
Tama segera memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua. Rumah itu terlihat sepi, bahkan pagarnya pun masih terkunci.
"Kelihatanya tidak ada yang datang. Apa aku salah perhitungan ya karena mengira Nara datang ke rumah ini?" gumam Tama sambil mengamati rumah yang ada di hadapanya.
Iya, ini adalah rumah Kinara yang sempat disita oleh rentenir. Sesuai kesepakatan sebelum menikah Tama sudah menebusnya. Dia sudah sempat memberikan kunci rumah tersebut kepada Kinara. Namun, wanita itu menyuruhnya untuk menyimpan kunci rumah itu sebagai jaminan agar dia tidak kabur, meaki sebenarnya Tama tidak membutuhkanya. Dan sebagai jalan tengah, Tama membagi dua, satu dipegang oleh Kinara dan satu lagi olehnya.
"Sudahlah, aku coba cari ke tempat lain saja," gumamnya lagi.
Namun, sebelum Tama benar-benar pergi dari sana, ia mendengar ada sesuatu yang jatuh dari samping rumah. Gegas Tama pun membuka pagar rumah itu lalu masuk untuk mencari sumber suara yang baru saja ia dengar.
"Astaga, ternyata kucing." Tama bernapas lega karena bunyi itu berasal dari kucing yang sedang melompat dari atap rumah.
"Eh, apa ini?" gumam Tama saat merasa ada sesuatu yang jatuh mengenai kepalanya dan itu adalah kulut rambutan. Ia pun mendongak untuk melihat dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Kinara ternyata sedang duduk di atas cabng pohon rambutan sambil menikmati buah yang tumbuh dua kali dalam setahun itu.
"Nara," panggil Tama.
Kinara yang sedang menikmati buah rambutan itu pun melongok ke bawah. Dia juga terkejut melihat keberadaan Tama di sana.
"Pak Tama! Kenapa Pak Tama bisa ada di sini?" tanya Kinara.
"Kamu tidak menjawab teleponku, makanya aku mencarimu," jawab Tama.
Kinara pun merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya dan ternyata ponsel tersebut mati karena kehabisan daya. "Maaf, Pak, ternyata ponselku mati," ucapnya.
"Ohya kenapa Bapak ke sini bukanya menemani anak-anak? Taki dan Maki baik-baik saja kan?"
"Mereka mencarimu," jawab Tama.
Kinara menghela napasnya. "Aku tidak pantas berada di dekat mereka. Bukankah Pak Tama percaya kalau aku yang sengaja memasukan obat pencuci perut ke bekal mereka?"
__ADS_1
"Kita bicarakan itu nanti, cepat turun!" suruh Tama.
"Aku masih mau di sini," jawab Kinara. Dia kembali menikmati buah rambutan dan tidak mempedulikan keberadaan Tama di bawah sana.
"Bagaimana dia bisa naik ke atas sana ya? Nggak mungkin kan dia naik begitu saja tanpa alat," gumam Tama. Dia mencari sesuatu yang bisa dijadikan pijakan untuk naik ke atas pohon tersebut. Dan akhirnya tangga yang berada di belakang rumah menjadi pilihanya untuk ikut naik ke atas pohon.
"Pak Tama kenapa malah ikut naik?" tanya Kinara ketika Tama duduk di sampingnya sambil berpegangan pada ranting.
"Karena kamu tidak mau turun makanya aku naik," jawab Tama.
"Bapak aneh, seperti bukan Pak Tama saja," celetuk Kinara.
Mendengar itu membuat Tama terdiam. Kinara benar, ini seperti bukan dirinya. Kenapa dia harus ikut naik ke atas pohon hanya untuk membujuk gadis bernama Kinara.
"Tuh kan, Pak Tama aneh. Sekarang malah bengong lagi," tambah Kinara.
"Kenapa kamu menganggap kalau aku percaya dengan perkataan Mirna?"
"Bukanya Bapak memang percaya ya sama dia, makanya Bapak tidak mengatakan apa pun tadi," ujar Kinara. Wajah wanita itu berubah sedih.
"Tidak mengatakan apa pun bukan berarti percaya kan?"
"Iya sih, tapi seharusnya jika Bapak percaya bukan aku yang melakukanya, Pak Tama sanggah kek atau apa dengan begitu aku merasa kalau Pak Tama benar-benar mempercayaiku," terang Kinara.
"Aku juga tidak bilang kalau aku mempercayaimu."
Kembali Kinara menatap laki-laki yang menjadi atasan sekaligus suaminya tersebut.
"Aku hanya percaya pada bukti dan fakta. Setidaknya selama aku mengenalmu kamu bukanlah orang yang akan tega melakukan sesuatu apalagi terhadap anak kecil. Iya kan?" Tama menatap Kinara.
__ADS_1
"Iya sih, tapi aku punya motif untuk melakukan itu."
"Motif? Apa maksudmu?"
"Sikap Bapak yang kejam, dingin, dan sering marah-marah bisa saja kan menjadi motif aku ingin balas dendam dengan Bapak," jawab Kinara.
"Kalau begitu aku akan masukan kamu ke dalam daftar tersangka," jawab Tama sambil berpura-pura memberikan tatapan sinis kepada Kinara.
Kinara tersenyum. "Terima kasih ya, Pak, sudah mempercayaiku," ucap Kinara.
"Hm," jawab Tama. "Btw kamu naik ke sini tadi menggunakan apa?"
"Pakai tangan dan kaki lah, Pak. Aku ini jago panjat pohon asal Pak Tama tahu," jawab Kinara.
"Dengan pakaian seperti itu?" tanya Tama sedikit tidak percaya. Apalagi saat ini baju yang dipakai Kinara adalah kemeja dan rok span setinggi lutut.
"Aku pakai celana pendek di dalamnya," sahut Kinara.
"Ayo sekarang turun! Kita kembali ke rumah sakit, Taki dan Maki menunggumu!" ajak Tama.
Kinara mengangguk.
"Sebentar, biar aku yang turun duluan!" ucap Tama. Dia membetulkan posisi tangga agar tidak meluncur saat ditapaki, sayangnya karena kurang berhati-hati tangga itu malah jatuh.
"Yah, gimana kita turun?" gumam Tama.
"Awas biar aku saja yang turun duluan, nanti Pak Tama ikuti caraku!" Kinara menyuruh Tama untuk sedikit bergeser.
"Nanti kalau kamu jatuh gimana?" tegur Tama.
__ADS_1
"Tidak akan, Bapak tenang saja," jawab Kinara dengan percaya diri. Dia pun mulai menepakan kaki pada cabang yang ada di bawahnya dengan tangan memegang ranting. Namun tiba-tiba....
"Awas!" teriak Tama.