
"Jadi, apa?" Tama mengulang pertanyaannya.
"Aku akan bawa anak-anak ke kantor pulang kerja nanti. Jadi, sambil kerja aku bisa tetap awasi mereka. Nah, kalau ada pekerjaan yang tidak terlalu diburu-buru aku akan kerjakan itu pada malam hari setelah anak-anak pada tidur. Gimana? Bisakan?" tanya Kinara setelah menjawab pertanyaan suaminya. "Aku janji kalau mereka tidak akan membuat masalah selama di kantor."
Kinara mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
"Nara, bukanya aku tidak setuju dengan usulmu itu. Tapi, karyawan yang lain pasti akan merasa terganggu. Lagian aku tahu watak kedua anak-anakku, mereka tidak akan duduk diam, hanya karena perintah darimu," terang Tama.
Meskipun terlihat sibuk, Tama selalu punya cara untuk mengamati kedua puteranya. Taki dan Maki tidak akan pernah bisa diam sebelum mata mereka tertutup.
"Tapi, aku yakin kok kalau mereka bakalan nurut dan jadi anak baik selama aku ajak ke kantor." Kinara pantang menyerah, dia harus bisa membujuk Tama agar mau menyetujui idenya.
"Gak. Pokoknya kamu harus beri keputusan, mau menjaga mereka atau tetap kerja. Kalau kamu tetap mau bekerja, maka sore ini aku akan minta yayasan untuk mengirim babysitter ke rumah. Tapi, kalau kamu pilih mengasuh mereka sendiri, secepatnya buat surat pengunduran diri agar aku bisa mencari sekretaris lain," jawab Tama tegas.
"Sebenarnya sih aku milih ngasuh mereka, karena aku tidak tega kalau mereka disakiti oleh pengasuh mereka nanti, kayak di berita yang aku dengar semalam. Tapi, aku juga masih membutuhkan pekerjaan itu," lirih Kinara.
"Aku masih bisa menafkahimu."
"Aku tahu. Tapi, aku butuh itu untuk mengembalikan semua uang yang kamu berikan kepadaku sebelum kita menikah. Aku tidak mau keluargamu, terutama Taki dan Maki mengira kalau aku tidak menyayangi mereka dengan tulus. Padahal aku bener-bener sayang sama mereka." Kinara mengatakan panjang lebar alasanya.
"Aku bisa melihatnya. Dan soal uang aku tdak pernah meminta kamu untuk mengembalikanya."
"Iya, sih. Tetep saja aku merasa kalau itu kayak semacam bayaran. Makanya harus mengembalikanya dengan uangku sendiri, bukan uang nafkah dari kamu. Pokoknya, apa pun yang terjadi, aku akan mengembalikan uang yang kamu gunakan untuk menebus rumah, membayar hutang om dan tanteku, dan uang yang kamu berikan ke mereka sebelum kita menikah. Meski harus mencicil seumur hidup, aku tetap akan mengembalikanya," ujar Kinara dengan sungguh-sungguh.
"Jadi, please! Aku mohon padamu ya, Mas. Izinkan aku membawa mereka ke perusahaan setelah mereka pulang sekolah. Ya, Mas, ya! Please!" Kinara mengatupkan kedua tangan di depan dada sambil memohon.
Tama menatap wajah wanita yang duduk di sebelahnya sebentar. Setelah itu dia kembali menyalakan mesin mobil dan melajukanya.
"Baiklah. Tapi, hanya untuk sementara sampai kita menemukan babysitter yang sesuai dengan kriteriamu. Karena bagaimana pun, kamu tidak mungkin selamanya mengajak mereka ikut ke tempat kerja kan?" jawab Tama yang akhirnya menyetujui permintaan Kinara.
Kinara mengangguk. "Terima kasih, Mas," ucap Kinara sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat hati Tama berdesir.
***
Reni dan Susanto masih menatap tak percaya dengan hal yang mereka lihat sekarang. Mereka saling melempar pandangan saat melihat keberadaan Mirna si pengasuh itu berdiri di depan pintu sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sini lagi? Pakai bawa koper lagi, mau pindahan?" tanya Reni.
"Minggir! Aku mau masuk dulu, gerah dari tadi panasan di jalan." Tanpa permisi, Mirna langsung nyelonong masuk ke rumah kontrakan Reni dan Susanto. Dia kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
"Nyalain kipas anginya dong! Panas banget sumpah!" suruh Mirna sambil mengibas-ngibaskan kedua telapak tangan.
Susanto hendak melakukan hal yang diperintahkan oleh Mirna. Namun, dicegah oleh Reni. "Mau ngapain, Mas?" tanya Reni saat tangan Susanto tinggal beberapa senti dari tombol kipas angin.
"Dia bilang panas, makanya mau aku nyalain kipas anginya," jawab Susanto polos.
"Kamu babunya?"
"Bukan."
"Pesuruhnya?"
"Bukan juga sih."
"Lha terus ngapain mau ikuti perintah dia?" Reni bersungut ria melihat tingkah sang suami.
Kini Reni beralih menatap Mirna. "Hei, kamu belum jawab pertanyaanku! Itu kamu bawa-bawa koper kenapa? Terus mau ngapain?" tanya Reni kepada Mirna.
"Ouh ini. Untuk sementara aku akan tinggal di sini soalnya aku baru saja dipecat sama Pak Tama."
"Apa?!" pekik Reni dan Susanto. Keduanya berjingkat kompak dengan mata melotot.
"Gak-gak, kamu gak boleh tinggal di sini! Rumah ini kecil dan sempit. Kalau nambah kamu, makin sempit tahu," tolak Reni mentah-mentah.
"Lho kenapa nggak boleh? Kan aku dah ikut bayar sewanya semalam. Lupa? Uang yang kalian gunain buat bayar kontrakan rumah ini tuh uangku. Jadi, wajarlah aku ikut tinggal disini. Lagian, aku gak akan lama kok tinggal disini. Cuma sampai hpku selesai diperbaiki, setelah itu aku akan kembali ke rumahnya Pak Tama," sahut Mirna.
"Eh, itukan dp buat kita menjalin kerjasama. Gak bisa ya kalau itu dianggap sebagai uang sewa," jawab Reni tak mau kalah.
"Memang kalian sudah punya rencana apa buat misahin Pak Tama sama si Nara? Belum punya kan? Karena kalian belum punya, jadi sudah diputuskan kalau untuk sementara aku akan tinggal di sini," putus Mirna.
"Eh, eh, gak bisa gitu dong," protes Reni. "Sebenarnya kami sudah punya ide buat misahin Tama sama si Nara. Tapi, karena kamu bilang mau ikut nebeng tinggal disini. Idenya ku simpan dulu."
__ADS_1
"Lho kok gitu?" kini giliran Mirna yang protes.
"Karena tidak ada kesepakatan sebelumnya kalau kamu bakalan ikut tinggal di sini," jawab Reni. Wanita itu kemudian duduk tepat di sebelah suaminya yang sudah ikut duduk di sofa.
"Memang kalian punya rencana apa?" tanya Mirna penasaran.
"Kasih tahu gak ya?" jawab Reni yang justru sengaja mempermainkan rasa penasaran mantan pengasuh Taki dan Maki tersebut.
"Buruan kasih tahu! Kalau idenya oke, aku tambahin lagi sejuta sekarang juga!" seru Mirna.
"5 juta lagi."
"1 juta, 100 ribu."
"4,5 juta."
"1 juta, 225 ribu."
"3 juta."
"1 juta 300 ribu."
"Ish... apaan sih kamu, Mir. Masa naikin harganya dikit banget. Padahal aku turunya 500 ribu. Itu yang terakhir malah turun 1,5 juta," protes Reni.
"Kan aku baru saja dipecat. Ntar kalau aku sudah bisa kerja di rumah Pak Tama lagi, aku akan kasih uang lebih," beber Mirna.
"Iya-iya. Sini aku bisikin, tapi kasih dulu uangnya!" Reni menengadah satu telapak tanganya di depan Mirna.
Mirna menghela napas sebentar. Dia kemudian mengambil uang dari dalam amplop coklat sebesar 1,5 juta dan memberikanya kepada Reni. "Tuh, ambil. Aku kasih lebih dikit," cicit Mirna dengan nada sedikit sombong.
"Heleh, ngasih lebih dikit aja belagu," gerutu Reni. "Sini aku bisikin ide kami!"
Mirna menurut, dia mendekatkan telinganya di samping mulut Reni. Dia manggut-manggut saat Reni menyampaikan semua idenya.
"Bagaimana? Bagus kan ideku?"
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita harus segera jalankan misi ini. Oke." Mirna mengajak Reni dan Susanto untuk tos. Namun, suami-istri itu malah mengabaikanya. Terpaksa, dia tos dengan dirinya sendiri.