
Pengakuan Tama di hadapan Dewi mengenai perasaannya terhadap Kinara tak serta merta langsung membuat sikapnya terhadap Kinara berubah. Dia tetap bersikap dingin seperti biasanya. Bukan karena ia tak mau mengakui perasaanya tersebut kepada Kinara hanya saja dia merasa canggung untuk menunjukkannya secara terangan-terangan. Bahkan malam setelah Bintang dan Dewi kembali ke rumahnya, Tama masih tidur di ruang kerjanya.
Pagi itu Tama bangun lebih pagi dari biasanya karena semalam ia tidak bisa tidur. Semalam dia hanya berjalan mondar-mandir di ruang kerja dan berharap Kinara akan merayunya seperti yang biasa istrinya itu lakukan. Sayangnya harapan Tama itu tak terwujud karena setelah Bintang dan Dewi pulang, Kinara langsung masuk ke kamar putra mereka dan tidur di sana. Ingin ikut bergabung, tapi gengsi. Alhasil, semalaman Tama tak tidur sama sekali.
"Kamu nggak ikut ke kantor hari ini?" tanya Tama saat melihat Kinara masih memakai kaos oblong dan celana kulot setinggi lutut.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang ya Mas, kalau aku harus memilih antara merawat anak-anak dan menjadi sekretarismu. Karena belum ada pengasuh baru makanya aku milih ngerawat mereka dulu. Nggak apa-apa kan?"
"Nggak masalah sih. Tapi, kenapa kamu belum siap-siap? Kan ini sudah hampir jam 7, bukannya anak-anak harus berangkat ke sekolah?" tanya Tama lagi.
"Barusan ada pemberitahuan dari wali kelas si kembar bahwa hari ini sekolah diliburkan karena para guru ada pertemuan dengan dinas pendidikan," jawab Kinara sambil menunjukan pesan yang dikirim oleh wali kelas Taki dan Maki.
"Anak-anak sudah mandi?"
"Sudah. Sebentar lagi mereka juga turun buat sarapan," jawab Kinara.
Tidak lama Bik Sumi datang. "Nyonya di luar ada tamu. Katanya teman Anda." Bik Sumi memberitahu.
"Temanku? Siapa? Perasaan aku nggak mengundang siapa pun untuk datang ke rumah," jawab Kinara. Dia sendiri tidak tahu siapa teman yang dikatakan oleh Bik Sumi yang datag ke rumahnya pagi-pagi.
"Nggak tahu, Nyonya. Tapi, dia bilang dia teman kecil Anda."
Kinara memikirkan siapa teman kecil yang dumaksud hingga akhirnya dia ingat dengan seseorang. Hal yang sama pun dilakukan oleh Tama. Mendengar kata teman kecil dari Kinara membuatnya langsung bisa menebak siapa tamu yang datang ke rumah pagi ini.
"Dimana dia sekarang?" tanya Kinara kepada Bik Sumi.
"Saya menyuruh dia menunggu di teras, Nyonya. Apa perlu saya menyuruhnya masuk sekarang?"
"Tidak usah, Bik. Biar aku saja yang ke sana. Bik Sumi tolong urus sarapan anak-anak dan Mas Tama sebentar ya!" pinta Kinara.
Kinara langsung ke teras rumah untuk menemui tamu yang dimaksud. Dan benar dugaannya, dia adalah Reno. Entah apa yang membuat pria itu datang ke rumahnya sepagi ini.
"Reno ada apa pagi-pagi sudah datang ke rumah? Apa ada hal yang mendesak?" tanya Kinara.
__ADS_1
"Memangnya aku hanya boleh berkunjung ke rumahmu kalau ada keperluan mendesak?"
"Ya... nggak gitu juga sih. Tapi, kalau kamu datang sepagi ini aku nggak akan bisa menyambutmu dengan semestinya karena jam segini aku sedang sibuk ngurus suami dan anakku." Kinara beralasan.
"Ya sudah kamu urus mereka dulu, aku bisa menunggumu disini," ujar Reno. Dia duduk di sofa ruang tamu bahkan tanpa Kinara persilakan.
"Baiklah terserah kamu. Tapi, kalau aku lama jangan ngomel apalagi ngeluh ya? Kan salah kamu sendiri bertamu saat Tuan rumah sibuk." Kinara akhirnya kembali ke meja makan.
"Ngapain pagi-pagi tuh orang kemari?" tanya Tama.
"Entahlah. Katanya cuma mau main," jawab Kinara. Dia kembali mengambil nasi untuk Tama, Taki, dan Maki. Kemudian ikut duduk untuk menikmati sarapan bersama.
Usai sarapan ternyata Tama tidak langsung berangkat ke kantor. Padahal tadi alasanya bangun pagi karena ada jadwal meeting pagi ini.
"Mas, kok belum berangkat? Katanya ada meeting?" tanya Kinara saat melihat suaminya masih duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga.
Ruangan itu hanya berbatas tembok kaca dengan ruang tamu dan memudahkan Tama untuk bisa melihat aktifitas yang dilakukan oleh Kinara bersama dengan orang yang katanya teman lama dari istrinya tersebut.
"Orangnya tiba-tiba minta jadwal diundur," jawab Tama. Padahal dia sendiri yang meminta stafnya di kantor untuk mengubahnya.
"Hm," jawab Tama singkat.
"Aku temui Reno dulu ya? Kamu sudah gak membutuhkan apa-apa kan?" Kinara meminta izin untuk menemui Reno di ruang tamu. Dia merasa tidak enak karena meninggalkan tamunya sendiri sejak tadi.
"Hm." Lagi-lagi Tama hanya menjawab singkat.
***
Tidak hanya Tama yang terus mengawasi hal yang dilakukan Kinara dan Reno di ruang tamu. Taki dan Maki pun ikut serta.
Tama, Taki, dan Maki beberapa kali mengubah posisi mereka agar bisa melihat dengan jelas hal yang dilakukan oleh Kinara. Meski sebenarnya semua sudah terlihat jelas. Hanya saja ruang keluarga yang lebar dan ruang tamu yang juga lebar membuat ketiganya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang Kinara dan Reno perbincangkan.
"Mereka lagi ngobrolin apaan sih?" keluh Tama. Hatinya kesal melihat keakraban mereka.
__ADS_1
"Aku juga penasaran, Pa," sahut Taki. Maki ikut mengiyakan.
"Pa, bagaimana kalau kita nguping pembicaraan mereka?" Maki memberikan usul.
"Itu tidak sopan namanya," jawab Tama. "Tapi, papa juga penasaran sih."
"Kalau begitu papa setuju kan kita nguping?" tanya Maki.
Tama melihat ke arah Taki dan bocah itu mengangguk setuju. Ketiganya kemudian berjalan mendekati pintu. Taki mencoba mendengarkan dengan mendekatkan telingan pada daun pintu. Hal yang sama pun dilakukan oleh Maki dan Tama. Ketiganya berusaha mendengarkan obrolan Kinara dengan Reno.
"Kamu bisa mendengarnya?" tanya Tama kepada Maki, Maki menjawab dengan gelengan.
"Kamu denger nggak, Taki?" Maki bertanya pada Taki.
"Enggak juga," jawab Taki sambil menggeleng.
Ketiganya berusaha menajamkan pendengaran mereka.
***
"Dari semalam aku penasaran dengan kehidupan rumah tanggamu? Apa kamu benar-benar bahagia menikah dengan Tama? Apalagi katamu, kamu masih ragu dengan perasaan Tama terhadapmu?" tanya Reno. Meski kemarin Kinara sempat bilang bahwa dia bahagia dengan pernikahanya. Namun, pernyataan Kinara yang mengatakan bahwa dia tidak tahu perasaan Tama terhadapnya dengan pasti membuat Reno ikut penasaran.
Reno tidak tahu apa yang membuat Kinara berkata seperti itu, padahal sebagai pria dia bisa merasakan kalau Tama juga memeliki perasaan suka kepada Kinara.
Mungkinkah Tama tidak menunjukan perasaan itu karena sesuatu? Jika benar, maka Reno bertekad ingin membuat suami dari teman masa kecilnya itu mengakui bahkan menunjukan perasaanya terhadap Kinara.
"Aku bahagia kok, Ren. Sungguh. Jadi, jangan cemaskan aku," jawab Kinara.
"Aku di Indonesia cuma seminggu, itu pun karena harus mengurus proyek dengan suamimu. Setelah itu aku harus balik lagi ke luar negeri. Aku hanya berharap sebelum aku pergi, aku benar-benar melihatmu bahagia dengan kehidupanmu."
Kinara hanya tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kapan Tama akan benar-benar membuka hati untuknya.
Reno tersenyum ketika tanpa sengaja dia melihat Tama dan kedua anaknya sedang menguping. Sekarang Reno tahu apa yang harus dia lakukan agar cowok angkuh seperti Tama bisa segera mengakui perasaanya kepada Kinara.
__ADS_1
"Ya sudah hari ini aku pulang dulu. Sepertinya kalau aku terlalu lama disini suamimu tidak akan berangkat kerja," desis Reno. Dia menunjukkan ke Kinara hal konyol yang sedang dilakukan suami dan kedua anak sambung Kinara dengan ekor matanya.