
Anna memandangi pemandangan sekelilingnya, memang betul ini adalah sebuah kamar! Tapi kenapa berbeda dengan kamarnya? Apa yang salah? Apa ibunya yang stroke bisa mendekorasi kamar ini dengan dekorasi seperti kamar laki-laki?
Kepalanya yang masih pusing akibat kebanyakan minum bir semalam membuat Anna berpikir sedikit lama saat ini.
"Tunggu!"
Anna melihat ke meja kerja disamping kanan ranjang itu, dan sebuah foto membuatnya segera beringsut dari ranjang yang semalaman menjadi tempat yang nyaman untuk dia tiduri.
"Bright? Astaga i-itu foto Bright? Kenapa, kenapa aku bisa ada disini? Astaga, Anna bodoh dasar bodoh apa aku sudah gila, bisa-bisanya aku tertidur di kamar Bright." Gumam Anna.
Rasanya ingin teriak tapi tidak bisa, Anna mengutuk dirinya sendiri atas ketidakwarasannya bisa berada didalam kamar Bright, tanpa peduli kenapa bisa dia berada disini! Anna berpikir untuk keluar dari rumah ini dengan diam-diam.
"Benar, aku hanya perlu pergi dari sini secara diam-diam maka anggap ini tidak pernah terjadi aku yakin Bright belum bangun pagi begini." Anna segera mengambil tas miliknya yang berada diatas meja kerja Bright.
Perlahan Anna melangkah membuka pintu kamar itu dengan penuh kehati-hatian, langkah kaki Anna pun nyaris tidak terdengar. Tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu utama rumah itu! Anna celingak-celinguk dan Bright pun tidak ada disekitarnya.
Perasaan Anna begitu lega, kembali dia langkahkan kaki untuk keluar dari dalam rumah ini, tangan Anna meraih gagang pintu rumah Bright.
Ceklek..
Pintu itu berhasil dibuka oleh Anna, rasanya seperti terlepas dari sebuah tali tambang yang mengekangnya lega sekali.
"Apa kau sangat tidak tau malu?"
Sebuah suara membuat kedua bola mata Anna terbelalak memutar. Anna pun mau tidak mau berbalik kearah Bright.
Dilihatnya oleh Anna, Bright sudah berpakaian lengkap tapi sepertinya Bright baru saja selesai mandi karena terlihat jelas rambutnya yang masih basah dan ada handuk kecil dipundaknya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi semalam, tapi terimakasih banyak sudah memberiku tumpangan untuk tidur semalam!"
"Tidak heran, itukan kebiasaan mu? Pergi diam-diam meninggalkan orang lain tanpa mengucapkan sepatah katapun!" sindir Bright.
Anna pun menaikkan wajahnya dan menatap wajah Bright.
"Apapun yang sudah terjadi pada kita berdua dimasa lalu, aku harap lupakan semuanya dan bersikaplah biasa kepadaku!"
"Tanpa kau minta, aku memang sudah melupakan mu dan aku tidak akan pernah kau mengingat kenangan buruk macam itu!" Bright terus melontarkan kata-kata sinis pada Anna.
"Baguslah kalau begitu, semoga hidupmu akan jauh lebih bahagia dari sekarang!"
"Tentu saja, aku akan tunjukkan pada wanita yang sudah mencampakkan aku kalau aku jauh lebih bahagia tanpa dia!"
__ADS_1
Anna pun segera pergi meninggalkan rumah Bright, dengan kepala yang masih pusing Anna berjalan sedikit sempoyongan menuju rumahnya yang jaraknya lumayan jika berjalan kaki.
Diperjalanan pulang ke rumahnya, Anna menangis tersedu-sedu mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Bright, rasanya sakit, perih, dan menghancurkan hati Anna.
"Andaikan kau ada disisi momy nak, apa ayahmu akan bisa berkata sedemikian kejam pada ibumu ini? Doa kan momy di surga sana nak, agar bisa menjalani hidup ini!" Anna kembali terisak tangis saat mengingat kembali kejadian paling dia ingat hingga detik ini, Anna bukan hanya kehilangan Bright tapi juga kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Setibanya di rumah Anna, terlihat keadaan Ibunya yang sudah semakin parah diatas tempat tidur tengah meringis kesakitan.
"Mom, kau kenapa?"
"Vale, momy sudah tidak ku-kuat lagi!" lirih ibunya Anna.
"Mom bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit!"
Anna kemudian menelepon Dokter James untuk meminta bantuannya, menjemput dia dan ibunya sekarang. Tidak berselang lama, Dokter James datang dan langsung masuk kedalam rumah Anna.
"Vale, ayo bawa ibumu ke rumah sakit sekarang!"
"Iya Dok, terimakasih sudah datang!"
Anna dan James membawa ibunya Anna menuju rumah sakit, bahkan Dokter James sendiri yang memeriksakan keadaan ibunya Anna.
"Bagaimana Dok?"
"Operasi?"
"Iya Vale, kalau di rumah sakit kota peralatan disana lebih lengkap dan terjamin!"
Anna kembali dirundung masalah besar, darimana lagi dia akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk operasi ginjal ibunya?
"Ta-tapi bagaimana aku bisa dapatkan uang untuk operasi?" lirih Anna.
"Aku akan membantumu Vale, jangan khawatir sekarang kita bawa ibumu menggunakan ambulans rumah sakit!"
"Baik Dok!"
Suster Katlyn yang melihat Anna dengan wajah sedih dan khawatir seperti itu, membuat suster Katlyn merasa iba karena Anna selalu saja mendapatkan masalah.
"Dok apa keadaan ibumu kembali memburuk?"
"Iya sus, tolong alihkan semua jadwal pasien ku pada Dokter Merry!"
__ADS_1
"Baik Dok, kau tenang saja jangan pikirkan dulu tentang rumah sakit! Fokuslah dulu untuk kesembuhan ibumu,"
"Terimakasih sus!"
Anna dan James masuk kedalam ambulance untuk membawa ibunya ke rumah sakit besar di kota Jerman.
Tidak berselang lama setelah kepergian Anna dan James bersama ambulans, Bright dan Jay tiba di rumah sakit. Saat melewati tempat administrasi Bright dan Jay mendengar selintingan pembicaraan suster Katlyn dan rekannya.
"Iya kasihan Dokter Vale, terakhir mobilnya sampai dijual untuk biaya berobat ibunya sekarang apalagi coba yang harus dia jual?" ujar suster Katlyn.
"Tapi kan ada Dokter James yang cukup kaya untuk membantu Dokter Vale, lagipula Dokter James kan suka dengan Dokter Vale pastilah dia mau membantu Dokter Vale,"
"Iya si kau benar juga!"
Bright pun melirik kearah Jay, dan Jay langsung paham dengan permintaan temannya itu.
"Permisi suster-suster cantik!"
"Eh Dokter Jay," suster Katlyn langsung merapihkan pakaiannya untuk tebar pesona pada Jay.
"Apa terjadi sesuatu dengan Dokter Vale?"
"Iya Dok, ibunya Dokter Vale kan sudah sakit-sakitan parah dan kali ini semakin parah jadi harus segera dilakukan operasi!"
"Lalu sekarang dimana Dokter Vale?"
"Baru saja pergi ke kota dengan Dokter James naik ambulance, Dokter Vale beruntung karena Dokter James pasti akan melakukan apapun untuknya!"
"Oh begitu, yasudah silahkan lanjutkan lagi pekerjaan kalian kami permisi dulu!"
"Tu-tunggu Dokter Jay!"
"Ada apa?"
"Sepertinya aku membutuhkan nomor ponsel mu, jangan salah paham hanya untuk jaga-jaga saja jika ada pasien darurat!" suster Katlyn mulai melancarkan serangannya.
"Kan ada telepon rumah sakit,"
"Oh telepon ini kacang tidak berfungsi dengan baik Dok, suka terdengar bunyi kresekkk kresekkk tutttt begitu Dok!"
"Baiklah!" Mau tidak mau Dokter Jay pun memberikan nomor teleponnya pada suster Katlyn.
__ADS_1
Setelahnya Jay Dan Bright pergi meninggalkan tempat administrasi itu.