
Anna bangkit dari ranjang, dia pun memunguti pakaiannya dan memakai kembali pakaiannya itu! Kali ini kesabaran Anna benar-benar sudah habis, Bright melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan dan membuat kemarahan Anna terpancing.
Anna berjalan meninggalkan kamar mencari sosok yang tadi sudah merendahkan dirinya. Dilihatnya Bright sedang berada di dapur menuangkan bir kedalam gelas diatas meja, langkah Anna tidak gentar untuk melabrak laki-laki yang sudah mengatakan bahwa dia wanita murahan.
Saat Bright hendak meminum bir digelas, Anna langsung merampas gelas tersebut dan meletakkannya kasar kembali diatas meja.
"Kau mau minum? Kau serat? Kau tidak berpikir aku lebih merasakan serat saat kata-kata tidak pantas itu keluar dari mulut mu!"
"Wow, apa ini? Kau sedang apa Anna, berani sekali kau menaikkan nada bicara kepadaku!"
"Aku bukan wanita murahan, dengar itu!"
"Heuh, lalu kau wanita macam apa kalau bukan murahan, kau wanita yang dengan mudahnya meninggalkan ikatan suci sebuah pernikahan disaat suaminya menunggunya penuh harapan! Dan sekarang kau hendak menikah dengan laki-laki baru didalam hidupmu?"
Prok.
Prok.
Prok.
Bright bertepuk tangan dihadapan Anna.
"Bravo Anna, segera lah menikah lagi dan aku akan dengan senang hati hadir ke pesta pernikahan mu dengan James!"
"Aku meninggalkan mu karena aku punya alasan Bright, tidak kah kau tau? Tidak kah kau mencari tau apa yang terjadi padaku? Tidak kah kau bertanya kepada kedua orangtuamu kenapa denganku? Jika memang cintamu seluas samudera, aku yakin kau akan bertanya!"
"Untuk apa aku bertanya? Hal yang sudah pasti kebenarannya adalah kau meninggalkanku begitu saja dan ketika aku bertemu kembali denganmu kau tidak menjelaskan apapun dan malah rela dipeluk-peluk oleh laki-laki lain dihadapan ku!"
"Cukup Bright! Aku capek, dan aku sudah melupakan masa lalu kita! Mulai sekarang, aku mengubur semua rasaku untukmu!"
Anna pergi meninggalkan Bright yang masih menatapnya penuh kebencian.
Bughhh...
Bright meninju meja dapurnya dengan kasar emosinya masih belum mereda saat mengingat Anna dipeluk oleh James, namun sesaat Bright mencerna perkataan Anna yang memintanya bertanya pada Larisha dan Tuan Lan penyebab Anna menceraikan dirinya.
"Apa harus aku bertanya pada momy atau Dady jika endingnya masih tetap sama, Anna meninggalkan aku dan sekarang dia menerima laki-laki dihatinya."
__ADS_1
Bright merogoh ponsel miliknya lalu pergi ke halaman belakang rumah untuk menelpon Larisha. Di negara berbeda Larisha dan Tuan Lan berada, Larisha tengah memijit pundak Tuan Lan yang masih sibuk dengan pekerjaan yang dia bawa ke rumah.
"Dad, sudahlah berikan perusahaan yang di Jerman untuk Nick agar kau tidak perlu capek begini!"
"Bisa-bisa uang perusahaan habis dia pakai untuk bermain wanita!"
"Kalau begitu ajukan syarat saja,"
"Syarat?"
"Iya, agar Nick berhenti bermain wanita! Katakan jika anak perusahaan iklan kita yang di Jerman sepenuhnya akan menjadi milik Nick asal dia mau menikah, dengan begitu Nick tidak akan bermain wanita lagi!"
Tuan Lan mengernyitkan dahinya!
"Eh mom, mana mau anak itu menikah! Dia itu alergi dengan sebuah komitmen, maunya jadi Cassanova seumur hidup itu anak!"
"Mau dad, dalam urutan kamus Nick itu yang pertama harta, baru setelahnya tahta nah yang terakhir wanita! Jadi dia pasti akan melakukan semuanya demi harta!"
"Apa benar anakku yang satu itu sebedebah itu?"
"Benar, dia mengatakan sendiri padaku!"
Kring.
Kring.
Sedang asik mengobrol, telepon Larisha berdering panggilan masuk dari Bright.
"Hallo sayang, apa kabar anak momy?"
"Halo mom aku baik, mom kau dan Dady sehat kan?"
"Iya kami sehat, bagaimana pekerjaan mu lancar?"
"Lancar kok mom! Aku menelepon karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan!"
"Hal penting?" Larisha dan Tuan Lan saling mendelik.
__ADS_1
"Apa saat Anna menyerahkan surat cerai itu, ada sebab yang tidak aku ketahui?"
Deg..
Larisha langsung terkejut saat setahun lamanya dia berusaha menjelaskan alasan Anna namun Bright selalu saja menolak, bahkan baru saja Larisha menyebutkan nama Anna, Bright sudah mengamuk dan tidak mau mendengar apapun lagi soal Anna.
Dulu memang Larisha sempat mencoba menjelaskan, namun Bright terlanjur membenci Anna dan tidak mau mendengar nama Anna itu disebut, Bright juga menjadi pecandu narkoba dan hanya menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukkan demi melupakan Anna.
"Dulu kan momy sudah mau jelaskan, tapi kau mendengar nama Anna saja sudah tutup kuping dan marah besar, sekarang kenapa tiba-tiba kau bertanya?"
"Katakanlah mom, kenapa Anna sampai menceraikan ku!"
Larisha pun menjelaskan semuanya pada Bright, saat itu Anna dalam kondisi tertekan antara menyelamatkan Ibunya dan anggota group brotherhood atau kembali pada Bright.
"Kenapa mom? Kenapa momy memberikan pilihan itu hah?"
"Karena jika momy tidak memberikan surat cerai itu Bright, lalu Anna pergi demi menyelamatkan Ibu dan group brotherhood kami tidak tau apa yang akan terjadi pada Anna, bisa saja dia tewas dalam penyerangan itu dan bisa saja dia menjadi penerus group brotherhood bersama Ibunya!"
Bright pun terdiam hatinya merasa bersalah berkecamuk dalam luka yang perlahan mulai sembuh.
"Bright, Anna adalah seorang anak dia pasti akan memilih hidup bersama dengan ibunya dan kau adalah orang yang berusaha ibunya bunuh! Momy dan Dady tidak mau jika sesuatu terjadi padamu, kau tidak tau nak sejahat apa ibunya Anna!"
"Jangan lagi campuri urusan ku mom! Kalian tidak berhak memberikan pilihan itu pada Anna," Bright menutup teleponnya.
Tuan Lan langsung memeluk Larisha setelah Larisha lunglai mendengar kekecewaan Bright ditelepon tadi.
Sejatinya setiap ibu pasti menginginkan putranya hidup damai dan tidak dalam bahaya, itulah sebabnya Larisha dan Tuan Lan memutuskan memberikan pilihan itu pada Bright. Larisha tidak sanggup bila Bright hidup bersama Anna dan Ibunya, bisa-bisa Bright celaka, karena Ibunya Anna akan melakukan segala cara untuk membunuh keturunan group Limson.
"Dad, aku sangat menyayangi Bright! Salahkah jika kita berusaha menjaganya dari bahaya yang mengintai anak kita? Aku tidak mau kehilangan Bright," Larisha menangis didalam dekapan Tuan Lan.
"Sayang, jangan menangis! Dady tau betapa besar kasih sayangmu untuk anak-anak kita, lagipula Ibu dan ayah mana yang akan membiarkan putranya dalam bahaya, tindakan kita sudah tepat mom hanya saja Bright tidak mengambil dari sudut pandang kita sebagai orangtua!" Tuan Lan menepuk-nepuk pundak Larisha seraya menenangkan Larisha agar berhenti menangis.
Bright segera mencari Anna, dan mendapati Anna sudah tertidur pulas diatas sofa. Terlihat bekas air mata yang mengalir dipipi Anna, sepertinya Anna menangis setelah pertengkaran tadi.
Rasa bersalah terhadap Anna mulai menghantui pikiran Bright, ternyata wanita yang dia cintai melewati masa-masa sulit itu sendirian.
Like
__ADS_1
Komen
Hadiah atau Votenya jangan lupa ya sayang-sayangku ☺️