
"Mirna apa yang terjadi? Kenapa Taki dan Maki bisa masuk rumah sakit?" tanya Tama kepada pengasuh anaknya saat ia dan Kinara tiba di rumah sakit.
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi, Taki dan Maki tadi buang air besar terus-menerus kemudian pingsan. Jadi, pihak sekolah langsung membawanya ke sini," terang Mirna. Pengasuh Taki dan Maki menjelaskan hal yang terjadi ketika di sekolah.
"Buang air besar? Memang apa yang mereka makan di sekolah? Apa kamu tidak mengawasi mereka? Hah?!" bentak Tama.
"Pak, sebaiknya Bapak tenang. Kita tunggu hasil pemeriksaan dari dokter." Kinara berusaha menenangkan Tama.
"Mereka hanya makan bekal yang disediakan oleh Nyonya dari rumah," jawab Mirna sambil menatap ke arah wanita yang berstatus istri dari bosnya tersebut.
Kini giliran Kinara yang mendapatkan tatapan tajam dari Tama.
Kinara tahu arti dari tatapan Tama tersebut. Laki-laki itu sedang meminta penjelasan darinya. "Pak, saya hanya membawakan beberapa pancake yang saya buat tadi pagi," jawab Kinara dan memang itulah yang dia lakukan.
Tidak lama kemudian seorang dokter dan perawat keluar dari IGD dan menemui mereka.
"Dok, apa yang terjadi anak-anak saya?" tanya Tama.
__ADS_1
"Bapak ini.... "
"Saya orang tuanya," jawab Tama cepat.
"Begini Pak dari hasil pemeriksaan kedua putra Bapak sepertinya meminum obat pencuci perut. Makanya mereka diare dan akhirnya terkena dehidrasi akut. Tapi, sekarang kondisi mereka sudah mulai membaik dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan," jelas sang dokter.
"Pencuci perut?" tanya Tama.
"Iya, Pak. Mungkin mereka tidak sengaja menelan itu, jadi saran saya kalau dari keluarga ada yang mengkonsumsi itu jauhkan dari jangkauan anak-anak karena anak seusia mereka biasanya rasa penasaran akan sesuatu itu besar."
"Saya permisi ya, Pak. Saya harus memeriksa pasien yang lain. Perawat akan menunjukan kepada kalian dimana ruang rawat anak Anda. Permisi."
"Mari, Pak, ikut saya!" Perawat itu mempersilakan Tama dan yang lainya untuk mengikutinya.
"Nyonya, kenapa Nyonya lakukan itu kepada mereka?" ucap Mirna kepada Kinara.
"Maksud kamu apa, Mbak?" tanya Kinara tidak mengerti.
__ADS_1
"Mereka hanya memakan bekal yang Nyonya siapkan, jadi pasti Nyonya kan yang memasukan obat pencuci perut itu ke makanan mereka?"
"Mbak untuk apa aku melakukan itu? Lagian kalau aku memasukan obat itu ke makanan yang aku buat seharusnya tidak hanya mereka yang diare, tapi kita semua karena kita semua juga memakanya," jawab Kinara. Dia tidak mau disalahkan karena memang dia tidak bersalah.
"Mungkin saja kan kalau Nyonya hanya memasukan itu ke dalam bekal yang akan dibawa oleh si kembar." Kembali Mirna menuduh Kinara.
"Dengar, aku bukan orang yang tega menyakiti orang lain apalagi anak kecil. Jadi, mana mungkin aku melakukanya. Lagian tidak ada alasan buatku untuk menyakiti mereka," tutur Kinara.
"Mungkin saja Nyona kesal sama Pak Tama dan melampiaskanya ke anak-anak." Mirna tetap berusaha memprovokasi agar Tama mempercayai asumsinya itu.
Kinara menggeleng saat Tama menatapnya.
"Apa Bapak juga beranggapan begitu?" Kinara bertanya kepada Tama. Dia berharap kalau Tama tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Mirna.
"Kita bahas itu nanti. Sekarang aku harus melihat kondisi Taki dan Maki dulu," jawab Tama. Dia tidak mengiyakan juga tidak menyanggahnya. Laki-laki itu langsung mengikuti perawat yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan mereka.
Mendengar jawaban dari Tama membuat Kinara berkesimpulan jika pria itu juga memiliki pemikiran yang sama dengan Mirna. Kinara terpaku di tempatnya tanpa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
"Lihat saja, sebentar lagi Pak Tama pasti akan mengusirmu!" batin Mirna. Dia menatap Kinara yang masih diam di tempatnya. Pengasuh Taki dan Maki itu kemudian mengikuti majikanya ke ruang perawatan Taki dan Maki.
"Kenapa rasanya sakit," gumam Kinara sambil meremas dadanya sendiri. Tidak dipercayai adalah hal yang paling menyakitkan apalagi oleh suaminya sendiri.