdiam mendengar perkataan Tama barusan. Ia kira setelah menghabiskan waktu bersama seharian kemarin, lelaki yang berstatus suaminya tersebut akan bersikap lembut. Tetapi ternyata lelaki itu kembali ke mode awal yakni kulkas 4 pintu.


"Tapi, Pak.... "


"Apa?!" sentak Tama yang membuat nyali Kinara menciut. "Jangan mengajakku berbicara kecuali urusan pekerjaan dan anak-anak. Mengerti!"


Kinara mengangguk, dia terpaksa menuruti perintah suaminya yang menyuruhnya untuk tak lagi berbicara, padahal Kinara berniat memberitahu suaminya akan sesuatu.


"Sebaiknya kita segera sarapan, aku tidak mau telat ke kantor!" ajak Tama. Laki-laki itu berjalan lebih dulu meninggalkan kamar.


"Dasar! Padahal niatku baik, tapi sudahlah terserah dia," gerutu Kinara. Dia pun mengekori Tama menuju ke ruang makan.


Tanpa banyak bicara Tama duduk di kursinya seperti hari-hari biasa, di sana juga sudah ada Taki dan Maki. Kedua bocah itu tertawa cekikikan saat papanya datang.


"Ayo sebelum makan kita baca doa dulu!" Tama mengajak anak dan yang lainya untuk berdoa sebelum mulai menyantap makanan mereka. Namun, Taki dan Maki masih cekikikan.

__ADS_1


"Taki, Maki, kenapa kalian masih ketawa? Ayo doa dulu!" seru Tama lagi.


"Habisnya Papa lucu kayak anak kecil," jawab Taki.


"Iya, Papa lucu." Maki ikut menyahut.


Tama menatap kedua putranya bingung. Dan bertambah bingung ketika Bik Sumi juga ikutan menahan tawa.


"Bik Sum, ada apa? Kenapa Bibik dan yang lainya malah ketawa sih?" Tama bertanya kepada Bik Sumi.


"Itu Tuan.... "


"Tuan salah masukin kancing jas yang Tuan pakai," jawab Mirna. "Pasti Nyonya sengaja ngelakuin itu supaya Tuan malu," tambahnya.


Sontak Tama melihat ke arah kancing jasnya, ternyata benar dia salah masukin kancing.


"Iya. Nyonya sengaja kan ngelakuin itu biar Tuan jadi bahan tertawaan bawahanya?" Mirna bertingkah seolah dialah istri dari majikanya tersebut.


Kinara hanya memutar kedua bola matanya dan enggan menanggapi perkataan pengasung anaknya tersebut.


"Biar saya bantu benerin, Tuan." Mirna hendak membantu membetulkan kancing tersebut, namun Tama langsung memundurkan tubuhnya.


"Aku bisa sendiri," ujar Tama dengan nada tegas.


"Maaf, Tuan. Saya hanya berniat memban.... "

__ADS_1


"Kamu cuma pengasuh disini, jadi bersikaplah selayaknya pengasuh. Mengerti!"


Mirna menunduk takut. "I... Iya, Tuan," jawabnya dengan sedikit terbata.


"Maaf, apa kita bisa mulai sarapan sekarang?" Kinara menginterupsi. Dia sengaja melalukan itu untuk mengurai ketegangan yang terjadi.


"Iya, Pa. Taki udah lapar, kita bisa kan sarapan sekarang?" Taki bertanya kepada papanya.


"Aku juga sudah lapar," ujar Maki sambil cemberut.


"Ya sudah kita sarapan sekarang, tapi ingat harus doa dulu," jawab Tama.


"Oke, Papa."


Setelah membaca doa, mereka semua mulai menyantap sarapan mereka masing-masing.


Usai sarapan Kinara memasukan bekal makanan milik Taki dan Maki ke dalam tas. Dia tidak mau dua anak itu jajan sembarangan di sekolahnya.


"Taki, Maki, inget ya bekalnya harus dihabiskan. Kalau sampai tidak habis, mama bakalan marah sama kalian. Nanti mama akan suruh Mbak Mirna buat ngawasin kalian, ngerti," tutut Kinara.


"Ngerti, Ma," jawab kedua bocah kembar tersebut.


Mirna tersenyum. Dia berharap dua bocah itu akan memakan habis bekal yang Kinara siapkan.


"Ma, Pa, kami berangkat sekarang ya. Assalammualaikum," pamit Taki dan Maki.

__ADS_1


Taki dan Maki bersama dengan Mirna diantar oleh supir ke sekolah. Sementara Kinara berangkat ke kantor bersama dengan Tama. Setidak suka-sukanya Tama terhadap Kinara, ia tidak mungkin menyuruh wanita itu berangkat ke kantor sendiri karena bagaimana pun mereka adalah suami istri dan akan aneh jika mereka berangkat sendiri-sendiri.


__ADS_2