Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 75


__ADS_3

"Kamu dari mana sih, Mas? Aku dari tadi mencarimu?" tanya Kinara. Dia sedikit kesal karena Sang Suami tak kunjung masuk ke dalam rumah. "Om Susanto sudah pergi?"


"Aku dari tadi di pos ngobrol sama Om kamu," jawab Tama sedikit berbohong.


"Benarkah?" Tama mengangguk.


"Sekarang dimana dia?"


"Sudah pergi, barusan." Tama mengeluarkan buku yang siberikan oleh Susanto kepada istrinya.


"Apa ini?" tanya Kinara sambil menerima buku itu.


"Kata Om kamu, itu adalah buku berisi jadwal rencana perjalanan mama-papamu selama 6 bulan. Dan di hari kecelakaan itu, tepatnya hari ulang tahunmu. Mereka memang sudah berencana untuk pulang. Bukan karena kamu merengek atau apalah itu. Jadi, hapus perasaan bersalah itu dari hatimu. Hm?"


Kinara tidak menjawab. Perasaan tak karuan mengingat peristiwa yang belasan tahun sudah berlalu itu. Kinara membuka buku tersebut dan membaca semua jadwal perjalanan orang tuanya. Dan memang benar, hari itu mereka sudah berencana untuk pulang. Bahkan pada tanggal itu terdapat keterangan hari spesial putri tercinta Kinara. Mereka juga membubuhkan emot love yang besar. Kinara menangis sambil memeluk buku tersebut. Ingatannya kembali ke malam sebelum hari ulang tahunnya.


"Ma, mama dan papa pulang kan besok?" tanya Kinara kecil.


"Tentu, Sayang. Kami pasti pulang besok. Ohya mama dan papa juga sudah menyiapkan hadiah kejutan buat kamu," jawab Kasih dengan senyum lebar. Kinara bisa melihat itu karena saat ini mereka sedang melakukan panggilan video.


"Apa itu, Ma?"


"Rahasia. Kalau mama kasih tahu namanya bukan kejutan dong," jawab Kasih. Tidak lama layar itu menampakkan wajah Herman, papa Kinara.


"Sayang. Tunggu papa ya besok papa pulang," ujar Herman.


Kinara mengangguk."


Kamera kembali berpindah ke Kasih. "Sayang, mama-papa tutup ya. Malam ini kami ada meeting dengan investor baru. Doakan semoga gol ya. Papa dan mama sedang menyiapkan masa depan yang cerah buat kamu. Kami tidak akan pernah membuatmu merasa kesusahan."


"Iya, Ma. Semoga sukses ya meetingnya. Nara sayang sama mama dan papa."


"Papa dan mama juga sayang sama kamu. Teruslah tersenyum Nara-ku." Sebelum mengakhiri panggilannya tampak Kasih dan Herman memberikan kiss bye dan dibalas oleh Nara.


Kinara tergugu mengingat momen indah itu. Senyum kedua orang tuanya begitu hangat dan penuh kasih sayang.


Tama menarik istri cantiknya itu kedalam dekapan. Mengusap rambut dan mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Dia tahu hanya pelukan yang saat ini Kinara butuhkan.


"Mas," panggil Kinara.


"Iya."

__ADS_1


"Besok antar aku ke makam mama-papa ya. Aku merindukan mereka," pinta Kinara.


"Tentu, Sayang. Kita ke sana sebelum mengantar si kembar ke sekolah," jawab Tama. Kinara mengangguk. Dia juga sudah menghapus air matanya


"Mas," panggil Kinara lagi.


"Ada apa, Sayang?"


"Aku pingin," jawab Kinara dengan wajah malu-malu.


"Pingin apa?" tanya Tama. Ia yang belum konek tentu bingung, apalagi dia ingat kalau ada beberapa berkas yang harus ia selesaikan sebelum jam 6 sore.


"Ish, masa mantan duda sepertimu nggak paham sih." Kinara cemberut.


Tama bingung karena Kinara membawa-bawa statusnya sebagai mantan duda.


"Makanya bicara yang lugas. Kamu tuh pingin apa biar aku nggak bingung!" tutur Tama lagi.


Tangan Kinara yang tadi memeluk pinggang suaminya itu pun, perlahan bergerak ke bawah dan menyentuh bagian inti suaminya tersebut. Dan itu membuat Tama paham dengan kata pingin yang istrinya maksud.


"Kamu selalu mengataiku mesum. Eh, sekarang kamu yang ngajak mesum duluan," jawab Tama sambil terkekeh. "Tapi, Sayang. Gimana dengan Taki dan Maki? Aku nggak mau ya kejadian kayak waktu itu terjadi lagi. Itu sungguh menyiksa."


"Anak-anak lagi bobo siang. Biasanya mereka akan tidur selama satu jam lebih. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."


Tanpa banyak bicara lagi, Tama langsung memagut bibir mungil Kinara. Istri Tama itu langsung mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Tama membawa istrinya menuju ke kamar mereka di lantai dua tanpa melepaskan pagutan itu.


Hari yang panas semakin terasa panas dengan kegiatan panas mereka di atas ranjang.


"Mau kemana, Mas?" tanya Kinara dengan tubuh polos yang masih berbalut selimut saat melihat suaminya sedang mengancingkan kemejanya. Tama menatap wajah tampan suaminya. Entah kenapa dia merasa suaminya itu semakin tampan, tiap harinya. Bahkan ketampanan Tama seolah bertambah dengan rambutnya yang setengah basah itu.


"Aku harus kembali ke kantor. Hari ini ada meeting pentinga," jawab Tama jujur.


"Bukan karena ingin bertemu sekretaris barumu itu kan?"


"Astaga, Sayang. Nggaklah, wajahnya saja aku lupa. Aku beneran ada meeting, kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya sama Doni," jawab Tama. Dia merasa akhir-akhir ini istrinya menjadi lebih pencemburu.


"Ya, ya, ya, aku percaya."


Setelah merasa rapi, Tama duduk di samping ranjang. Dia membungkukkan tubuh dan mencium kening istrinya.


"Tidurlah lagi kalau masih mengantuk. Taki dan Maki sedang main dengan Bik Surti di ruang tengah," ujar Tama.

__ADS_1


"Mas, tunggu!" panggil Kinara ketika Sang Suami hendak memegang handle pintu.


"Ada apa?"


Kinara bangun dan berjalan mendekat ke arah Tama. Tanpa aba-aba dia mencium belakang telinga suaminya dan memberikan tanda di sana.


"Sudah. Sekarang kamu boleh pergi," ucapnya dengan senyum manis tanpa dosa.


Tama menggeleng. Entahlah, akhir-akhir ini sikap istrinya sedikit absurd. Dia sering meminta duluan, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Moodnya juga sering berubah-ubah secara dadakan. Kadang tiba-tiba bahagia, tapi detik berikutnya dia juga bisa nangis kejer tanpa sebab. Dan lebih anehnya, tadi siang saat Si kembar makan es krim. Dia bilang dia ingin makan es krim yang sama dengan si kembar. Ketika Tama hendak membelikannya, dia malah meminta es krim yang sedang dimakan oleh kedua putranya itu. Beruntung, Taki dan Maki mau memberikannya.


"Ya sudah, aku berangkat ya, Sayang. Love you," ucap Tama.


"Love you too, Mas," jawab Nara.


Tama kemudian keluar dari kamarnya dan menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Sekretaris itu pasti bakal kena mental karena melihat tanda yang aku berikan untuk Mas Tama. Siapa suruh dia nelpon suamiku terus," gumam Kinara.


Padahal sekretaris baru itu menghubungi Tama karena memang ada pekerjaan.


"Aku mandi dulu ah. Setelah itu aku pingin makan seblak yang dijual di ujung gang sana. Sepertinya enak." Kinara memejamkan mata sambil membayangkan seblak yang dia inginkan. Dan hal itu semakin membuatnya tidak sabar untuk segera membelinya.


Buru-buru Kinara ke kamar mandi. Dia ingin menjadi yang pertama membeli seblak itu. Kinara melihat jam yang terpasang di dinding kamar, jam itu menunjukkan pukul 16.00. Jadi masih ada waktu untuk dia antri.


***


Di tempat lain. Reni merasa heran melihat barang yang dibawa oleh suaminya. Jam tangan mahal, baju bermerk, dan sepatu yang bisa ia taksir memiliki harga diatas 10 juta.


"Dari mana kamu membeli semua barang-barang itu, Mas?" tanya Reni. Dia menatap curiga Sang Suami.


"Aku baru dapat togel," jawab Susanto.


"Mas, kamu tidak bohongkan?"


"Cerewet banget sih kamu. Kalau mau bilang, nanti aku belikan," jawab Susanto yang justru marah.


"Bukan itu, tapi.... "


"Sudah-sudah aku mau kemar. Capek ngeladenin kamu."


Susanto kembali mengangkat barang bawaannya tadi dan hendak dibawa ke kamar. Sebuah tas jatuh dari tangannya.

__ADS_1


Reni buru-buru memungut dan membuka tas itu. Matanya melotot melihat isi di dalamnya.


__ADS_2