Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 44


__ADS_3

"Sedang apa kamu?" tanya Tama saat melihat Kinara sibuk berbalas pesan. Padahal saat ini mereka sedang bersiap untuk rapat.


"Ouh, ini Bik Sumi bilang Mirna mau minta izin keluar rumah sampai nanti sore. Katanya mau benerin hp dia yang rusak," jawab Kinara.


"Ya udah kasih izin saja! Nanti suruh Bik Sumi untuk jaga Taki dan Maki," balas Tama.


"Baik, Mas." Kinara segera membalas pesan yang dikirim oleh Bik Sumi.


"Matikan ponselmu sebentar lagi rapat dimulai!" suruh Tama.


Kinara langsung manonaktifkan telepon genggam miliknya dan memasukanya ke dalan saku. Ia pun kembali fokus dengan pekerjaanya.


Rapat sore itu berlangsung lebih lama dari yang mereka kira. Banyak kepala devisi yang mendapat teguran dari Tama karena performa mereka yang menurun. Dia memberi kesempatan kepada seluruh kepala divisi untuk kembali meningkatkan performa mereka atau mereka akan dimutasi dan diturunkan dari jabatan mereka masing-masing. Bahkan ada beberapa dari mereka yang diancam akan dipecat jika tidak sanggup menaikan performa kerja mereka.


Para kepala divisi itu bernapas lega ketika Tama mengakhiri rapat dan mempersilakan mereka untuk pulang.


"Jam berapa sekarang?" tanya Tama kepada Kinara yang sedang sibuk membereskan beberapa berkas di atas meja.


"Jam 20.00 WIB," jawab Kinara.


Tama mendesah. Sepertinya dia tidak bisa mengjadiri undangan makan malam Pak Mahdi. Padahal Pak Mahdi adalah tipe orang yang paling tidak suka jika undanganya diabaikan oleh rekan bisnisnya.


"Apa ini soal undangan makan malam Anda dengan Pak Mahdi?" tanya Kinara.


Tama mengangguk. "Ini sudah terlambat satu jam, dia pasti sudah tersinggung karena aku tidak datang tepat waktu."


"Maaf sebelumnya, Pak. Tadi ditengah-tengah rapat saya sudah menghubungi beliau dan bilang kalau kemungkinan Anda akan datang terlambat. Dan tadi Pak Mahdi menjawab tidak masalah karena Anda memberitahunya lebih awal, jadi jam reservasi restoran masih bisa diundur," jelas Kinara.


"Syukurlah," Tama bernapas lega.


"Saya juga sudah menyiapkan baju ganti untuk Anda karena saya yakin tidak akan nyaman jika Bapak harus datang ke undangan tersebut dengan pakaian yang sudah dipakai seharian." Tama kembali menoleh dan menatap Kinara heran.


"Ada apa, Pak?"

__ADS_1


"Tumben kamu pakai bahasa formal, padahal kita cuma berdua sekarang. Akhirnya kamu sadar juga dengan posisimu," jawab Tama.


"Sejak awal aku memang selalu sadar dengan posisiku."


"Baguslah. Jadi, aku tidak per.... "


"Aku adalah sekretarismu saat di perusahaan, tapi di luar itu aku ini istrimu," potong Kinara dengan menunjukan deretan gigi putihnya.


Tama memutar kedua bola matanya. "Terserah kamu saja. Oh iya, dimana kamu taruh pakaian gantiku?"


"Di ruang kerja," jawab Kinara.


"Oke, aku akan datang ke undangan tersebut sendiri. Kamu bisa langsung pulang, kasihan anak-anak!" suruh Tama.


"Baiklah, aku langsung pulang setelah Mas ganti pakaian biar sekalian aku bawa baju kotor Mas Tama pulang."


"Tidak usah, kamu langsung pulang saja! Biar baju kotornya aku bawa besok atau aku suruh OG buat cuciin."


"Tidak boleh. Kamu tidak boleh nyuruh OG buat nyuciin baju kamu, baju kamu biar itu menjadi urusanku. Jadi, sana cepat ganti bajumu atau mau aku temenin buat ganti?" Kinara mengedip-ngedipkan matanya dengan senyum menggoda.


"Makanya cepet ganti baju kamu biar aku cepet pulang!" seru Kinara.


Tama akhirnya pergi ke ruanganya untuk mengganti baju yang sudah disediakan oleh Kinara. Setelah selesai ia pun memasukan baju kotor miliknya kedalam papper bag dan membawanya keluar dari ruang kerjanya.


"Nih, baju kotorku!" Tama menyerahkan papper bag di tanganya kepada Kinara. "Sudah, sekarang sana pulang!" usirnya.


Bukanya pergi Kinara malah berjalan mendekati Tama.


"Ada apa?"


Kinara menarik dasi Tama dan membuat wajah pria itu tepat berada beberapa senti saja dari wajahnya.


"Aku sudah mencari tahu soal Pak Mahdi. Dia selalu membawa wanita penghibur saat mengundang rekan bisnisnya untuk makan malam. Jadi, sebagai istri aku peringatkan Mas Tama agar tidak berbuat macam-macam. Meski aku tahu sih kalau kamu nggak akan mungkin melakukan hal kotor seperti itu," ujar Kinara.

__ADS_1


Tama menghela napasnya. "Sepertinya kali ini aku ingin mencobanya. Apalagi wanita yang disediakan oleh Pak Mahdi biasanya cantik-cantik dan seksi," tutur Tama dengan sengaja. Dia ingin agar Kinara marah dan berhenti mengharapkan sesuatu yang belum bisa ia penuhi.


"Kamu.... "


"Silakan bawa baju kotor itu pulang, aku juga akan pergi sekarang," potong Tama.


"Ohya, tidak usah menungguku karena mungkin aku tidak akan pulang malam ini." Setelah mengatakan hal tersebut, Tama pergi meninggalkan Kinara yang masih diam di tempatnya.


"Apa dia bilang? Mau mencobanya... tidak pasti dia sengaja berkata seperti itu hanya untuk membuatku berhenti menyukainya!" gumam Kinara.


Padahal selama bekerjasama dengan Pak Mahdi, tidak pernah satu kali pun Tama menerima tawaran perempuan yang disediakan olehnya. Tama bahkan sering mengancam, jika saat makan malam bisnis denganya ada wanita selain pasangan sah pria tua bangka itu, dia akan membatalkan seluruh kerjasama secara sepihak. Dan sejak saat itu Pak Mahdi tidak pernah lagi menyediakan perempuan saat melakukan kerjasama apa pun dengan putra sulung dari Rangga Wijaya tersebut.


**


Di tempat lain....


"Itu masih bisa diperbaiki kan, Mas?" tanya Mirna setelah tukang servis hp memeriksa benda pipih milik wanita itu.


"Bisa. Tapi, agak mahal karena yang kena LCD nya," si tukang servise menjelaskan.


"Tapi video dan yanga lainya tidak apa-apa kan? Masih bisa di selamatkan?" tanya Mirna. Dia ingin memastikan bahwa semua yang ada di dalam hpnya tidak hilang.


"Anda pakai kartu memori kan?" Mirna mengangguk.


"Kalau begitu aman," jawab si tukan servis.


"Kira-kira kapan ya hpku selesai diperbaiki?" tanya Mirna lagi.


"Dua tiga hari, nanti Anda bisa ke sini lagi."


"Baiklah, dua hari lagi aku ke sini."


Mirna merasa senang karena hpnya masih bisa diperbaiki. Sebelum pulang rencanya Mirna ingin menemui seseorang dulu untuk membantu meyakinkan Dwi dan Bintang nanti.

__ADS_1


Mirna baru saja turun dari bajay yang ditumpanginya. Dia kembali mengayunkan kaki menuju ke sebuah rumah, tanpa ragu dia langsung mengetuk pintu rumah tersebut.


__ADS_2