
Mobil itu berhenti di pinggir pantai, dibawah sinar bulan yang meneranginya. Anna dan Bright turun dari mobil dan memutuskan untuk duduk diatas pasir.
"Anna sampai kapan?"
"Sampai kapan apa?"
"Sampai kapan kau akan cantik terus begini?"
"Cih, gombal sekali!" Anna pun tersenyum.
Bright duduk menghadap Anna, dilihatnya rambut panjang itu ikut terombang-ambing oleh angin yang bertiup kencang malam ini.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku An?"
"Memberitahu apa?"
"Kita hampir punya anak kan? Kau keguguran kan Anna?"
Sontak saja raut wajah Anna langsung memancarkan kesedihan hingga kedua matanya berkaca-kaca.
"Darimana kau tau itu Bright?"
"Bright langsung memeluk Anna, dan akhirnya tangis Anna pecah juga dipelukan Bright.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Aku mau anak kita disini Bright, aku tidak mau kehilangan anak kita, hatiku hancur sangat hancur aku tidak bisa melupakan kejadian itu Bright!"
__ADS_1
Anna menangis tersedu-sedu, dadanya kembali sesak nafasnya kembali sulit bila mengingat betapa bahagianya saat itu ketika hasil test pack menunjukkan garis dua, tapi harapan itu dihancurkan oleh mendiang ibunya sendiri.
"Anna, aku yang salah andai saja aku mencarimu sejak saat itu aku pasti bisa menjaga mu dan calon anak kita! Maafkan aku Anna, aku sangat tidak berguna aku menyesali semua keterlambatan ini!"
Malam ini dibawah sinar rembulan menjadi saksi kedua insan yang terpisah karena keegoisan orang-orang disekelilingnya, keduanya kembali menjalin rasa mengungkapkan segala sesak didada saling memeluk erat satu sama lain.
Rasanya lega sekali setelah menangis dipelukan Bright, hingga Anna tak kunjung mau melepaskan pelukan hangat itu.
"Bright aku mau bayi, aku mau bayi kita!" suara Anna sampai serak akibat terlalu banyak menangis.
"Aku akan kabulkan itu Anna, ayo kita buat!"
Kesedihan Anna pun mendadak terhenti saat Bright mengajaknya membuat bayi, hingga Anna melepaskan pelukannya.
"Kita buat?"
"Iya kau dan aku sama-sama ingin bayi, yasudah kita buat sekarang!" Bright tersenyum licik pada Anna.
"Loh kalau aku buat sendiri, yang ada calon anak kita berakhir ditisu dong An!"
"Jorok tau!" Anna tersenyum geli mendengar Bright bicara begitu.
"Makanya kita bikin sama-sama," tatapan Bright begitu dalam terhadap Anna.
"Bright sudahlah, kita tidak mungkin bersama seperti dulu! Aku terlalu takut akan merasakan sakit yang sama seperti saat itu, kau juga harus memikirkan momy dan dady Lan mereka tidak ingin kau bersamaku!"
"Tidak Anna, mereka hanya khawatir bukan tidak ingin aku bersamamu! Ayo ikut!" Bright bangun dan mengajak Anna untuk ikut bersamanya.
"Kemana?"
Bright membawa Anna masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Kita mau kemana lagi Bright?"
"Kan tadi sudah aku bilang, aku akan mengabulkan keinginan mu,"
"Apa?"
"Punya baby!"
"Bright jangan disini, ah,"
Saat Bright menarik tubuh Anna duduk diatas tubuhnya lalu melu mat bibir ranum itu, untuk beberapa saat keduanya berpagutan. Anna kembali merasakan ciuman yang selalu dia rindukan, aroma tubuh yang wangi khas seorang Bright selalu Anna rindukan saat sedang jauh darinya.
Hari ini Bright hanya menginginkan Anna tanpa ingin apapun lagi, ingin dia curahkan kerinduan yang selama tertahan didalam hatinya melampiaskannya melalui kenikmatan yang akan disalurkan ke setiap inci tubuh yang selalu dia rindukan.
Tubuh wanita yang satu-satunya Bright sentuh dari dulu hingga sekarang, Anna lah pemenangnya, aroma tubuh Anna sudah menjadi candu untuk Bright.
Leher Anna adalah sasaran yang empuk untuk Bright luapkan hasrat yang selama ini sudah dia tahan, kali ini Bright melakukannya penuh cinta hingga membuat Anna nyaman padahal Bright sungguh tidak sabaran.
Disesappnya leher jenjang itu membuat Anna melenguh.
Ah..
"Kau harus sekali An, aku suka menghirup aroma tubuh indah mu!"
Satu jejak kepemilikan itu berhasil tercap dileher Anna.
"Aku mencintaimu Anna!"
"Aku mencintaimu Bright!"
__ADS_1