
"Iya, Nyonya Dewi. Kasihan Den Taki dan Den Maki gara-gara memakan bekal yang dibuat oleh Nyonya Kinara mereka sampai harus dirawat di rumah sakit. Benar-benar kasihan mereka. Mana Tuan Tama seolah menutup mata atas kesalahan Nyonya Kinara ini," beber Mirna melalui sambungan telepon.
Begitu tiba di rumah, Mirna langsung melaksanakan rencananya memanfaatkan Dewi. Ibu dari mendiang istri pertama Tama itu adalah orang yang hingga saat ini pendapatnya masih didengar oleh Tama.
"Jadi, Tama tidak memberi hukuman apapun kepada istri barunya karena kesalahan ini?" tanya Dewi dari seberang sana.
"Iya, Nyonya. Pak Tama juga malah menyuruh saya pulang saat saya mengingatkan hal itu." Mirna menghela napas panjang agar ia terlihat menyesalkan segala hal yang terjadi. "Nyonya... sepertinya Tuan Tama mulai menyukai wanita itu dan melupakan mendiang Nyonya Kiara," tambah Mirna. Dia tahu Dewi paling tidak suka jika Tama melupakan putrinya yang sudah meninggal.
"Aku akan menemui Tama besok dan berbicara dengannya."
Mirna tersenyum senang, akhirnya rencana untuk mempengaruhi Dewi berhasil, tinggal menunggu bagaimana wanita itu menghukum Kinara.
*
Pagi-pagi sekali Dewi sudah datang ke rumah sakit. Jika bukan karena previllege yang dimiliki, ia belum diizinkan masuk untuk menjenguk karena jam kunjung dimulai pukul 10 pagi.
Ibu dari mendiang Kiara itu langsung menemui Taki dan Maki di kamarnya.
"Sayang, bagaimana keadaan kalian berdua sekarang? Baik?" tanya Dewi pada kedua cucunya.
"Baik, Nek. Kami malah sudah tidak sabar untuk pulang," jawab Maki dengan polosnya. "Ohya, Nek, kenalkan ini mama yang sering aku dan Taki ceritakan ke nenek." Tak lupa Maki mengenalkan Kinara pada Dewi.
"Hallo Nyonya Dewi, saya Kinara." Kinara yang berdiri di sisi ranjang si kembar memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
Dewi mengabaikan uluran tangan Kinara. "Ternyata kamu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan putriku, Kiara. Pantas saja kalau Tama tidak menganggapmu istri." Dewi menatap sinis Kinara.
Kinara tidak mengatakan sepatah kata pun, dia hanya menghela napas berat.
"Pasti kamu mengira aku tidak tahu kan tentang kesepakatan kalian? Kamu salah besar, Tama tidak pernah merahasiakan apa pun dariku meski aku hanya ibu mertuanya. Dan asal kamu tahu sampai kapan pun Tama tidak akan pernah mencintaimu, jadi jangan mengharapkan apa pun dari pernikahanmu denganya!" tutur Dewi setengah berbisik. Dia tidak mau Taki dan Maki mendengar perkataanya kepada Kinara.
"Nyonya jangan khawatir, aku sudah tahu itu," jawab Kinara santai.
"Apa ini alasan yang membuatmu tega menyakiti Taki dan Maki?" Dewi mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan jawaban Kinara barusan dan pembicaraanya dengan Mirna semalam.
"Menyakiti Taki dan Maki? Jadi, Nyonya beranggapan kalau aku sengaja membuat mereka begini karena hal itu?" tanya Kinara.
__ADS_1
"Mungkin saja kan? Lagian kamu bukan ibu kandung mereka dan setahuku tidak ada yang namanya ibu tiri menyayangi anak tirinya itu dengan tulus. Itulah alasan kenapa ada cerita tentang Bawang Merah dan Bawang Putih di Indonesia. Juga cerita tentang kekejaman ibu tiri yang lainya," jawab Dewi.
"Jika itu pendapat Anda tentang saya, saya akan terima karena setiap orang bebas berpendapat."
"Jadi benar kamu yang sudah membuat kedua cucuku dirawat di sini?" tanya Dewi dengan geram.
"Maaf Nyonya, meski aku menjawab itu tidak benar, jika Nyonya sudah menganggap semua itu benar aku bisa apa? Jadi, aku tidak akan menyanggah atau pun membenarkan. Tapi yang jelas aku menyayangi mereka, mungkin tidak sebesar perasaan sayang putri Anda kepada mereka, tapi perasaanku kepada mereka tulus," jawab Kinara.
"Mama, aku mau makan disuapin sama Mama!" Taki tiba-tiba merengek minta disuapi.
Kinara melirik Dewi untuk meminta izin.
"Biar nenek suapi ya?" tawar Dewi kepada Taki.
"Tidak mau, aku maunya disuapin sama Mama," tolak Taki.
"Aku juga mau disuapin sama mama." Kini giliran Maki yang ikutan merengek.
"Iya-iya, mama suapi kalian ya." Tanpa menghiraukan Dewi lagi, Kinara mengambil nasi yang memang sudah disediakan oleh rumah sakit.
"Sekarang aaa.... " Kinara menyuapkan satu sendok nasi ke mukut Taki dan Maki bergantian. Kedua bocah kembar identik itu terlihat bahagia disuapi oleh Kinara.
"Mas Tama semalam tidur di ruang tunggu, mungkin dia masih disana sekarang," jawab Kinara.
"Ya sudah, aku akan cari dia ke sana. Awas ya kalau kamu ngapa-ngapain cucuku lagi!" Setelah mengatakan hal tersebut Dewi melenggang meninggalkan ruang rawat Taki dan Maki.
Kinara menggelang sambil menghembuskan napasnya. "Kenapa dia ikutan membenciku? Perasaan aku tidak punya salah," gumam Kinara. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang yang langsung membenci orang lain padahal baru pertama kali bertemu.
"Pak Tama bilang kalau jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang kesepakatan itu, tapi ternyata dia sendiri yang membocorkanya pada orang lain. Dasar tidak bisa dipercaya!" Kinara merasa kesal karena Tama sudah membohonginya.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Taki.
"Iya, Ma. Mama kenapa?" Maki juga ikut bertanya.
"Tidak apa-apa. Ayo lanjutkan makanya biar kalian cepat pulang," jawab Kinara. Dia kembali menyuapi kedua putra sambungnya tersebut.
__ADS_1
*
Tama sedang berbincang di telepon saat Dewi menemuinya di ruang tunggu rumah sakit. Menggunakan isyarat tangan Tama mempersilakan ibu dari Kiara itu untuk duduk.
"Nanti saya hubungi lagi, terima kasih atas kerjasamanya," ucap Tama mengakhiri sambungan telepon. Dia kemudian berjalan mendekati Dewi, tak lupa ia juga menciun punggung tangan wanita itu sebagai bentuk penghormatanya.
"Mama kok nggak ngabarin sih kalau mau ke sini?"
"Kenapa? Tidak boleh? Kamu sengaja kan nggak ngabarin saya soal hal yang menimpa Taki dan Maki?" tanya Dewi emosional.
"Maaf, Ma. Aku lupa ngabarin Mama soal mereka."
"Ingat ya Tama! Selain anakmu Taki dan Maki adalah cucuku, jadi aku juga berhak mengetahui kabar tentang mereka."
"Iya, Ma, aku tahu. Maafkan aku karena lupa ngabarin Mama tentang ini," jawab Tama.
"Atau jangan-jangan kamu sengaja ngerahasiain soal ini karena memang benar, jika Taki dan Maki begini karena ulah istri barumu itu? Iya?" tuduh Dewi.
"Mama salah, mereka begini bukan karena Kinara."
"Ouh... jadi kamu membela wanita itu? Ingat Tama yang wanita itu sakiti itu anak kamu. Bukan orang lain, jadi jangan membela wanita itu hanya karena dia istrimu. Mengerti!"
Tama menghela napas, berdebat dengan Dewi memang tidak ada gunanya. Wanita itu pasti akan selalu mencari kesalahan orang lain meski sebenarnya orang itu tidak salah.
"Lagian kamu masih ingat dengan janjimu kan bahwa kamu tidak akan mencintai wanita mana pun termasuk istrimu sebelum aku memberikanmu izin," lanjut Dewi.
"Iya, aku ingat dan aku sedang berusaha untuk tidak jatuh cinta," jawab Tama.
Mendengar jawaban Tama, Dewi mengernyit.
"Apa maksudmu? Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta dengan wanita itu." Dewi menebak.
"Jawab aku Tama, apa kamu mulai mencintai wanita itu? Hah?"
Tama masih diam.
__ADS_1
"Tama! Jawab pertanyaanku apa kamu mulai mencintai wanita itu?!" Dewi sedikit meninggikan volume suaranya karena Tama tidak segera menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
To Be Continu....