Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 23


__ADS_3

Ternyata tempat yang ingin dikunjungi Taki dan Maki adalah makam ibunya, Kiara. Dan kebetulan almarhum kedua orang tua Kinara juga dimakamkan di area pemakaman umum tersebut. Mereka semua segera turun dari dalam mobil ketika sampai di area parkir makam.


"Jadi, makam ibu dan ayahnya Mama disini juga?" tanya Taki.


Kinara mengangguk sebagai respon. Setiap kali mengunjungi makam, Kinara akan mengingat kembali hal buruk yang pernah ia katakan kepada kedua orang tuanya semasa hidup dan itulah hal yang menjadi penyeselan terbesarnya.


"Nanti setelah berziarah ke makam mama kita ke makam nenek dan kakek ya, Ma," ajak Maki. Tentu saja perkataan Maki tersebut membuat Kinara menatap ke arah anak sambungnya itu.


"Grandma bilang, orang tua dari mama berarti nenek dan kakek kami juga. Jadi, kami boleh kan memanggil orang tua mama dengan sebutan kakek dan nenek?" tanya Maki meminta izin.


Kinara memberikan pelukan kepada kedua putra sambungnya. Dia bahagia bisa menjadi ibu sambung dari dua anak manis seperti mereka.


"Tentu saja boleh. Kita akan menziarahi makam nenek dan kakek setelah berziarah ke makam mama kalian," jawab Kinara.


Akhirnya keempat orang itu tiba di makam Kiara. Keempatnya langsung membaca surah yasin dan tahlil untuk dihadiahkan kepada Kiara karena bagi manusia yang sudah meninggal kiriman doa bisa menjadi penerang di alam kubur.


"Ma, Mama yang tenang ya disana. Kami sekarang bahagia karena kami akhirnya bisa memiliki mama seperti teman-teman kami yang lain. Jadi, mama nggak usah sedih lagi." Taki berbicara kepada gundukan tanah di depanya seolah sedang berbicara dengan mama kandungnya.


"Iya, Ma. Sekarang kami sudah bahagia karena memiliki Mama Kinara. Mama Kinara sangat baik dan sangat menyayangi kami, makanya kami juga sayang sama dia, Ma. Tapi, Mama tenang saja meski kami sudah punya mama baru yang baik hati, kami akan selalu mengingat mama di hati kami dan kami akan terus mengirimkan doa untuk Mama setiap saat. Karena kata Pak ustadz, bakti anak kepada orang tuanya bukan sampai mama dan papa meninggal, tapi sampai kaminya sendiri yang meninggal. Love you mama," tutur Maki panjang lebar.


"Mbak Kia, aku memang tidak pernah mengenal Mbak Kia sebelumnya. Tapi, melihat Mas Tama yang tidak mau menggantikan posisi Mbak dengan wanita manapun, aku yakin Mbak Kia adalah wanita yang sangat baik. Mbak tolong beri restu agar aku bisa mengambil hati Mas Tama. Bukan untuk menggantikan Mbak. Aku hanya ingin punya posisi sendiri di hati Mas Tama. Tolong beri aku restu ya, Mbak." Kinara memohon restu kepada almarhum istri Tama itu di dalam hati.


"Kia, aku sudah mengabulkan keinginanmu untuk bisa membuat Taki dan Maki bahagia. Semoga kamu juga bahagia di sana." Tama juga berbicara di dalam hati.


"Ma, ayo sekarang kita ke makam kakek dan nenek!" ajak Taki.


"Apa boleh?" pertanyaan ini, Kinara tujukan untuk Tama.


"Tidak masalah. Lagian kita sudah berada di sini, jadi sekalian saja," jawab Tama masih dengan mode ketus.


"Tinggal jawab boleh saja, kenapa harus pakai kata ini itu sih? Kesanya jadi kayak tidak ikhlas," gerutu Kinara.


Tama memutar kedua bola matanya, dia sedang tidak mau berdebat ataupun mendebat perkataan Kinara.


"Ayo kita ke makam kedua orang tuamu sekarang! Nanti kalau terlalu siang kita akan kesorean tiba di wahana hiburanya!" ajak Tama.


"Iya," jawab Kinara sambil cemberut.


Setelah berpamitan pada kuburan Kiara, keempat orang itu segera menuju ke makam kedua orang tua Kinara. Di makam itu pun mereka membaca surah yasin dan tahlil. Setelah itu seperti perkenalan formal pada umumnya Taki dan Maki memperkenalkan dirinya di depan makam tersebut.


"Nenek, Kakek, namaku Taki dan ini saudara kembarku Maki. Terima kasih ya, Nek, Kek, sudah melahirkan Mama Kinara. Kami bahagia banget karena akhirnya kami memiliki mama yang baik dan sayang sama kami. Kami janji, kami akan selalu menyayangi Mama Kinara dan akan berusaha membuat Mama Kinara bahagia," ujar Taki.


"Iya, Nek, Kek. Kami janji. Sekali lagi terima kasih ya, Nek, Kek, sudah melahirkan Mama Kinara," Maki ikut berbicara.

__ADS_1


Kinara mengusap rambut kedua putra sambungnya itu.


"Terima kasih ya karena kalian mau menyayangi mama seperti mama kandung kalian. Terima kasih," ucap Kinara.


"Mama tidak berbicara dengan Nenek dan Kakek?" tanya Maki ketika melihat Kinara hanya diam.


"Mama sudah berbicara di dalam hati kok," jawab Kinara.


"Apa yang Mama katakan sama kakek dan nenek? Awas ya, Mama nggak boleh ngadu ke kakek dan nenek kalau kita bandel nanti kakek dan nenek marah sama kami." Perkataan Maki kali ini membuat Kinara sedikit tertawa.


Diam-diam Tama mengamati ekspresi wajah Kinara. Wanita itu memang tersenyum, akan tetapi sorot mata itu menunjukan kesedihan mendalam juga penyesalan.


"Sepertinya kamu juga memilii perasaan menyesalan yang besar kepada kedua orang tuamu sama seperti aku yang menyesal karena terlambat mengetahui keadaan Kiara," batin Tama. Andai bisa memutar waktu, Tama akan melakukan apa pun agar bisa membuat Kiara tetap hidup.


"Pa," panggil Taki.


"Hm." Tama menoleh.


"Papa tidak memperkenalkan diri dengan nenek dan kakek?" tanya Maki.


"Nanti kalau Nenek dan Kakek nggak kenal papa, mereka akan bingung lho melihat papa disini," tambah Maki. Dia menganggap bahwa orang meninggal juga bisa bingung saat ada orang yang tidak dikenal datang mengunjungi makam.


"Ayo, Pa. Jangan sampai Nenek dan Kakek marah terus bawa mama bersama mereka." Taki ikut-ikutan.


"Ayo, Pa, perkenalkan diri!" seru Taki dan Maki.


"Ehem... Ehem." Tama berdehem. Dia merasa aneh karena harus berkenalan dengan sebuah makam.


"Ayo, Pa!" desak Taki dan Maki lagi.


Tama menatap Kinara sebentar.


"E... Om, Tante, saya.... "


"Bukan Om dan Tante, Pa. Tapi ayah dan ibu, bukankah orang tua dari istri harus dianggap orang tua sendiri?" protes Taki.


"Ah... iya, papa lupa," jawab Tama sambil nyengir.


"Ya sudah, Pa. Ayo kenalan!" suruh Maki.


"E... Ayah, Ibu.... " Tama kembali diam. Rasanya benar-benar aneh memperkenalkan diri pada makam.


"Kalau Pak Tama tidak bisa, tidak apa-apa kok," bisik Kinara.

__ADS_1


"Ck."


"Pa, buruan. Setelah ini kan kita mau jalan-jalan. Kalau papa kelamaan nanti kita bisa di tempat wahana hiburan kesorean terus jadi sebentar deh mainya." Maki kembali mendesk dengan menyampaikan beberapa alasan agar papanya cepat memperkenalkan diri.


"Ish. Papa ini, kayak anak kecil saja. Disuruh ngenalin diri aja susah," gerutu Taki sok memberikan nasehat.


Kinara kembali menahan tawa melihat Tama dinasehati oleh anaknya.


"Sudah. Kalian nggak usah paksa papa buat ngenalin diri. Tanpa ngenalin diri pun mereka pasti sudah kenal dan bisa ngerti." Kinara menenghi.


"Ya udah deh kalau begitu. Ayo kita ke wahana bermain sekarang!" sahut Maki.


Kinara, Taki dan Maki sudah bersiap untuk beranjak dari sana. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar Tama memperkenalkan diri.


"Ayah, Ibu, kenalkan aku Tama Wijaya, menantu kalian. Aku janji akan berusaha membuat Kinara tidak kekuarangan apa pun." Setelah itu Tama menunduk hormat. Ia kemudian berjalan mendahului Kinara dan kedua anaknya untuk meninggalkan tempt tersebut.


***


Benar saja mereka tiba di wahana bermain sedikit kesiangan. Mana harus antre lebih dari 1 jam pas beli tiket masuk. Untung saja kedua anaknya dalam mode penurut, jadi Tama tidak perlu mengomel dengan petugas yang jaga di loket penjualan.


Tidak banyak permainan yang mereka mainkan, hanya bom-bom car, seluncuran warna-warna, dan ayunan. Sebenarnya ada satu wahana yang dua bocah kembar itu inginkan yaitu berenang di kolam renang. Sayang Tama tidak memberikan izin karena takut kedua putranya tertular penyakit kulit dari pengunjung. Dan sebagai gantinya akhirnya Tama berjanji akan membawa mereka ke untuk pergi nonton sebelum pulang ke rumah.


Dan diantara kegembiraan yang dirasakan Tama dan anak-anaknya ada satu orang yang sejak tadi hanya diam cemberut. Dia kesel karena tidak bisa ikut bermain dengan mereka, siapa lagi kalau bukan Kinara. Iya, Kinara. Wanita itu terpaksa hanya menjadi penjaga barang bawaan mereka semua karena pakaian yang ia gunakan. Kinara memakai rok span dengan panjang selutut dan itu menyulitkanya ikut bermain.


"Apa ada permainan yang ingin kalian mainkan lagi?" tanya Tama.


"Tidak ada lagi, Pa," jawab Taki dan Maki.


"Ya sudah kalau begitu kita keluar dari sini terus nonton. Ayo!" Tama menggandeng kedua putranya untuk meninggalkan tempat itu.


"Nara, kenapa kamu masih diam saja?" tanya Tama kepada ibu sambung dari anak-anaknya itu.


"Aku kan belum main, kenapa kalian udah mau keluar dari sini?" jawab Kinara.


"Kamu kan pakai rok, jadi mana bisa ikut main. Lagian kamu itu aneh, punya ide sendiri buat main ke sini eh malah pakai rok segitu, mana gak bawa pakaian ganti lagi. Berarti kan itu salahmu," ucap Tama.


"Kan masih ada permainan lain yang bisa dimainkan meski aku pakai rok," jawab Kinara.


"Permainan apa?" tanya Tama."


Kinara menunjukan senyum misteriusnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate bintang 5, dan gift sebanyak-banyaknya. Kalau bisa dishare juga ke keluarga, kerabat, dan teman kalian. Terima kasih, love you pull.


__ADS_2