Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 59


__ADS_3

Tama dan Kinara membawa kedua putra kembar mereka ke restoran yang berada tidak jauh dari Perusahaan Wijaya. Keduanya langsung disambut oleh pegawai resto begitu memasuki area resto.


"Silakan, Pak, Bu, mau pesan apa?" pegawai resto itu menyodorkan buku menu kepada Kinara dan Tama.


"Kamu mau pesan apa Nara?" tanya Tama sambil melihat buku menu di tangan.


"Terserah. Aku doyan apa saja kok. Lebih baik Mas tanya aja yang ingin dimakan anak-anak itu apa," jawab Kinara. "Taki, Maki, kalian mau makan apa?"


"Aku mau ini, ini, dan ini." Taki menunjuk gambar yang ada di buku menu.


"Aku juga mau ini, ini, dan ini." Maki pun melakukan hal yang sama.


"Kamu sendiri Nara?" Tama kembali bertanya kepada wanita yang duduk tepat di hadapanya.


"Ehm... semuanya enak dan semuanya aku juga doyan. Jadi, bingung mau pesen makanan apa," jawab Kinara dengan mata yang masih menjelajah di buku menu.


"Mbak, tulis semua makanan yang diinginkan oleh anak-anakku dan bawa semua makanan yang menjadi favorit di restoran ini!" Tama memberikan perintah. Dia mengambil buku menu dari tangan Kinara dan menutupnya.


"Mas, apa maksud.... "


"Kamu bilang semua menu yang tertulis disana enak semua. Makanya aku pilih menu favorit restoran ini untuk kita. Tidak masalahkan?"


"Tapi.... "


"Sudah-sudah. Kita jangan bikin pegawai itu bingung." Tama membuat Kinara berhenti protes.


"Kalau begitu, silakan tunggu sebentar ya Pak, Buk." Pegawai itu pun pergi dari hadapan Kinara dan Tama.


Kinara menghela napas sebentar dan menyorot tajam ke arah Tama. "Mas, maksud aku. Kalau kita pesan makanan sebanyak itu memang kita mampu ngabisinya? Mubadzir, tahu. Harusnya pesen saja makanan yang Mas pingin dan aku akan mengikuti selera kamu."


"Anggap saja menu yang aku pesan adalah makanan yang aku pingin," jawab Tama dengan enteng.


"Ish!" Kinara mendesis.


Setelah beberapa menit semua menu yang mereka pesan pun datang dan sudah tertata rapi di meja.


"Makanlah! Kalau dingin tidak enak!" seru Tama.


Kinara masih diam. Makanan yang diinginkan Taki dan Maki saja sudah 6 macam menu yang berbeda. Ditambah dengan makanan yang dipesan oleh Tama. Lebih dari 10 menu berbeda tersaji di atas meja dan ia yakin semua itu tidak akan habis mereka makan.

__ADS_1


"Orang yang terlahir kaya memang beda, dia tidak pernah sayang untuk buang-buang duit," gumam Kinara.


Kinara juga terlahir dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Namun, ditinggalkan kedua orang tua sejak berumur 10 tahun membuatnya hidup dalam keterbatasan karena harta peninggalan sang orang tua dihabiskan oleh om dan tantenya begitu saja.


"Kamu bisa membungkus dan memberikan makanan yang tidak kamu makan kepada OG atau OB di kantor," ujar Tama. Tentu saja hal itu membuat Kinara senang. Dia menyisihkan makanan yang kiranya tidak dimakan oleh dirinya dan Tama agar makanan yang akan dibungkus dan diberikan itu bukan masuk makanan sisa melainkan makanan yang memang sengaja dipisah untuk dibungkus.


"Mbak, Mbak!" panggil Kinara kepada pegawai restoran itu.


"Iya, Bu."


"Tolong, makanan ini, ini, ini, dan yang inu dibungkus saja ya karena kami merasa kami tidak akan mampu untuk menghabiskanya!" seru Kinara. Dia pun mulai menyantap makanan yang lain yang


"Baik, Buk." Pagawai itu pun mulai melakukan perintah dari Kinara.


"Setelah ini kamu dan anak-anak pulang saja! Kasihan mereka kalau tetap berada di kantor, mereka tidak akan bisa tidur siang," seru Tama setelah mereka selesai makan.


Kinara menatap kedua putra sambungnya. Rasanya memang kasihan kalau mereka harus tidur siang di kantor. Meski di ruang kerja Tama ada tempat tidurnya, tetap saja itu tidak akan senyaman tidur di rumah.


"Baiklah. Aku akan bawa sisa pekerjaanku pulang dan akan ku kerjakan di rumah. Setelah selesai, aku akan kirim lewat email," jawab Kinara.


"Tidak perlu. Biar aku yang kerjakan sisa pekerjaan hari ini. Nanti siang yayasan akan mengirimkan 3 pengasuh untuk kamu wawancarai. Pilihlah mana yang menurutmu baik yang bisa menjaga Taki dan Maki!" Tama memberikan perintah.


"Tapi.... "


Kembali Kinara menatap wajah kedua putra sambungnya yang masih makan dengan lahap. Rasanya dia tidak rela jika akhirnya mereka harus diasuh oleh pengasuh dari yayasan. Namun, resign dari perusahaan juga bukan hal yang ia inginkan. Setidaknya untuk saat ini. Kinara akan resign setelah semua uang yang pernah Tama berikan kepadanya berhasil ia kembalikan semuanya. Tapi, sampai kapan? Jumlah uang itu terlalu banyak, 5 tahun juga belum tentu lunas. Semua itu berkecamuk di kepala Kinara.


"Apa tidak bisa untuk sementara mereka seperti ini?" tanya Kinara lagi. Dia berharap Tama masih mau mempertimbangkan perkataanya pagi tadi.


"Nara, perusahaan punya aturan. Dan siapapun tidak boleh melanggarnya termasuk kamu. Dalam aturan sudah dijelaskan bahwa setiap karyawan yang bekerja di Perusahaan Wijaya dilarang membawa anak ke kantor karena alasan apa pun," terang Tama. "Dan sebagai seorang pimpinan aku harus memberikan contoh. Jadi putuskan, kamu ingin tetap bekerja di perusahaan sebagai sekretaris berarti kita harus menyewa pengasuh secepatnya? Atau kamu tetap mengasuh mereka dan artinya kamu akan segera resign dari perusahaan. Silakan pilih!"


"Aku akan pikirkan itu nanti," jawab Kinara.


"Oh iya, soal kejadian di ruang rapat tadi... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud bersikap seperti itu. Aku hanya... aku hanya terbawa suasana," ucap Tama lirih. Dia tidak mau pembicaraan itu didengar oleh kedua putra mereka.


"Kita bicarakan itu di rumah. Tidak baik membicarakan hal seperti itu di depan anak-anak," jawab Kinara.


Tama mengangguk. "Aku cuma nggak mau kamu berpikir kalau aku ini... pria mesum."


Dengan cepat Kinara menutup mulut Tama dengan tanganya. "Sudah kubilang, jangan bahas itu di depan mereka," ucap Kinara dengan suara berbisik.

__ADS_1


"Mama dan Papa dari tadi ngomong apaan sih? Kok bisik-bisik mulu?" protes Taki.


"Iya, aneh. Kenapa Mama juga menutup mulut papa dengan tangan Mama?" Maki ikutan bertanya.


"Nggak kok, Sayang. Nggak ngomong apa-apa. Tadi papa mau muntahin makanan yang udah masuk ke dalam mulut, jadi mama tahan biar gak dimuntahin sama papa. Kasihan makananya kalau nggak dimakan," dusta Kinara. "Kita lanjutkan makan saja dulu. Nanti setelah makan kita pulang." Dia berusaha mengalihkan ke topik yang lain.


"Bukanya kita udah selesai makan ya, Ma?" tanya Maki dan diangguki oleh Taki.


"Ouh iya, Mama lupa. Mama agak kurang fokus sepertinya."


***


Di tempat lain. Mirna merasa kesal karena tidak berhasil mempengaruhi Reno untuk merebut Kinara dari Tama. Padahal ia sudah senang saat membayangkan Tama menceraikan Kinara. Tapi, sepertinya dia tidak dapat menggunakan cinta masa lalu dari Kinara itu sebagai alat.


"Sudahlah. Nyerah saja! Kamu itu memang nggak berjodoh sama Tama. Nggak usah halu terlalu ketinggian, ntar jatuh sakit lho," ejek Reni.


"Kamu ini. Bukanya mendukungku, malah sengaja mengejekku. Sini balikin uangku!" cicit Mirna.


"Uang apaan? Uang yang 1,5 juta? Aku dan suamiku sudah melakukan hal yang kamu suruh. Jadi, kita sudah nggak punya utang apa pun. Kita sudah impas, titik!" jawab Reni.


Mirna hanya memutar kedua bola matanya. Dia juga menghela napasnya dalam-dalam. Harapan untuk menikah dengan duda kaya sepertinya harus ia kubur dalam-dalam.


"Pinjam hp kamu!" Dengan tidak sopan, Mirna mengambil begitu saja ponsel milik Reni yang di taruh di atas meja. "Berapa sandinya?"


Reni menekan beberapa nomor untuk membuka layar hp miliknya. Mirna kemudian melakukan hal yang sama, bedanya dia menekan nomor untuk menghubungi nomor seseorang.


"Saya Mirna. Benarkah? Iya-iya, aku akan segera kesana sekarang." Wajah Mirna yang tadi sempat ditekuk sudah bisa tersenyum kembali.


"Ada apa, Mir? Sepertinya kamu seneng?"


"Tentu saja aku senang karena nggak perlu tinggal di sini lagi," jawab Mirna penuh percaya diri.


"Lho? Memang kamu sudah nemu kontrakan yang pas?"


Mirna menggeleng.


"Terus?"


"Aku akan segera kembali ke rumah Pak Tama lagi."

__ADS_1


"Hah?!" Reni dan Susanto saling melemparkan pandangan bingung.


__ADS_2