
Sambil bersedekap, Kinara berjalan di depan suami dan kedua anak sambungnya. Dia ingin tahu hal apa yang membuat ayah dan anak itu melakukan hal yang tidak normal.
"Jelaskan! Apa yang kalian bertiga lakukan tadi?" Kinara menatap tajam Tama, Taki, dan Maki.
"Aku penasaran apa yang Mama lakukan dengan om tidak jelas itu," jawab Taki.
"Aku juga," Maki ikut menimpali.
"Kalau kamu, Mas?"
"Aku... aku hanya mengawasi mereka agar tidak membuat kekacauan," jawab Tama yang langsung membuat Taki dan Maki menatap ke arahnya.
"Bukanya Papa juga penasaran ya dengan apa yang dilakukan mama dengan om itu," celetuk Maki.
"Nih anak benar-benar ya nggak bisa diajak kerjasama," gumam Tama.
"Bener itu, Mas?" tanya Kinara dengan tatapan menyelidik.
"Nggak. Ngapain aku penasaran dengan hal yang kalian lakukan?" Tama berusaha berkelit.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar. Ngapain juga aku penasaran dengan hal yang kalian lakukan? Mau kalian pacaran sekali pun, aku juga nggak peduli," jawab Tama berdusta. Dia mau jika Kinara mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.
Sakit hati? Tentu saja. Kinara juga manusia yang bisa merasakan sakit hati dan terluka. Ingin sekali dia bisa mengabaikan perkataan Tama barusan seperti sebelum-sebelumnya, namun kali ini ia tidak bisa. Kinara merasa menjadi wanita yang tidak berharga.
"Apa kamu benar-benar tidak peduli denganku, Mas?" tanya Kinara memastikan. Dia menatap manik mata Tama dalam untuk mencari kebenaran di sana. Sayangnya dia tidak menemukan apa pun karena Tama sengaja menghindari dengan mengalihkan tatapanya.
"Aku harus ke kantor sekarang. Permisi." Tama sengaja kabur ke kantor untuk menghindar.
"Ma, Mama tidak apa-apa?" tanya Taki ketika melihat Kinara diam saja dengan wajah sendu.
"Tidak apa-apa. Mama cuma baru sadar bahwa ternyata sekuat apa pun mama berusaha sepertinya tidak akan mampu membuat hati papa kalian luluh. Dan rasanya aku ingin menyerah," jawab Kinara sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Maksud Mama apa ya?" Taki kembali bertanya.
__ADS_1
Kinara menggeleng. "Tidak ada. Oh iya karena hari ini kalian libur bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Kinara memberikan ide.
"Ke mana?" tanya Taki dan Maki. Keduanya terlihat antusias mendengar kata jalan-jalan.
"Kemana saja yang penting kita habiskan hari ini untuk bersenang-senang. Oke?"
"Oke, Ma."
"Baiklah, sekarang mama siap-siap dulu ya. Kalian tunggu mama sebentar!" Kinara segera pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Saat sedang menunggu Kinara bersiap-siap, bel rumah kembali berbunyi. Taki dan Maki pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Wajah keduanya kembali merengut saat melihat siapa orang yang kembali bertamu ke rumahnya.
***
Tama sudah tiba di perusahaannya. Dia langsung melakukan meeting yang tadi sengaja diundur. Dan untungnya rekan kerjanya kali ini tidak mempermasalahkan perbuatan Tama tersebut.
Meeting berjalan selama 3 jam. Dan baru selesai sekitar jam 2 siang. Selama meeting seperti biasa Tama selalu menonaktifkan ponselnya. Dia kembali mengaktifkan kembali benda canggih itu saat tiba di ruang kerjanya. Banyak pesan dan panggilan tak terjawab yang tertera di layar itu.
Mata Tama memicing saat melihat beberapa pesan yang dikirim oleh putra kembarnya. Pesan itu berisi pesan yang sama yaitu memberitahu tentang kepergian Kinara.
Tama tentu panik setelah membaca pesan itu. Dia pun menghubungi nomor kedua anaknya untuk memastikan.
"Hallo, Pa."
"Sayang. Benar mama pergi? Sejak kapan? Sama siapa?" Tama memberondong kedua putranya dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak tahu, Pa. Tapi, setelah Papa berangkat ke kantor om yang tadi datang lagi. Tidak lama berselang mama juga pergi. Kami takut, Pa. Kami takut Mama Nara ninggalin kami. Kami nggak mau kehilangan Mama Nara, Pa. Kami nggak mau," jawab Taki dan Maki dari ujung sana. Bahkan tangis kedua bocah itu terdengar di telinga Tama.
"Sekarang kalian dimana?"
"Kami di rumah bareng Bik Sumi. Pa, bawa mama pulang! Jangan biarkan dia pergi!" pinta Taki dan Maki. Suara kedua bocah kembar itu seperti tercekat menahan sesuatu.
"Kalian tetap diam di rumah ya! Jangan pergi kemana-mana! Papa akan mencari mama sekarang! Papa janji, papa pasti akan membawa mama pulang," seru Tama.
"Janji ya, Pa!" pinta si kembar.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Papa janji," jawab Tama sebelum mengakhiri panggilan.
Tama segera menghubungi nomor Kinara. Dan sialnya nomor itu tidak bisa dihubungi.
"Kemana Nara pergi? Kenapa dia tiba-tiba pergi? Apa dia marah karena jawabanku tadi?" Tama mencoba menerka-nerka alasan dibalik kepergian istrinya itu tiba-tiba.
"Doni. Kamu handle pekerjaanku hari ini! Aku ada urusan mendadak. Jika ada sesuatu yang harus kamu diskusikan, telepon saja ke nomor pribadiku!" titah Tama kepada salah satu staf kepercayaannya. Tama memang memiliki dua nomor telepon, satu nomor pribadi yang hanya diketahui oleh keluarga dan beberapa orang staf pribadinya dan satu lagi adalah nomor yang diketahui oleh banyak orang, termasuk rekan dan karyawanya di perusahaan.
"Baik, Pak," jawab Doni.
"Ohya. Tolong kamu periksa jadwal penerbangan ke luar negeri hari ini apa ada nama Kinara di sana! Jika ada segera hubungi aku!"
"Ini penerbangan ke negara mana, Pak?" tanya Doni. Jadwal ke luar negeri kan banyak. Jika tidak ada tujuan pasti berarti ia harus memeriksa semua jadwal penerbangan ke luar negeri dengan semua tujuan hari ini dan itu berarti akan lebih banyak waktu yang harus digunakan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan istri dari atasanya tersebut.
Tama tidak menjawab, dia pun tidak tahu kemana kira-kira Kinara akan pergi.
"Kamu cek saja semuanya. Kalau sudah dapat hubungi aku segera," jawab Tama beberapa saat kemudian.
"Baik, Pak," jawab Doni. Apa pun perintah dari atasanya tersebut, ia pasti akan berusaha melakukan yang terbaik.
***
Sudah satu jam lebih Tama mencari keberadaan Kinara, namun dia belum bisa menemukanya hingga sekarang. Bahkan nomor wanita itu juga masih sulit untuk dihubungi.
"Nara dimana kamu? Aku minta maaf karena tidak pernah mengakui perasaanku padamu. Aku mohon Nara, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Bukan hanya demi Taki dan Maki, tapi demi aku juga." Tama menyesali semua tindakannya terhadap Kinara selama ini.
Tama sadar, selama ini dia sering menyakiti hati Kinara. Wajar jika wanita itu akhirnya merasa terluka dan memilih pergi. Dan Tama menyesalinya. Dia juga menyesali. perkataanya sebelum berangkat kerja tadi.
Tama merasa lega ketika nomor istrinya itu akhirnya bisa dihubungi.
"Nara. Dimana kamu?" tanya Tama. Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara dari pengeras suara tentang pemberitahuan jadwal keberangkatan pesawat.
"Jadi, kamu benar-benar akan pergi? Nara kamu pergi kemana? Nara jawab!"
Sambungan telepon itu kembali terputus dan itu membuat Tama frustasi.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau Nara pergi! Aku tidak mau kehilangan dia! Aku harus mencegahnya! Harus!" Sekarang Tama tahu kemana dia harus mencari keberadaan istrinya tersebut.