
"Buka!" suruh Kinara.
"Apanya?" tanya Tama yang masih meringis kesakitan.
Iya, karena melihat Kinara yang hampir jatuh beberapa saat yang lalu membuat Tama refleks ingin menolong. Sayangnya justru dirinya sendiri yang jatuh. Untungnya kejadian naas itu tidak sampai membuatnya patah tulang. Hanya ada sedikit luka gores pada beberapa bagian karena tergores ranting yang patah.
"Baju Bapak. Saya mau lihat apa ada luka yang lain selain luka di lengan Bapak ini?" jawab Kinara.
"Tidak ada."
"Saya tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri. Jadi, cepat buka baju Pak Tama atau saya akan membukanya dengan paksa," ujar Kinara sedikit mengancam.
"Cih." Tama berdecih. Meskipun begitu pria itu akhirnya mau membuka bajunya.
Kinara menelan ludah. Ternyata laki-laki yang menjadi suaminya tersebut memiliki tubuh yang cukup bagus. Meski tidak memiliki badan besar perut pria itu ternyata berbentuk kotak-kotak.
"Kenapa malah bengong?" tanya Tama yang melihat Kinara hanya diam sambik menatap tubuhnya. "Kamu menyuruhku buka baju karena ingin melihat tubuhku yang seksi kan?"
Perkataan Tama tentu saja membuat Kinara melotot. "Haish. Tubuh Bapak tidak seseksi itu untuk bisa saya kagumi," elak Kinara.
"Benarkah? Tapi, kulihat wajahmu merah."
__ADS_1
Kinara memberikan tatapan sinis untuk menyembunyikan perasaan malunya. Ini pertama kali ia melihat tubuh seorang pria tanpa kaos.
Kinara memilih untuk tidak lagi menyahut ucapan Tama dan langsung mengoleskan salep ke beberapa bagian tubuh yang tergores dari pria itu.
"Ngomong-ngomong kamu dapat obat itu dari mana?" tanya Tama. Dia sedikit penasaran dari mana Kinara mendapatkan salep untuk mengibati lukanya padahal wanita itu tidak pergi kemana pun. "Jangan bilang kamu dapetin obat itu dari dalam rumah ini," lanjutnya beberapa menit kemudian.
"Kenapa memangnya kalau saya dapet salep ini dari rumah ini?" bukanya menjawab Kinara justru menanggapinya dengan memberikan pertanyaan balik.
Buru-buru Tama merebut botol salep itu dari tangan Kinara. Dia bernapas lega ketika melihat tanggal kadaluarsa salep itu masih lama dan dari tanggal produksi yang tertera salep itu tergolong baru.
"Pak Tama tenang saja salep itu baru aku beli beberapa hari yang lalu kok," ujar Kinara saar mengetahui hal yang menjadi kekhawatiran pria itu.
"Sudah. Kita ke rumah sakit sekarang! Takutnya anak-anak sudah bangun dan menantikan kehadiranmu." Tama memakai kembali baju yang tadi dilepasnya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam akhirnya mereka tiba di tempat parkir rumah sakit.
"Ayo turun!" ajak Tama sambil melepas safety belt miliknya.
"Pak," panggil Kinara.
Tama menoleh.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Kinara.
"Untuk?"
"Kepercayaan yang Bapak berikan dan juga.... " Kinara menjeda kalimatnya.
"Dan juga?" Tama mengernyit.
"Karena Bapak sudah datang untuk mencariku," lanjut Kinara.
"Ouh... aku melakukanya demi anak-anak. Tidak lebih," balas Tama sambil memalingkan wajahnya.
"Apa pun alasanya aku berterima kasih atas semua yang Pak Tama lakukan hari ini. Terima kasih ya, Pak," ucap Kinara sambil tersenyum.
"Sudah selesai kan? Sekarang ayo kita masuk! Aku tidak mau anak-anak menunggu kita terlalu lama!" ajak Tama lagi. Dia pun turun dari dalam mobil.
"Pak," panggil Kinara lagi.
Tama kembali menoleh sambil menghela napas. "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Sepertinya... aku jatuh cinta sama Bapak."
__ADS_1
Tama mematung di tempatnya.