
Mirna keluar dari rumah Reni dan Susanto dengan pongah. Dia sudah tak sabar ingin kembali pulang ke rumah Tama. Dan langkah pertama yang harus ia lakukan adalah mengambil ponselnya yang sudah selesai diperbaiki. Dengan menggunakan taksi, Mirna menuju ke tukang servis hp tempat ia memperbaiki hpnya rusak.
"Ini beneran sudah jadi kan?" tanya Mirna saat sang tukang servis memberikan ponsel miliknya itu.
"Iya, Mbak. Sudah."
"Semua datanya nggak ilang kan?" tanya Mirna lagi.
"Semua data yang tersimpan di kartu memori gak hilang. Tapi, kemungkinan data yang tersimpan di memori ponsel yang hilang," jawab Tukang Servis itu.
Mirna segera menyalakan ponselnya itu untuk memeriksa semuanya. Dia bernapas lega karena video Kinara yang akan dikirimkan kepada Dewi dan orang tua dari Tama itu masih utuh.
"Berapa?" tanya Mirna.
"Sebenernya cuma 500 ribu. Tapi, karena Mbaknya minta buru-buru biaya servisnya naik jadi 1 juta," jawab Tukang Servis.
Tentu saja hal itu membuat bola mata Mirna hampir keluar. "Eh, eh, kok naiknya jadi dua kali lipat sih? Harusnya 510 ribu atau berapa kek. Yang jelas nggak sampai dua kali lipat," protes Mirna.
"Kalau nggak mau ya sudah. Sini, hpnya aku rusakin lagi aja." Tukang Servis itu hendak mengambil hp yang sudah ada di tangan Mirna.
"Jangan dong!" ucap Mirna sambil memeluk hp yang baru selesai diperbaiki itu. "Iya-iya aku bayar. Kalau dirusakin lagi, makin lama dong aku bisa balik ke rumahnya Pak Tama lagi."
Mirna pun segera mengambil uang satu juta rupiah dari dalam dompet. Sebenarnya dia tidak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk biaya servis. Tapi, demi bisa segera pulang ke rumah majikan tersayangnya terpaksa ia merelakan.
"Nih. Puas." Mirna menaruh uang satu juta itu dengan kassr di atas etalase.
"Terima kasih, Mbak. Lain kali kalau ada kerusakan lagi bawa kesini lagi aja," ucap Tukang Servis itu. Dia mengambil uang yang ditaruh oleh Mirna di ataa etalase lalu menciumnya.
"Gak akan!" Mirna pun berlalu dari sana.
Kruyuuukkk!
Cacing di perut Mirna meronta minta diisi. Dia pun segera membuka aplikasi google map untuk mencari restoran cepat saji yang sudah dibuka di daerah itu. Setidaknya ia bisa makan sambil menselonjorkan kakinya yang terasa pegal karena pas datang ternyata konter itu masih tutup. Alhasil dia pun terpaksa berdiri disana sampai konter servis itu buka. Akhirnya ia menemukan restoran cepat saji yang menyediakan menu chicken. Mirna memesan dua porsi. Satu porsi untuk makan di tempat dan satu porsi lagi untuk makan malamnya nanti. Agak menyesal karena tadi tidak sempat makan siang di rumah Reni. Padahal jika dia makan disana setidaknya dia bisa sedikit ngirit.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang. Mirna mulai mengirim video itu ke nomor Dewi yang dikontaknya ia beri nama Mak Lampir. Tak lupa ia juga mengirimkan video itu ke nomor Rangga dan Bintang. Semua pesan itu sudah bercentang dua artinya pesan itu sudah terkirim, tinggal menunggu kapan mereka akan membuka pesan tersebut.
"Andai saja aku masih tinggal di rumahnya Pak Tama, aku pasti masih bisa makan enak setiap hari." Mirna menyesali segalanya. Dia menyesal karena telah ceroboh memasukan obat pencuci perut kepada dua anak kembar majikanya itu. Padahal, meaki tidak terlalu menyukai mereka. Dia juga tidak membenci dua bocah kembar itu. "Seharusnya waktu itu aku pakai cara lain untuk membuat Pak Rama mengusir Kinara," tambahnya.
Mirna segera menghabiskan makananya. Setelah selesai dia kembali melihat ponselnya untuk memastikan apakah pesan yang ia kirim sudah terbaca dan ternyata dua centang yang tadinya berwarna abu-abu sudah berubah warna menjadi biru. Itu sudah membuatnya senang karena jalan kembali ke rumah Tama Wijaya akan segera terbuka. Mirna semakin senang saat mendapatkan pesan dari Bintang untuk menemuinya di rumah Tama malam ini. Pesan yang sama pun ia dapatkan dari Dewi, wanita yang ia sebut sebagai Mak Lampir itu juga menyuruhnya datang ke rumah Tama untuk berbicara. Cepat-cepat Mirna mengirim kata Yes untuk dua kontak itu.
"Bik Sumi, Iam coming," gumamnya senang. Dia kembali melahap makanan yang tadinya sengaja ia siapkan untuk makan malam.
***
Tama dan Kinara sudah tiba kembali di kantor bersama dua anak mereka.
"Kamu lansung pulang saja setelah ini. Anak-anak harus tidur siang, kasihan kalau mereka tetap disini, mereka tidak akan bisa tidur dengan nyaman," ujar Tama.
"Iya, Mas. Aku akan pulang setelah merapikan mejaku," jawab Kinara. Sejujurnya dia masih agak keberatan jika harus resign.
Pada saat bersamaan ada pesan masuk di ponsel milik Tama dan Kinara.
"Mas, Mommy dan Tante Dewi kirim pesan." Kinara menunjukan layar hpnya kepada Tama.
"Kira-kira apa yang mau mereka bicarakan ke Kita ya, Mas?" tanya Kinara sambil mencoba menerka-nerka.
"Entahlah. Aku bukan dukun. Jadi, nggak bisa memprediksi apa yang ingin mereka bicarakan kepada kita," jawab Tama enteng.
"Apa mereka mau membicarakan soal uang yang kamu berikan kepadaku sebelum kita menikah?" Entahlah, tiba-tiba Kinara pikiran itu lewat di ingatanya.
"Mungkin," jawab Tama singkat.
"Jangan-jangan mereka sudah tahu kalau aku menikah denganmu demi menebus rumah dan melunasi hutang tanteku," tebak Kinara lagi.
"Terus kalau mereka tahu memangnya kenapa?" tanya Tama seolah masalah itu hanya masalah sepele baginya.
"Pasti mereka mengira aku tidak benar-benar tulus menyayangi Taki dan Maki. Mereka pasti menganggap aku mata duaitan," keluh Kinara dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Wanita mata duitan juga tidak salah kok, memangnya hanya dengan modal kata cinta kamu bisa membeli makanan? Bisa bikin kamu kenyang? Enggak kan? Lagian, wanita mata duitan bukan berarti dia tidak bisa mencintai orang lain dengan tulus. Jadi, hapus pikiran sempitmu itu!" jawab Tama. Dia memberikan penjelasan secara rasional.
"Itu artinya kamu percaya kan kalau aku menyayangi si kembar dengan tulus?"
"Hm."
"Dan kamu juga percayakan kalau aku juga mencintaimu sepenuh hati?" tanya Kinara dengan menunjukan senyum manisnya.
Jantung Tama jumpalitan saat melihat senyum itu. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain agar Kinara tidak tahu bahwa ia gugup. "Entahlah," jawabnya sambil melengos.
"Hobi banget, ngeles. Padahal wajahnya udah merah. Tanpa kamu bilang pun, aku tahu kalau kamu juga mulai mencintaiku. Ya... meski cintamu tidak sebesar perasaaan cintaku padamu," cucit Kinara penuh percaya diri.
"Sudah sana cepet pulang! Kasihan si kembar sudah ngantuk tuh," seru Tama. Dia menunjuk dua anak kembarnya yang sudah mulai hilang kesadaran sambil duduk di sofa karena terlalu mengantuk.
Kinara mengangguk. Benar juga yang dikatakan Tama, jika dia masih membiarkan putra mereka tetap di perusahaan, mereka tidak akan bisa tidur dengan nyaman.
"Ya udah deh, Mas. Aku dan anak-anak pamit pulang dulu!" Kinara meraih tangan Tama dan mencium punggung tangan itu.
"Begini seharusnya istri pamitan sama suaminya," seloroh Kinara.
"Anak-anak ayo kita pulang. Kalian bobo di rumah saja!" Kinara membangunkan kedua putranya.
"Iya, Ma," jawab Taki dan Maki. Dua bocah itu berjalan dengan setengah sadar. Hal itu tentu membuat Tama khawatir. Dia pun berinisiatif menggendong kedua putranya dan mengantar sampai mobil.
Tama menaruh dua putranya di kursi belakang. "Kabari aku kalau sudah sampai rumah," pesanya kepada Kinara.
"Iya, Mas. Aku pulang dulu ya," pamit Kinara lagi.
"Hm," jawab Tama. "Pak, jangan ngebut-ngebut ya!" Tama memperingatkan supir yang mengantar istri dan anaknya agar tidak ngebut di jalan.
"Iya, Pak," jawab Sang Supir.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Kinara mendaratkan ciuman di pipi kanan Tama. Dan lagi. Hal itu membuat jantung Tama kembali berdetak tak beraturan. Untuk sesaat otaknya bahkan seperti berhenti berpikir.
__ADS_1
"Astaga, kenapa dengan jantungku? Sepertinya aku harus segera perikasa ke dokter," gumam Tama sambil menyentuh dadanya sendiri. Dia menatap mobil yang membawa istri dan anaknya mulai berjalan menjauh.