Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 24


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Tama menunggu Kinara dan kedua putranya bermain komedi putar dan belum ada tanda-tanda mereka akan menyudahi permainan. Tentu saja hal tersebut membuatnya bosan.


Beberapa kali Tama menghela napas dan melihat jam digital di layar ponselnya.


"Kapan mereka berhenti main? Mana setelah ini katanya mau nonton film, pasti bakal kemaleman sampai rumah," gumam Tama.


"Apa aku ambil laptop saja ya di mobil, jadi aku bisa menunggu mereka sambil menyelesaikan pekerjaanku?"


Untungnya sebelum Tama melaksanakan niat tersebut Kinara dan kedua putra kembarnya sudah turun dari komedi putar dan menghampirinya.


"Hampir saja kalian aku tinggal di sini," kata Tama dengan nada sedikit ketus.


"Maaf, sudah lama sekali aku tidak naik komedi putar makanya aku jadi lupa waktu. Sekali lagi maafin aku ya, Pak!" ucap Kinara.


"Pak?!" Taki dan Maki menatap kedua orang tuanya bergantian saat dengan tatapan penuh tanya ketika mendengar Kinara memanggil papa mereka dengan sebutan Pak.

__ADS_1


"Ouh... maksud mama, Mas," ralat Kinara. "Mama biasa memanggil papa kalian di kantor dengan sebutan Pak, jadi itu tanpa sadar kebawa-bawa." Tanpa kedua anak itu minta, Kinara memberikan penjelasan.


"Oh." Hanya kata itu yang menjadi respon Taki dan Maki.


"Apa kita jadi nonton setelah ini?" Tama menginterupsi.


Untuk sesaat suasana menjadi hening. Maki, Taki, dan Kinara saling tatap kemudian ketiganya langsung menjawab," tentu."


"Kalau begitu ayo pergi ke bioskop sekarang!" ajak Tama.


Tama benar-benar kesal karena lagi-lagi dia harus mengantre untuk mendapatkan tiket film. Tidak hanya itu bahkan untuk mendapatkan camilan yang diinginkan oleh kedua anaknya ia pun harus mengantre lagi. Benar-benar hari yang melelahkan bagi, Tama. Namun, semua itu terbayar lunas ketika melihat kedua putranya tampak bahagia.


"Terima kasih karena sudah berperan sebagai ibu yang baik untuk kedua anakku," ucap Tama saat si kembar sudah tertidur pulas di dalam mobil.


"Itu sudah kewajibanku sebagai ibu mereka. Lagian aku juga sangat menikmati hari ini. Berkat Bapak dan anak-anak aku bisa bermain lagi di wahana bermain setelah bertahun-tahun," tutur Kinara. Wanita itu tersenyum tulus.

__ADS_1


Mobil yang Tama kendarai akhirnya tiba di halaman rumah mereka. Mirna yang melihat kepulangan majikanya itu segera lari ke depan rumah untuk menyambut.


"Selamat datang Pak Tama, Bu Nara," sapa Mirna.


"Saya bantu, Pak." Mirna menawarkan diri, dia bahkan sudah berinisiatif untuk membantu Tama mengangkat tubuh Si kembar yang tertidur di dalam mobil.


"Tidak usah, Mbak. Biar saya yang gendong Maki. Mbak Mirna bawa aja semua barang bawaan kami masuk ke dalam!" Kinara terlebih dulu menggendong tubuh Maki dan membawanya masuk ke kamar mengikuti Tama yang sudah lebih dulu menggendong Taki masuk ke dalam rumah.


"Dasar caper! Padahal juga biasanya aku yang gendong mereka," gerutu Mirna. Dia kesal keada Kinara karena gara-gara wanita itu, dia tidak bisa mendekati Tama.


"Kalau dia terus perhatian sama si kembar, pasti lama kelamaan Pak Tama bakalan luluh dan akan lupa dengan janjinya dengan si nenek lampir." Murna berbicara dalam hati. "Tidak, aku tidak bisa diam saja. Aku harus cari cara agar Kinara dicap sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak sambungnya. Jadi, Pak Tama bakalan makin tidak suka sama tuh cewek caper. Tapi, bagaimana caranya ya?" Mirna memutar otak guna mencari ide. Sayangnya belum ada ide cemerlang yang bisa ia dapatkan saat ini.


"Sudahlah. Aku pikirkan besok saja gimana caranya bikin Kinara dibenci sama Pak Tama. Sekarang lebih baik aku tidur dulu." Lagi. Mirna bermonolog.


Pengasuh Taki dan Maki itu pun membereskan barang-barang dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2