Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 80


__ADS_3

"Ma-maaf, Tuan, Nyonya. Saya tidak bermaksud mengganggu kalian. Saya ke sini karena akan melakukan pemeriksaan terkahir sebelum pergantian shift," perawat itu memberikan alasan. Dia menunduk karena takut anak dari pemilik rumah sakit itu akan marah, lalu memecatnya. Apalagi dia sadar kalau dia datang diwaktu yang tidak tepat.


"Kamu bereskan semua itu!" Tama menunjuk benda-benda yang terjatuh dari baki stainles yang dibawa oleh perawat itu. Dia memasang wajah datar seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal ia menunjukan wajah datar itu untuk menutupi rasa malu karena keergok sedang bermesraan meski dengan istrinya sendiri.


Sementara Kinara, wanita itu menutup wajahnya dengan tangan untuk menutupi perasaan malunya.


Perawat itu pun mengambil benda yang sempat berserakan tadi lalu bergegas keluar dari sana.


"Ini gara-gara kamu, Mas. Ngapain pakai nyium kayak gitu?" protes Kinara begitu perawat tadi tak lagi terlihat. "Hah, aku yakin besok aku akan jadi bahan ghibahan mereka."


"Gak akan. Mereka nggak akan berani membicarakan menantu dari pemilik rumah sakit ini. Memangnya mereka mau dipecat?" jawab Tama santai.


"Tetap saja, Mas. Aku pasti bakalan malu kalau ketemu dia lagi," keluh Kinara. Apalagi dia masih harus beristirahat disini.


"Kenapa harus malu? Malu itu kalau kamu ketahuan sedang berciuman dengan orang lain. Lagian barusan kamu yang mulai duluan kok, udah tahu aku nggak bisa dipancing. Rasanya tiap melihat bibirmu, aku selalu ingin melahapnya."


Kinara melotot mendengar jawaban dari Sang Suami. "Dasar mesum!" desisnya.


Tama hanya terkekeh. Dia paling senang saat melihat wajah malu-malu istrinya.


"Udah ah, kita ke ruang rawat Om Susanto saja. Aku mau tahu kondisi dia sekarang!" ajak Kinara. Dan Tama setuju.


Mantan duda tampan dengan rahang tegas itu pun mendorong kursi roda yang diduduki Kinara keluar dari sana.


Ruang rawat Om Susanto hanya berada di sebelah kamar Kinara. Tentu saja itu permintaan khusus dari Tama. Dia tidak mau istrinya kecapekan jika ingin menengok omnya tersebut.


"Ku kira ruang rawat Om Susanto berbeda lantai, eh tahunya cuma sebelahan doang. Terus ngapain aku harus pakai kursi roda padahal kan tinggal melangkah doang?" cibir Kinara.


"Mau beda lantai kek, mau sebelahan kek, tetap saja untuk ke ruang rawat ini membutuhkan tenaga dan aku nggak mau kamu capek, Sayang," jawab Tama santai.


"Terserah kamu deh, Mas." Apapun yang Tama lakukan, Kinara tahu itu suaminya lakukan karena terlalu mencintainya. Meski kadang kelihatan lebay.


Ceklek!

__ADS_1


Tama membuka ruang rawat Susanto. Mendorong kursi roda itu mendekat ke brankar tempat Susanto sedang terbaring.


"Mas, Om Susanto belum sadar ya?" tanya Kinara saat melihat omnya tersebut masih memejamkan mata.


"Mungkin efek obat biusnya. Sebentar lagi dia pasti siuman kok. Dokter bilang dia sudah melewati masa kritis dan tinggal pemulihan," jawab Tama.


"Om, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Om? Nara memang kesel sama Om dan Tante, tapi, Nara nggak suka kalau harus ngelihat Om terbaring seperti ini." Kinara menggenggam tangan Omnya. "Soal Tante Reni, Om jangan khawatir. Mas Tama sudah menyuruh orang untuk memindahkannya ke rumah sakit ini."


"Mas, Om Susanto benar-benar akan pulih kan?" tanya Kinara memastikan.


"Tentu saja, Sayang. Dokter bilang, luka tusuk itu memang lumayan dalam, tapi untungnya tidak sampai merusak organ di dalamnya. Jadi, kamu jangan khawatir ya," jawab Tama.


Kinara mengangguk.


"Kamu sudah melihat keadaan Om Susanto, sekarang ayo kembali ke ruang rawatmu karena kamu juga butuh istirahat!" ajak Tama.


"Sebentar lagi ya, Mas. Aku mau menunggu Tante Reni dipindahkan ke sini. Aku mau melihat keadaanya," jawab Kinara seraya meminta.


"Mas, aku mohon izin aku ya! Meski Tante Reni jahat, dia adalah adik kandung mama. Keluargaku. Dan aku sayang sama dia dan Om Susanto," potong Kinara.


Tama hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimana pun, dia tidak akan bisa menolak kemauan istrinya tersebut.


"Baiklah. Tapi, setelah Tante Reni dibawa kesini dan kamu tahu gimana kondisinya, kamu harus istirahat. Oke? Ingatlah, bahwa sekarang ada putri kita di dalam rahimmu. Jadi, jangan egois!"


Kinara mengangguk. "Aku janji, aku akan langsung tidur saat mengetahui kondisi Tante Reni," janjinya.


Tama mengusap rambut panjang Kinara sambil sesekali mengecup pucuk kepala wanita itu.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Reni tiba bersama dengan Doni yang mendampingi. Reni langsung dibawa ke kamar rawat Susanto untuk mempermudah keduanya menjalani perawatan bersama.


"Terima kasih, Doni karena kamu mau membantuku mengurus semuanya," ucap Tama kepada asisten pribadinya itu.


"Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya," jawab Doni. "Apa masih ada hal yang harus saya kerjakan lagi, Pak? Mumpung saya masih ada di sini."

__ADS_1


"Tidak ada. Kamu bisa pulang sekarang. Sekali lagi, terima kasih ya, Don," ucap Tama.


Doni menunduk hormat setelah itu pamit undur diri.


Kinara langsung mendekat ke arah tantenya. "Tante, gimana keadaan Tante sekarang? Tante tidak apa-apakan?" tanya Kinara sambil menggenggam tangan tantenya.


"Tante tidak apa-apa, Nara. Hanya sedikit pusing," jawab Tante Reni dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Kinara masih sudi mengurus dirinya dan Susanto. Padahal selama ini dia dan suaminya selalu memanfaatkannya.


"Nara, Nara maafin, Tante. Tante tahu selama ini Tante salah. Tolong maafin Tante dan Om-mu ya. Tante mohon Nara!" Tante Reni melipat kedua tangan di depan dada bahkan dia sempat ingin turun dari ranjangnya untuk berlutut dan memohon ampun atas segala dosa yang ia lakukan kepada keponakannya tersebut.


Kinara tidak membiarkan tantenya itu untuk berlutut. Dia malah menarik tantenya itu kedalam pelukan.


"Nara... maafin, Tante ya! Maafin, Tante. Maaf karena Tante terlambat menyadari kesalahan Tante," ucap Tante Reni dengan turgugu. Air matanya bahkan mengalir tanpa bisa dibendung.


"Iya, Tante. Kita lupakan semua yang terjadi di masa lalu dan membuka lembaran baru sebagai keluarga yang saling menyayangi. Sesuai dengan keinginan mama dan papa," balas Kinara. Dia pun sama, tak bisa menahan air matanya untuk jatuh.


"Mbak Maya, Mas Herman. Maaf karena selama ini aku memperlakukan putra kalian dengan kejam. Mulai sekarang aku janji pada kalian untuk menebus semua kesalahanku itu. Aku akan bekerja keras untuk mengembalikan uang yang sudah kami pakai. Uang yang seharusnya menjadi milik putri kalian. Maafin aku, Mbak, Mas," ucap Reni soalah dia sedang berbicara dengan almarhum kakak dan kakak iparnya.


"Tante, soal itu tidak usah dipikirkan. Yang paling penting adalah kesehatan, Tante dan juga Om Susanto. Hm?"


Tante Reni mengangguk. "Ohya, bagaimana keadaan Om-mu? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Tante Reni khawatir.


"Dokter bilang operasinya sukses dan tidak ada masalah. Om Susanto belum sadar karena masih dalam pengaruh obat bius." Kini Tama yang menjawab. "Maafin saya ya, Tante. Semua ini terjadi karena saya. Seandainya saya tidak memerintahkan security di rumah untuk mengusir Om Susanto, dia pasti tidak akan mengalami hal ini."


"Kamu tidak salah kok, Tam. Wajar kamu melakukan itu karena kamu hanya ingin melindungi istrimu dari kami. Mungkin ini cara Tuhan memberi hukuman pada kami," tutur Tante Reni. Dia menatap wajah suaminya yang masih belum sadarkan diri.


Saat itulah Susanto menggerakkan jemarinya. Perlahan dia pun membuka matanya. "Dimana ini?" tanya Susanto sambil memindai sekelilingnya. Dia ingat kalau tadi ada orang yang berusaha merebut uang yang ada di dalam tas.


"Om, jangan bangun dulu! Dokter bilang Om harus banyak istirahat agar cepat pulih," cegah Tama saat Susanto mencoba untuk bangun.


"Uang itu? Bagaimana dengan uang itu? Apa mereka mengembalikan uang itu?" tanya Susanto.


Tama menghela napasnya. Sementara Kinara dan Reni hanya saling melempar pandangan. Mereka semua tidak menyangka jika hal yang ditanyakan oleh Susanto saat sadar adalah uang.

__ADS_1


__ADS_2