Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 41


__ADS_3

Setelah kedatangan mantan mertuanya tadi siang. Tama semakin bersikap dingin dengan Kinara. Dia seolah menghindar dari Kinara. Bahkan malam itu dia meminta untuk pisah kamar dengan Kinara. Meski bingung dengan perubahan itu, Kinara mengiyakan. Dia tidak mau membuat Tama bingung. Biarlah dia mengejar cinta Tama dengan cara lain. Yakni meminta langsung kepada Penciptanya. Ia yakin Sang Pencipta akan mengabulkan doa yang dipanjatkan dengan tulus oleh setiap hamba-Nya.


Malam itu, Tama tidur kamar tamu dan membiarkan Kinara untuk tetap tidur di kamar mereka.


*


Tok tok tok!


Kinara msngetuk pintu kamar yang ditempati oleh suaminya. Namun, tak kunjung dapat balasan. Karena khawatir Kinara pun langsung masuk ke kamar tersebut. Kebetulan pintu kamar terasbut tidak dikunci.


"Mas, Mas Tama," panggil Kinara sambil melenggang masuk ke dalam kamar.


"Mas Tama," panggil Kinara sekali lagi. Tapi, belum ada jawaban. Hingga akhirnya Kinara menarik sudut bibirnya ke samping saat melihat suaminya ternyata masih tidur.


Dilihatnya sang suami tidur dengan kepala bersandar di atas meja dan posisi laptop masih menyala.


"Pasti semalaman dia lembur," gumam Kinara.


"Kamu ternyata sangat tampan ya, Mas," puji Kinara di dalam hati.


Kinara sedikit menggeser laptop untuk melihat hal apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya. Dan ternyata dia sedang mengerjakan project baru dengan PT Permata Abadi.


"Hm... padahal pertemuan dengan pimpinan perusahaan itu baru akan berlangsung bulan depan. Kenapa Mas Tama sudah mengerjakan itu sendiri? Pasti karena dia tidak bisa tidur. Dan karena gabut dia mengerjakan banyak pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan pada hari-hari berikutnya." Lagi. Kinara bermonolog.


"15 menit lagi aja deh aku bangunin dia." Kinara pun menarik kursi dan meletakan di samping Tama. Dia ikut menaruh kepalanya di atas meja agar bisa leluasa memandang wajah tampan suaminya. Dahi Kinara berkerut saat melihat bibir suaminya terlihat bergerak. Kinara segera menegakan badan dan mendekatkan telinga di bibir suaminya itu.


"Kiara... Kiara jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri... Kiara..... " Tama mengigau.


"Mas, bangun! Mas.... " panggil Kiara saat menyadari bahwa suaminya ternyata sedang mengigau.


"Kiara!" Tama langsung membuka mata dan refleks memeluk Kinara.


Napasnya masih terlihat tersengal dengan keringat di sekujur tubuh.


"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Kinara.


Akhirnya Tama sadar bahwa dia sedang memeluk Kinara dengan cepat ia pun melepaskan pelukanya.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Tama tanpa menatap kedua bola mata Kinara.


"Kamu mimpi buruk, Mas?" Tama mengangkat wajahnya dan menatap Kinara. Dari sana ia melihat kecemasan di mata wanita yang kini berstatus istrinya tersebut.


Tama mengangguk. Hampir tiap malam dia selalu bermimpi saat-saat menjelang Kiara menghembuskan napas terakhirnya. Dan itu sungguh menyesakan dada.

__ADS_1


Mata Tama membulat ketika Kinara tiba-tiba memeluknya.


"Pasti sangat berat bagimu mengingat semua kejadian itu. Mas, lepaskan semua hal yang mengganjal di hatimu tentang almarhum istrimu. Dia meninggal bukan karena kesalahanmu, itu takdir. Jadi, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Hm?" Kinara mengatakan itu sambil menepuk-nepuk punggung Tama.


"Tapi... dia memang meninggal karena ingin memenuhi keinginan kami untuk memiliki anak. Andai saja... andai saja aku tahu bahwa kanker itu kambuh lagi, aku tidak akan meminta hal itu kepadanya," jawab Tama.


Entahlah. Tama tiba-tiba terbuka dengan Kinara. Bahkan tanpa sadar dia menangis dibahu wanita yang berstatus istrinya tersebut saat menceritakan hal yang sudah lima tahun berlalu.


"Mas, aku yakin bukan hanya kamu saja yang menginginkan anak, tetapi Mbak Kiara juga. Makanya dia kekeh mempertahankan kehamilanya meski tahu penyakit kanker itu kambuh lagi. Aku yakin, dia pasti bahagia karena berhasil memenuhi keinginan kalian berdua dengan berhasil melahirkan dua malaikat kecil kalian. Jadi, aku mohon jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Bukan kah semua hal yang terjadi pada setiap manusia di dunia itu sudah ada ketetapanya sebelum kita dilahirkan di dunia? Jadi, berhenti merasa bersalah karena Mbak Kiara pasti tidak akan suka," tutur Kinara panjang kali lebar.


Tama merenggangkan pelukan dan menatap wajah Kinara. "Apa... benar seperti itu?" tanyanya.


Kinara tersenyum kemudian mengangguk. "Aku yakin itu dan sekarang dia pasti bahagia karena melihat dua malaikat kecil yang ditinggalkanya tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan juga sehat," ujarnya.


Tama kembali diam. Dalam benaknya dia kembali berpikir, benarkah Kiara sudah bahagia karena keinginan kami sudah terpenuhi? Apa dia tidak menyalahkan dirinya karena tidak berhasil menyelamatkanya?


"Mas, percayalah Mbak Kiara tidak pernah menyalahkanmu atas pilihanya. Aku yakin dia meninggal dalam keadaan bahagia. Lebih baik selalu kirimi dia doa karena itu yang dibutuhkan oleh Mbak Kiara sekarang," tutur Kinara sambil menggenggam erat tangan suaminya.


Tama menghapus air mata yang sempat keluar dari sudut matanya. Ia menegakan badan sambil menghela napas.


"Oiya, kenapa kamu masuk ke kamarku?" tanya Tama yang kembali bersikap jaim dan sok dingin.


"Ck. Kebiasaan!" Kinara mencebik.


Tama berdehem soalah tidak mendengar perkataan Kinara barusan.


Tama memindai tubuh Kinara dan ternyata wanita itu sudah siap dengan setelan baju kerjanya.


"Kamu sudah mau berangkat kerja lagi?" tanya Tama memastikan.


Kinara mengangguk.


"Apa anak-anak sudah memberimu izin?"


"Sudah. Mereka sudah mengizinkan aku bekerja lagi," jawab Kinara.


"Lalu anak-anak ke sekolah dengan siapa?" tanya Tama lagi, dia terlihat keberatan dengan keputusan Kinara yang ingin kembali bekerja.


"Mbak Mirna, siapa lagi? Mas Tama tenang saja, kali ini dia nggak akan berani macam-macam sama anak-anak."


Tama menghembuskan napas berat. "Memang tidak bisa ya kamu berhenti bekerja saja? Lagian aku masih bisa kok memenuhi segala kebutuhan kamu."


"Apa Mas juga bisa memenuhi kebutuhan biologis aku?" Kinara justru membahas lain.

__ADS_1


Tama melirik sinis. "Aku lagi nggak membahas itu," elaknya.


"Tapi, aku ingin membahas itu," jawab Kinara santai. "Kenapa? Apa aku salah? Wajar dong seorang istri meminta suami memenuhi kebutuhan biologisnya?"


"Sudahlah, lebih baik aku mandi dulu. Kamu tunggu saja di ruang makan, aku akan segera keluar!" seru Tama. Lelah rasanya berdebat dengan Kinara. Wanita itu tidak pernah menyerah untuk membuat Tama menjadikan dirinya istri seutuhnya bagi Tama.


"Mau aku mandiin?" goda Kinara sambil menaik turunkan alisnya.


Refleks Tama menyilangkan tangan ke depan dada. "Keluar sana! Aku mau mandi!"


"Aku serius lho, Mas dengan tawaranku," jawab Kinara.


"Sudah sana keluar!" Tama menarik Kinara dari tempat duduknya dan mendorongnya keluar kamar. Setelah itu dia menutup kembali pintu kamar tersebut.


Kinara tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Tama yang menurutnya lucu. "Mas, aku benar-benar serius lho," godanya.


"Gak," jawab Tama dari dalam.


Kinara tersenyum sebelum akhirnya berjalan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Taki dan Maki.


"Papa mana, Ma?" tanya Taki.


"Sebentar lagi dia ke sini. Sekarang papa lagi mandi," jawab Kinara.


"Maki kok cemberut gitu sih?" tanya Kinara saat melihat wajah Maki ditekuk. "Cerita sama mama ada apa?"


"Beneran Mama akan ikut bekerja dengan papa hari ini?" tanya Maki yang seolah tidak suka jika mamanya kembali bekerja.


"Bukankah semalam kita sudah sepakat bahwa Taki dan Maki akan ngizinin mama buat kembali bekerja. Dan malamnya, Mama akan temani kalian belajar dan bacain dongeng sebelum tidur," rayu Kinara. "Terus saat weekend kita akan menghabiskan waktu buat liburan bersama-sama. Iya kan?"


Maki menghela napas, meski begitu anak itu kemudian mengangguk dan tersenyum.


"Nah, gitu dong. Anak pinter." Kinara mencium kening Maki.


"Aku juga mau dicium, Ma!" protes Taki. Dia iri karena hanya Maki yang dicium.


Kinara kemudian mendaratkan ciuman dikening Taki. "Sudahkan?" Taki tersenyum.


Tama yang melihat itu dari tengah-tengah tangga ikut tersenyum. Dia bahagia melihat kedua putranya tampak senang dengan kehadiran Kinara di sisi mereka.


Pada saat yang bersamaan bel rumah berbunyi.


"Biar aku saja," ujar Tama saat Kinara hendak bangun dari tempat duduknya.

__ADS_1


Tama segera menuruni tangga dan berjalan ke arah pintu. "Sia.... " Tama tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat siapa yang datang.


...- BERSAMBUNG -...


__ADS_2