Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 68


__ADS_3

Tama buru-buru pulang ke rumah karena takut putra kembarnya sudah mengeksekusi rencana mereka. Apalagi kedua bocah itu sudah mengiriminya pesan dan bilang sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan.


Setelah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil tersebut ia pun melajukannya dengan kecepatan penuh. Tama harus mencegah kedua putra kembarnya memberikan kejutan. Selain takut trautama Kinara kambuh, ia juga takut kedua anaknya akan membenci Kinara.


Beberapa saat yang lalu, Reno bercerita jika tepat di hari ulang tahun Kinara, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal dunia. Menurut cerita yang didengar dari Reno barusan. Kecelakaan itu terjadi karena kedua orang tua Kinara melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata yang disarankan karena ingin secepatnya sampai rumah untuk merayakan ulang tahun putri semata wayang mereka. Kinara yang terus merengek, meminta kedua orang tuanya untuk segera pulang dan merayakan ulang tahunnya, membuat mereka melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa. Padahal mereka baru saja meeting dan belum tidur seharian. Karena lepas kendali, mobil yang dikendarai mereka pun menabrak pembatas jalan tol, terjungkal berkali-kali hingga akhirnya meledak bersama dengan kedua orang tua Kinara di dalamnya.


Sejak saat itu Kinara terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa dialah orang yang pantas bertanggung jawab atas peristiwa naas yang terjadi pada kedua orangtuanya. Jika saja dia tidak merengek dan meminta mereka untuk cepat pulang, kecelakaan dahsyat itu tidak mungkin terjadi dan kedua orang tuanya pasti masih hidup sampai sekarang. Sejak saat itu, Kinara membenci hari ulang tahunnya. Dia akan berteriak histeris saat ada kue tart dan menyayikan lagu selamat ulang tahun.


Tama mencoba menelpon ponsel milik putranya, sayangnya tidak ada yang menjawab dan itu membuat Tama semakin cemas. Dia pun beralih menelpon nomor rumah dan lagi-lagi belum dijawab. Kemungkinan Bik Sumi sedang sibuk membantu kedua putranya untuk memberikan kejutan tersebut.


"Jangan-jangan mereka sudah menjalankan rencana itu?" gumam Tama panik. Tama menambah laju mobilnya agar segera sampai di rumah. Dia takut trauma Kinara akan kambuh dan membuat kedua putranya ketakutan. Tama tidak mau anak-anaknya membenci Kinara karena itu.


Sekali lagi Tama mencoba menghubungi ponsel putra kembarnya dan hasilnya masih sama. Tidak dijawab. Demikian juga saat dia kembali menelpon ke nomor rumah.


"Aku harus segera tiba di rumah." Tama membatin.


***


Di tempat lain, Reni berjalan mondar-mondir sambil menghela napasnya berkali-kali seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Ren? Dari tadi aku perhatikan kamu terus berjalan mondar-mandir sambil menghela napas begitu?" tanya Susanto. Ia yang dari tadi memainkan benda pipih di tangan merasa terganggu melihat polah istrinya.


"Mas, kamu inget nggak ini tanggal berapa?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Reni malah balik melemparkan pertanyaan.


"Ini tanggal 7 agustus. Memangnya kenapa?"


"Iya tahu hari ini tanggal 7 agustus, tapi kamu ingat nggak ada apa dengan tanggal itu?" Lagi. Reni melemparkan pertanyaan.


Susanto hanya mengedikan bahu. Dia kembali memainkan ponselnya.


"Aku kepikiran Nara, Mas," ucap Reni. Sontak saja perkataan Reni membuat Susanto kembali menghentikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Kenapa dengan anak itu?" tanya Susanto yang tampak tak peduli.


"Hari ini diakan ulang tahun, Mas. Apa dia masih sama seperti sebelum-sebelumnya mengurung diri kamar?" Reni menghela napasnya. "Aku khawatir, Mas. Apa Tama tahu tentang kondisi Nara itu? Bagaimana kalau trauma Nara kambuh?" pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Reni menandakan betapa wanita itu mengkhawatirkan keponakannya.


"Udahlah, Ren. Ngapain kamu memikirkan itu? Itu kan urusan Tama. Lagian keponakanmu itu juga sudah nggak peduli sama kita," ujar Susanto.


"Biar bagaimana pun Nara itu keponakan kandungku, Mas. Anak dari kakak kandungku, tentu saja aku khawatir. Kalau soal sikap Nara ke kita, itu memang salah kita. Kita yang tega karena sudah menghabiskan harta orang tuanya, kita juga yang tega yang menjadi dia sapi perah. Jadi, jangan salahkan Nara untuk sikapnya kepada kita kini. Karena itu murni kesalahan kita," jawab Reni panjang lebar. Reni sadar bahwa ketidakpedulian Kinara kini karena memang kesalahannya dan sang suami.


"Terus kamu mau ngapain?" tanya Susanto. Dia kesal karena waktu santainya terganggu.


"Kita ke rumah Tama yuk, Mas. Aku harus menceritakan tentang kondisi Kinara kepada Tama. Kinara butuh psikolog untuk membantunya menghilangkan trauma itu. Hal yang tidak pernah kita lakukan, padahal itu juga tanggung jawab kita. Kita malah menambah bebannya dengan terus menerus menekankan bahwa kecelakaan itu terjadi karena dia. Karena dia terus merengek minta orangtuanya pulang dan ulang tahunnya dirayakan. Padahal kita berdua tahu, kepulangan kedua orangtua Nara itu sudah diagendakan sebulan sebelumnya," tutur Reni.


Iya, Reni ingat bagaimana ia terus menyalahkan Kinara atas meninggalnya kakak kandungnya tersebut. Padahal yang paling menderita atas kepergian mereka adalah Kinara. Anak kecil itu harus kehilangan sosok ayah dan ibu secara bersamaan di hari istimewanya. Tapi, bukannya menghibur. Reni dan suaminya justru terus menyalahkan Kinara dan menuduh gadis kecil itu penyebab semuanya terjadi.


"Malas ah, lagian buat apa kita kesana? Biarin saja traumanya kambuh, biar Tama dan anak-anaknya membencinya lalu mengusirnya," jawab Susanto. Dia masih kesal karena Kinara tak mau lagi memberikannya uang. "Hidup kita jadi susah begini karena keponakan itu, jika kamu lupa." Sinis Susanto.


Tentu Reni tak menerima perkataan suaminya. Dia mumukul lengan suaminya dengan sangat kuat. "Kita menderita bukan karena Nara! Itu salah kamu, Mas! Kamu itu kepala keluarga. Kamu punya kewajiban mencari nafkah untukku bukan malah memanfaatkan Kinara. Bisa-bisanya kamu nyalahin Kinara, padahal kamu sendiri yang nggak becus jadi kepala keluarga," omel Reni.


"Iya. Kenapa? Lagian memang semua yang aku katakan itu benar kok. Kita yang sudah mengahabiskan harta kedua orang tua Kinara, tapi kenapa kita menyalahkan Kinara? Dia bahkan sudah menanggung hidup kita sejak remaja. Padahal itu tugas kita sebagai om dan tantenya," jawab Reni. Kali ini dia tidak mau lagi mengikuti perkataan Susanto. Bagaimana pun kesulitan yang menimpa hidupnya kini bukan salah Kinara, tapi salah mereka yang tidak mau bekerja. "Dan seharusnya sejak dulu aku tidak mengikuti perkataanmu!" tambah Reni.


Meski semua yang Reni katakan benar, Susanto kesal mendengarnya. "Ya sudah. Sana kesana sendiri!" bentaknya.


Reni betul-betul kesal. Sudah hidup menderita seperti ini saja suaminya itu belum juga mau tobat dan berubah.


"Ya sudah, terserah kalau kamu nggak mau ikut kesana. Aku akan kesana sendiri untuk berbicara pada Tama tentang kondisi Kinara itu. Semoga saja setelah ini, Kinara benar-benar sembuh dari traumanya!" Bentak Reni. Dia masuk ke dalam kamar, mengambil tas, kemudian melenggang keluar.


"Argh! Sialan tuh si Reni! Berani sekali dia bela keponakan yang sudah bikin hidup kita menderita!" rutuk Susanto. Namun, sesaat kemudian terlintas pikiran licik dari pria pemalas itu untuk memanfaatkan keadaan.


Laki-laki yang berstatus suami dari tante Kinara itu segera menyusul sang istri. "Ren, tunggu, Ren! Aku ikut!" panggilnya.


***

__ADS_1


Tama tiba di rumahnya lebih cepat sepuluh menit dari waktu yang tempuh yang biasa dia lakukan. Dengan setengah berlari ia segera masuk ke dalam rumah. Pikirannya kacau saat mendengar kedua putranya menangis dan suara Kinara yang berteriak histeris.


"****! Aku terlambat!" umpat Tama.


Tama menaiki anak tangga satu per satu. Langkah kakinya langsung mengantarkanya ke kamar dan benar di sana ia melihat keadaan yang sudah kacau.


Kue tart tercecer di lantai. Bik Sumi yang sedang berusaha menenangkan Taki dan Maki yang menangis. Dan Kinara. Dia duduk di lantai dengan kedua lutut ditekuk dan berteriak histeris sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.


"Bik Sumi, tolong bawa Taki dan Maki ke kamarnya! Aku akan mencoba menenangkan Nara terlebih dulu. Tolong ya, Bik!" pinta Tama kepada wanita paruh baya di hadapannya.


"Iya, Tuan. Tapi, Nyonya Nara kenapa? Kenapa dia seperti itu, Tuan?" tanya Bik Sumi. Dari sorot matanya terlihat kekhawatiran.


"Dia memiliki kisah menyedihkan di hari ulang tahunnya," jawab Tama sambil menatap sedih sang istri. "Jadi, tolong ya, Bik Sum. Bantu aku menenangkan Taki dan Maki!" pintanya.


"Baik, Tuan," jawab Bik Sum. Dia juga prihatin melihat keadaan istri dari majikannya itu saat ini.


Tama mendekati kedua putranya. "Taki, Maki, ikut Bik Sumi ya!" serunya sambil mengusap kepala keduanya dengan sayang.


Kedua bocah itu mengangguk. Mereka juga menatap Kinara dengan tatapan takut dan sedih.


"Den Taki, Den Maki, ayo kita ke kamar dulu!" ajak Bik Sumi. Dia memeluk kedua bocah kembar itu dan membawanya keluar dari kamar Kinara.


Tinggallah Tama dan Kinara di dalam kamar. Tama berjalan ke arah Sang istri. Berjongkok di depannya, kemudian menarik Kinara ke dalam dekapan. Awalnya Kinara meronta sambil terus berteriak. Tapi sedikit demi sedikit teriakan itu mereda saat Tama mengusap punggung dan mencium pucuk kepalanya.


"Semua bukan salahmu, Nara! Semua bukan salahmu," lirih Tama.


Kinara mendongak menatap kedua bola mata suaminya seolah bertanya apa benar itu bukan salahnya?


Tama mengangguk. "Kamu tidak salah. Kamu tidak salah!" ucap Tama sambil mengeratkan pelukan.


Punggung Kinara naik turun seiring dengan isakannya. Tubuhnya yang tremor mulai mereda. Dia bahkan mulai membalas pelukan yang diberikan oleh Tama.

__ADS_1


__ADS_2