Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 37


__ADS_3

"Pergi kamu dari rumah ini sekarang juga.... Mirna!"


"Iya pergi sana!" Mirna ikutan. Tapi, sedetik kemudian dia menyadari sesuatu.


"Eh, apa?! Barusan yang diusir itu.... Mirna, berarti aku dong Pak?" tanya Mirna memastikan.


"Benar. Aku mengusirmu dari rumah ini," jawa Tama dengan sorot mata tajamnya.


"Tap... tapi kenapa? Bukankah sudah jelas kalau Taki dan Maki dirawat setelah makan bekal dari Nyonya Kinara. Kenapa jadi saya yang diusir?" Mirna mempertanyakan keputusan Tama. Dia masih percaya diri bahwa bukan dirinyalah yang salah, tapi Kinara.


"Kamu masih saja mengelak bahkan berusaha memfitnah Kinara." Tama tertawa miris. "Kamu lupa bahwa orang yang kamu tuduh itu istriku dan yang menjadi korban adalah anak-anakku? Hah?!"


"Maksud Pak Tama apa? Saya tidak memfitnah Nyonya, kan memang kenyataanya begitu. Bekal itu dibuat sendiri oleh Nyonya dan Nyonya sudah mengakuinya barusan." Mirna masih kekeh menolak dituduh sebagai pelakunya.


"Bekal itu memang dibuat oleh Kinara, tapi kamulah yang sudah memasukan obat pencuci perut itu kedalam bekal mereka."


"Apa ini yang Nyonya katakan?" tanya Mirna. "Nyonya sengaja menuduh saya begitu agar dia lepas dari tuduhan. Dia sengaja memfitnah saya dengan mengatakan bahwa sayalah yang memasukan obat itu ke bekal mereka." Mirna masih tetap berusaha membela diri.


"Kamu lupa kalau di rumah ini ada cctv?" pertanyaan Tama tentu saja langsung membuat Mirna tak bisa berkata-kata.


"Aku sengaja tidak langsung menunjukan rekaman cctv itu karena aku ingin memberimu kesempatan untuk mengakui kesalahanmu. Tapi, pada kenyataanya jangan kan merasa bersalah, kamu malah menuduh orang lain yang melakukanya. Aku benar-benar kecewa padamu, Mirna," tambah Tama.


"Pak Tama tolong ampuni saya! Saya mohon!" Mirna bersimpuh memohon pengampunan.


"Kenapa kamu tega melakukan hal sekeji itu pada Taki dan Maki? Mereka menyayangi dan ku kira kamu juga menyayangi mereka dengan tulus karena sejak usia mereka dua tahun kamu sudah menjadi pengasuh Taki dan Maki. Tapi, ternyata kamu tidak setulus itu, aku salah menilaimu. Aku bisa saja melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib dan memberikan rekaman cctv sebagai bukti, tapi aku masih memikirkan nasibmu di masa depan. Kamu akan sulit mendapatkan pekerjaan baru jika kamu sudah pernah menjadi narapidana, jadi aku memutuskan untuk menutup kasus ini sampai di sini dengan syarat kamu meminta maaf pada Taki dan Maki atas semua kesalahan yang sudah kamu lakukan. Kamu juga harus meminta maaf kepada Kinara karena telah memfitnahnya. Baru setelah itu aku akan benar-benar melepaskanmu," ucap Tama dengan memberikan tekanan pada setiap katanya.


"Nyonya, Nyonya Kinara tolong maafkan saya. Saya mohon maafkan saya!" kini Mirna berlutut di hadapan Kinara.


"Mbak Mirna bangun, Mbak. Saya... saya maafin Mbak Mirna," balas Kinara. Dia merasa tidak tega melihat Mirna terus bersimpuh. Meski di hari-hari biasanya wanita itu sangat menyebalkan karena terus membuat ulah, tapi melihat air matanya membuat Kinara tidak tega.


Setelah meminta maaf kepada Kinara, Mirna kemudian mendatangi kamar si kembar untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Kenapa Mbak Mirna minta maaf?" tanya Taki dengan wajah bingung.


"Sebenarnya Mbak yang sudah masukin sesuatu ke bekalnya Den Taki dan Maki. Mbak Mirna maaf ya," jawab Mirna jujur.


Meski masih bingung kedua anak itu langsung memaafkan.


"Terima kasih ya, Den karena sudah maafin Mbak Mirna," ucap Mirna.


"Iya, Mbak," kini giliran Maki yang menjawab.


"Sekarang pergilah! Kamu tenang saja, aku tetap akan memberikan hakmu. Aku juga akan memberikan pesangon atas kerja kerasmu selama ini yang sudahmerawat Taki dan Maki selama tiga tahun," tutur Tama.


"Terima kasih, Tuan," ucap Mirna. "Tapi... masih bolehkah saya bekerja disini setidaknya sampai ada orang yang menggantikan saya Saya janji setelah ada pengganti saya, saya akan langsung pergi."


Tama terlihat berpikir.


"Mas, sebaiknya untuk sementara waktu kita biarkan Mbak Mirna tetap di sini. Lagi pula aku juga tidak bisa mengurus Taki dan Maki sendirian. Setidaknya sampai kita menemukan pengganti Mbak Mirna, kita biarkan dia tetap di sini." Kinara mengutarakan pendapatnya. Ia yakin Mirna sudah sadar dan menyesali perbuatanya.


"Baiklah, sampai ada penggantimu kamu aku izinkan tetap bekerja di sini," jawab Tama yang akhirnya menerima pendapat dari Kinara.


"Terima kasih, Pak Tama," ucap Mirna.


"Berterima kasihlah pada Nara dan kedua anakku karena kalau mereka tidak memaafkanmu, aku juga tidak akan pernah memberimu pengampunan dan tidak akan membiarkanmu tetap berada di sini. Ingat! Jangan coba-coba kamu menyakiti Nara atau pun kedua anakku lagi!"


"Iya, Tuan. Saya tidak akan berani lagi," jawab Mirna. "Nyonya, Aden, terima kasih," ucapnya.


"Ya, sudah. Mbak Minra boleh pergi dari sini. Hari ini urusan Taki dan Maki biar aku yang handle. Kamu bantu saja Bik Sumi untuk sementara waktu!" seru Kinara.


"Iya, Nyonya. Permisi Tuan, Nyonya." Mirna pergi meninggalkan kamar Taki dan Maki.


Gara-gara hal ini kebencian Mirna terhadap Kinara bertambah. Dia tidak terima karena harus meminta maaf kepada wanita yang bahkan tidak dianggap istri oleh Tama itu.

__ADS_1


"Awas saja kamu, Nyonya. Kali ini aku mungkin gagal membuat Pak Tama mengusirmu, tapi aku berjanji sebelum penggantiku datang, aku akan membuatmu diusir dari sini. Lihat saja nanti," gumam Mirna penuh kebencian.


***


"Terima kasih," ucap Kinara kepada Tama.


"Aku hanya mengungkap kebenaran," jawab Tama yang kembali bersikap cuek.


"Apa pun alasanya tetap saja aku berterima kasih padamu." Tiba-tiba Kinara memeluk Tama. "Kamu tahu, Mas. Kamu membuatku semakin jatuh cinta kepadamu," aku Kinara.


"Jangan ngaco!"


"Aku serius." Kinara mendongak menatap wajah Tama.


Degup jantung Tama semakin tak beraturan kala Kinara mengalungkan kedua tangan di lehernya.


"Ma... mau ngapain kamu?" tanya Tama ketika Kinara mulai berjinjit dan mendekatkan bibirnya pada bibir Tama.


"Na... Nara, jangan macam-macam!"


"Kenapa?" perlahan Kinara mulai memangkas jarak bibir keduanya.


"I... Itu.... "


"Mas, kita ini suami istri yang sah. Jadi, aku bebas melakukan apa pun terhadapmu."


"Iya, tapi... tapi.... "


Tama berusaha memundurkan kepalanya saat Kinara terus mendekat. Jarak bibir itu semakin dekat dan semakin dekat. Mulai dari 10 sentimeter, 8 sentimeter, 6 sentimeter, hinggaakhirnya 1 senti sentimeter. Kinara memejamkan matanya sambil terus mendekatkan bibir. Namun, saat bibir itu hampir menempel tiba-tiba....


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2