Sekedar Dinikmati Bukan Dicintai

Sekedar Dinikmati Bukan Dicintai
Bab 36


__ADS_3

Katlyn dan beberapa suster lainnya pun mulai terheran-heran mengapa bisa ada seorang wanita yang begitu mudahnya meninggalkan laki-laki seperti Bright, sudah tampan, kaya, Dokter pula.


"Dokter Bright, lebih baik dilupakan saja wanita seperti itu! Tidak bisa dipercaya ada wanita yang meninggalkan laki-laki seperti mu," ujar suster Katlyn.


"Iya Dok, tenang ada kita-kita yang mengantri untuk masuk kehati mu!" timpal suster lain.


Hahahaha..


"Apa-apaan kalian, memangnya disini laki-laki tampan hanya Bright saja, aku juga sedang membuka lowongan kok!" sahut Dokter Jay.


"Eh sudah-sudah, giliran ku yang putar botolnya!" Dokter James mengambil alih botol bir itu dan mulai memutarnya.


Kali ini ujung botol itu berhenti tepat didepan Anna, sontak saja Dokter James sangat bersemangat karena dia sudah lama mengincar Anna.


"Aku sendiri yang akan mengajukan pertanyaan pada Dokter Anna, boleh kan Dok?"


"Iya silahkan Dok!" ucap Anna yang masih merasa tidak nyaman duduk dihadapan Bright.


"Baiklah, Dokter Anna apakah kau akan memberikan ku kesempatan untuk menjadi suami mu nanti?"


Sontak saja semua mata tertuju pada Anna karena menantikan jawaban Anna, mereka dibuat penasaran karena selama ini Anna selalu menolak laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Tak ingin mengecewakan Dokter James, namun tak ingin juga mengatakan jawaban yang diinginkan oleh Dokter James, Anna memilih mengambil tantangan dengan meminum satu botol bir.


"Aku tidak akan menjawab dan akan meminum satu botol bir ini!"


"Yah!!!"


Semua orang yang berada dimeja itu sangat kecewa dan dibuat penasaran karena Anna enggan menjawab. Anna segera menuangkan bir ke gelas dihadapannya, ditenggaknya hingga tandas dan ia isi lagi terus menerus hingga satu botol itu habis.


Bright melihat Anna sepertinya sudah mabuk berat, hanya saja Anna berusaha untuk tetap sadar dan meneruskan acara makan-makan ini, semua orang pun mabuk setelah menghabiskan daging sapi panggang dan bir diatas meja.


Malam itu yang masih sepenuhnya sadar hanya Bright, karena Bright sudah terbiasa meminum alkohol sejak Bright menggenggam surat cerai satu tahun lalu.

__ADS_1


"Jay, kau masih bisa menyetir?"


"Em bisa! Bright sebaiknya kau antar pulang mantan istrimu itu kasihan dia!" dengan nada sedikit teler.


Jay memang sudah mengetahui bahwa Anna adalah mantan istri Bright, namun Bright memintanya untuk tetap diam dan tidak usah berbicara apapun terhadap Anna tentang dirinya, apalagi menyangkut keadaan Bright satu tahun lalu ketika Anna memutuskan cerai darinya, saat itu Bright hancur bahkan sangat hancur hingga Bright menjadi seorang pecandu narkoba, penikmat minuman keras dan sehari-harinya Bright habiskan untuk mabuk-mabukkan.


Semua orang sudah meninggalkan restoran sederhana itu, hanya tinggal Anna yang masih tidak sadarkan diri tertidur dimeja dan juga Dokter James yang sudah teler juga dimeja, Bright pun kembali kedalam restoran.


"Oh Dokter Bright, kau belum pulang?" dengan nada teler.


"Iya, kau bisa pulang sendiri kan?"


"Bisa bisa, adikku akan menjemput ku sebentar lagi biar Valerie juga aku yang antar!"


"Tidak usah, rumah kami searah aku akan mengantarnya pulang," Bright melirik pada Anna yang masih tidak sadar akibat tidak terbiasa minum bir dia malah meminum satu botol sendiri.


"Oh begitu, baiklah Dok hati-hati membawa pulang Vale, aku sangat mencintainya," Dokter James tertawa dengan wajah teler setelah mengatakan itu.


Bright segera memapah Anna menuju mobilnya, Anna masuk kedalam mobil Bright sepanjang perjalanan Anna terus saja berbicara banyak hal seperti orang mabuk pada umumnya.


"Kau kenapa? Tanganmu kenapa begitu?" Bright keheranan.


"Dokter tampan? Hahhaha, cuih aku akan menembak mati dia, dor, dor, dor!"


"Tidak biasa mabuk, malah so soan menghabiskan satu botol!" Bright menggelengkan kepalanya.


"Kau!" Anna menunjuk wajah Bright.


"Aku, kenapa?"


"Kau laki-laki sialan, brengsekk, merusak kebahagiaan ku, kau membuatku menderita, kau bedebah, aku benci, aku benci pergi sana enyahlah dari hadapan ku!" teriak Anna dengan nada teler.

__ADS_1


"Kau ingin aku pergi? Seharusnya umpatan itu keluar dari mulutku karena kau yang meninggalkan aku!"


"Rasakan ini!"


Bugh...


Anna meninju pipi Bright dengan sisa-sisa tenaganya.


"Ah sit! Anna apa kau sudah gila? Ah percuma saja bicara dengan orang yang sedang teler seperti ini bisa-bisanya orang mabuk sampai seperti ini!" Bright memegangi tulang pipinya karena tinjuan Anna lumayan juga.


Setelah cukup menderita didalam mobil karena Anna tidak hanya mengumpat dirinya, tapi juga meninju, kadang juga menjambak rambut Bright dan menggoyang-goyang kepala Bright hingga kepalanya merasa sedikit pusing sekarang.


Bright memarkirkan mobilnya dihalaman rumah yang baru saja dia beli semenjak pindah ke Desa ini, rumah yang tidak terlalu mewah seperti rumahnya yang terletak dipusat kota, tapi cukup nyaman karena di rumah ini udaranya masih benar-benar segar.


Bright menggendong tubuh Anna, bila tadi Anna masih bisa dipapah saat ini Anna sudah tidak lagi sadar sehingga Bright harus menggendongnya masuk kedalam rumahnya.


Saat menggendong tubuh Anna, rambut panjangnya yang tadi sempat menutupi wajah cantik Anna kini tersingkap hingga wajah cantik itu dapat terlihat jelas dibawah sinar bulan diatas langit.


Bibir ranum berwarna merah muda, kulit wajah yang kencang dan putih berseri, membuat Bright memalingkan wajahnya agar tidak memandangi wajah Anna.


Bright berjalan kedalam rumah dengan menggendong tubuh Anna, lalu masuklah Bright ke kamarnya dan merebahkan tubuh Anna diatas ranjang.


"Dasar bodoh kau Bright, kenapa juga aku membawa Anna pulang ke rumah ku? Dan kenapa aku tidak membiarkan saja Dokter James yang membawanya!" Gumam Bright yang menyesali karena otak dalamnya bekerja tidak sesuai dengan perintahnya.


Bright pun mulai menatap wajah Anna, dan rasa kesal itu muncul kembali, rasa rindu yang dibalut oleh kekecewaan yang teramat besar pada gadis yang saat ini berada dihadapannya.


"Tidak! Aku tidak lagi mencintaimu Anna, bagiku kau sudah mati!" Bright pergi meninggalkan Anna di kamarnya sendirian.


Didalam rumah itu memang hanya ada satu kamar, ukuran rumahnya juga tidak terlalu luas sehingga Bright memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamunya.


Keesokan harinya! Anna terbangun saat sinar mentari dengan lemah lembut menyapanya lewat sela-sela gorden di kamar yang sederhana itu.

__ADS_1


Anna membuka kedua kelopak matanya, dikuceknya kedua kelopak mata agar membuatnya bisa melihat jelas sekelilingnua saat ini.


"Perasaan semalam aku sedang berada di restoran bersama para Dokter dan suster, kenapa sekarang sudah ada di kamar? Itu pasti karena aku mabuk, tapi untung saja aku bisa pulang sendiri dan tidur di kamar dengan nyenyak." Gumam Anna sambil melakukan peregangan pada kedua otot tangan dan lehernya.


__ADS_2