
Tama dan Kinara akhirnya berangkat bekerja bersama-sama setelah mengantar Taki dan Maki ke sekolah. Tentu saja keduanya memberi peringatan kepada Mirna agar kejadian kemarin jangan sampai terulang lagi. Karena jika itu sampai terjadi, maka Mirna tidak hanya akan dipecat melainkan akan berurusan dengan hukum dan dapat dipastikan dia akan mendekam di penjara dengan waktu yang lama. Dan hal tersebut tentu membuat Mirna berpikir ulang jika ingin mencelakai si kembar lagi.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tama berhenti di depan lobi perusahaan. Dua security langsung bergegas mendekati mobil tersebut untuk membukakan pintu dan memarkirkan mobil.
Tama dan Kinara turun dari dalam mobil. Keduanya berjalan beriringan menuju ke ruang kerja mereka. Sebagai seseoarang yang masih bekerja di perusahaan Wijaya, senyum tak pernah lepas dari bibir Kinara saat berpapasan dengan rekan sejawatnya. Dia tidak mau dianggap sombong karena statusnya yang sudah berubah menjadi istri dari pemilik perusahaan tersebut. Kinara bahkan tetap menyapa Tina dan Atik seperti hari-hari biasanya.
"Mbak Nara nggak berubah ya tetap baik dan ramah meski sekarang dia sudah menjadi Nyonya Tama?" ujar Tina.
"Iya, benar. Aku jadi ngefans sama dia," jawab Atik.
Tina dan Atik yang pernah tinggal bersama dengan Kinara di mes perusahaan berbisik. Keduanya memuji Kinara yang masih tetap bersikap hamble pada pekerja rendahan seperti mereka.
"Hari ini jam 10.00 WIB, Bapak ada meeting dengan pimpinan produk kosmetik yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita untuk membahas produknya. Jam 13.00 WIB Bapak ada jadwal untuk memantau proyek megamall yang akan dibuka bulan depan. Jam 16.00 WIB kita ada rapat dengan pimpinan seluruh divisi untuk membahas laporan mingguan, dan pukul 19.00 Bapak ada undangan makan malam dengan Pak Mahdi." Seperti biasa Kinara membacakan jadwal untuk Tama setiap harinya.
"Apa masih ada lagi?" tanya Tama saat Kinara masih berdiri di tempatnya.
Kinara mengangguk.
"Katakan saja jika masih ada yang harus dilaporkan!" seru Tama.
"Membaca laporan hatiku," jawab Kinara. Dahi Tama berkerut mendengar jawaban Kinara.
"I love you." Sambil tersenyum Kinara membuat bentuk hati dengan cara menyilangkan jari telunjuk dan jari jempolnya.
"Dasar tidak waras!" umpat Tama. Meski sebenarnya dia salah tingkah.
"Mas Tama melting kan? Ayo ngaku!"
"Gak."
"Muka udah merah gitu masih nggak mau ngaku." Kinara mencebik.
__ADS_1
"Mukaku merah karena gerah bukan karena hal lain," elak Tama.
"Perasaan ruangan ini dingin. Lagian ACnya juga nyala," celetuk Kinara.
"ACnya memang nyala, tapi menurutku udaranya masih panas," balas Tama. Dia tetap tidak mau mengaku jika sebenarnya dia salting karena ucapan cinta dari Kinara.
"Ya, ya, ya, terserah Mas Tama deh. Ya udah aku kembali ke mejaku lagi. Kalau Mas Tama membutuhkan sesuatu bisa hubungi aku," ucap Kinara.
"Hm," jawab Tama tanpa menatap wajah istrinya tersebut.
"Aku keluar ya, Mas," pamit Kinara lagi.
"Hm."
Kinara sedikit membungkukan badan dan mendekat ke telinga suaminya. "Kalau Mas rindu bilang saja, aku pasti akan langsung datang," bisiknya dan langsung mendapat pelototan dari Tama.
"Bercanda, Mas. Bercanda. Serius amat! Tapi, perasaanku padamu bukan candaan," cicit Kinara. Setelah itu ia benar-benar keluar dari ruang kerja suaminya.
"Kalau dia terus bersikap seperti itu bisa-bisa dinding yang ku bangun bakal cepat roboh," gumam Tama.
Tama sadar, dirinya hanya manusia biasa yang tentu masih bisa merasakan cinta. Namun, dia juga tidak bisa mengingkari janji terhadap mantan ibu mertuanya.
"Apa yang harus aku lakukan pada hatiku, Kia?" lirih Tama. Dia menatap Kinara yang ternyata sudah fokus dengan pekerjaanya.
Meja kerja Kinara berada tepat di depan ruang kerja Tama yang hanya berbatasan dengan dunding kaca sehingga Tama masih bisa memandang wajah Kinara dari ruanganya.
***
Mirna terus menatap video yang barusan dia putar. Video itu adalah video yang dia ambil pagi tadi saat orang yang mengaku om dan tante Kinara itu datang. Dia yang saat ini sedang duduk di depan kelas si kembar terus memikirkan cara bagaimana ia bisa memanfaatkan video yang diam-diam ia ambil tersebut.
"Kalau Mak lampir itu tahu bahwa Kinara menikah dengan Tuan Tama karena uang bagaimana reaksinya ya? Dan... apa Tuan Rangga dan Nyonya Bintang sudah tahu hal ini?" Mirna bertanya dalam hati.
__ADS_1
"Ah, apa aku sebaiknya kirim video ini ke mereka saja ya? Dengan begitu bukan hanya Mak lampir itu saja yang akan marah dengan Kinara, tetapi Tuan Rangga dan Nyonya Bintang. Aku yakin sebagai orang tua dari Tuan Tama dan kakek-nenek dari si kembar, mereka tidak akan suka jika ada wanita yang memanfaatkan Tuan Tama demi uang," gumam Mirna lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim video itu kepada Dewi, Rangga, dan juga Bintang. Ia yakin kali ini Kinara pasti akan diusir dari rumah Tama.
"Rasanya tidak sabar melihat wanita itu diusir." Mirna tampak senyum-senyum sendirian.
"Mbak Mirna, lagi ngapain?"
Suara yang terdengar tepat di samping indera pendengaranya mengagetkan Mirna dan membuat telepon genggam wanita itu jatuh ke lantai.
"Astaga Den Maki. Kamu bikin kaget Mbak Mirna saja, tuh lihat gara-gara kalian hape Mbak Mirna jatuh," omel Mirna.
"Maaf, Mbak Mirna. Habisnya dari tadi Mbak Mirna dipanggil nggak nyahut-nyahut. Makanya Maki panggil Mbak tepat di kuping, siapa tahu Mbak Mirna tadi gak dengar," jawab Maki.
"Mbak nggak budeg ya, jadi jangan seperti itu lagi," tegur Mirna. Dia memungut benda pipih miliknya yang berserakan di lantai akibat jatuh barusan.
"Iya, Mbak Mirna. Maaf," jawab Maki seraya meminta maaf. Sejak kecil bocah itu sudah didik untuk bisa meminta maaf saat melakukan kesalahan baik itu disengaja mau pun tidak disengaja. Seperti kesalahan barusan contohnya.
"Ya sudah, Mbak Mirna maafin. Tapi, kamu mau apa manggil Mbak Mirna?" tanya Mirna.
"Maki haus Mbak. Mau ambil botol minuman dari Mbak Mirna," jawab Maki karena memang itulah tujuanya keluar dari kelas.
"Ouh, baiklah. Sebentar." Mirna mengambil botol minuman dari dalam tasnya lalu memberikan botol tersebut kepada Maki. "Ini."
"Terima kasih, Mbak. Oh iya, barusan Mbak Mirna lagi lihat apa sepertinya serius sekali. Apa ada film yang bagus ya di hp Mbak Mirna? Maki juga mau nonton dong, habisnya Maki bosen dengan film itu-itu mulu?" tanya Maki penasaran dengan yang dilihat Mirna barusan.
"Tadi Mbak cuma nonton drakor. Udah sana balik ke kelas, nanti dimarahi Bu guru lho," balas Mirna.
Meski penasaran dengan apa yang dilihat oleh pengasuhnya itu, Maki akhirnya kembali masuk ke kelasnya.
Mirna mencoba menekan tombol power saat berhasil menyatukan ponselnya yang sempat berserakan. Sayangnya ponsel itu tidak mau menyala.
"Kenapa nggak mau nyala sih? Ntar aku bawa ke tukang service hp deh." Terpaksa Mirna menunda rencanya untuk mengirim video itu kepada Dewi, Rangga dan Bintang. Meski kesal, dia tidak bisa memarahi Maki. Karena jika hal tersebut ia lakukan dan ketahuan Tama, pasti bosnya itu akan langsung memecatnya.
__ADS_1
"Sabar, Mirna, sabar. Kali ini kamu pasti bisa mengusir Kinara dari rumah Tuan Tama." Mirna membesarkan hatinya sendiri.