
Ibu adalah ciptaan terindah karena di dunia yang egois ini, dia adalah satu-satunya yang selalu ingin melihatmu bahagia. Seorang ibu akan selalu berusaha membahagiakan anaknya walaupun harus merelakan kebahagiaannya sendiriWalau mustahil menjadi ibu yang sempurna, namun seorang ibu pasti berusaha untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya.
Lima tahun kemudian.
Saat ini putri kecil Senja yang diberi nama Pelangi, sedang dalam pendidikan di taman kanak-kanak.
Pelangi tumbuh menjadi putri yang sangat cantik dan pintar. Senja merasa sangat beruntung memiliki putri sepertinya.
Berarti sudah enam tahun Senja berpisah dengan Langit. Sejak kepergian Langit ke luar negeri waktu itu, wanita itu masih belum bisa melupakan kenangannya dengan laki-laki yang pernah mengisi hidupnya. Apalagi, Langit meninggalkan sesuatu yanh sangat berharga saat pergi, seorang anak.
Senja baru menyadari kalau dirinya hamil setelah Langit sudah meninggalkannya dua bulan, wanita itu yakin kalau itu adalah anak Langit. Selama ini dia tidak pernah berhubungan dengan siapapun lagi selain Langit, tapi saat itu tidak banyak yang bisa dilakukan Senja.
Wanita itu menyembuyikan kehamilannya dan tidak mengatakan apapun kepada keluarga Langit, karena dia tahu kalau keluarga Langit akan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya jika mengetahui kehamilannya.
Itu sebabnya Senja mencoba untuk tetap mempertahankan bayinya dan akan merawatnya sendiri, dia yakin kalau Langit tahu tentang kehamilan Senja waktu itu pasti laki-laki itu tidak akan pergi meninggalkannya.
Setelah mengalami kesusahan yang sangat membuatnya frustasi, Senja mencoba keluar dari permasalahan itu. Banyak yang harus dia lakukan, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bayinya. Senja berusaha untuk mencari pekerjaan, dia harus bisa bertahan hidup meskipun tidak ada Langit sebagai ayah dari Pelangi. Apa lagi sejak kepergian Ibu Riri dan anaknya menjual semua aset miliknya.
Senja mencari pekerjaan lain, dan sambil bekerja dia kuliah agar dapat pekerjaan yang layak.
Meskipun begitu, dia masih menyimpan nama Langit dalam hatinya, entah kapan dia akan bisa melupakan laki-laki itu. Saat ini, Senja bekerja di perusahaan milik keluarga Langit, awalnya dia tidak tahu kalau itu masih bagian dari perusahaan keluarga Langit, Senja baru tahu setelah tiga bulan bekerja di sana.
Senja ingin mengundurkan diri saat itu, tapi dia sadar kalau mencari kerja sangatlah susah, itulah dia tetap mencoba bertahan demi anaknya.
Pagi ini, dia mendapatkan kabar dari temannya kalau ada atasan baru yang akan menangani perusahaan. Senja sangat penasaran siapa yang akan menggantikan posisi atasan, wanita itu sedikit gelisah. Entah kenap, tapi ada perasaan tidak enak, tetapi Senja sendiri tidak tahu kenapa dia merasa seperti itu.
"Bengong aja dari tadi, lagi mikirin apa?" tegur salah satu rekan Senja yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Enggak, kok. Omong-omong, siapa ya atasan baru itu. Apa kamu tau info lainnya?" Senja yang saat itu tengah sibuk menyusun laporan langsung menghentikan kegiatannya dan lebih memilih untuk menfokuskan pada rekan kerjanya itu.
"Aku nggak tau jelas, sih. Tapi tadi sempat denger kalo atasan kita itu udah tinggal lama di luar negeri, jadi banyak yang nggak kenal," jawab wanita dengan rambut sebahu itu.
Detik itu juga, pikiran Senja langsung tertuju pada satu orang, Langit. Entah kenapa dia hanya fokus dengan satu nama itu, padahal bisa saja itu orang lain. Mendengar informasi itu membuat wanita itu sedikit merasa tidak sabar bertemu dengan atasan barunya, hanya sekedar ingin memastikan kalau yang dipikirkannya itu tidak benar.
"Udahlah jangan bahas ini lagi, nanti juga tau sendiri. Sekarang cepat selesaiin pekerjaan kamu, siapa tau nanti atasan itu ingin melihat-lihat beberapa laporan."
"Iya. Ini juga lagi aku kerjain."
Setelah itu, Senja langsung memutar kursinya menghadap meja kerjanya. Dia kembali fokus dengan tumpukan kertas dan layar komputernya, banyak sekali yang harus ia kerjaan pagi ini. Semua ini karena akan ada atasan baru itu, banyak yang harus ia jelaskan nantinya. Perpindahan seperti ini memang sedikit merumitkan.
* * *
"Atasan baru katanya sudah ada di lobi, dia terlihat masih muda dan sangat tampan." Seorang pegawai wanita memberi info kepada temannya. Hal itu tidak sengaja terdengar oleh Senja, wanita itu merasa bersemangat dan ingin mengintip siapa atasan baru itu.
Bertepatan dengan itu, Senja dipanggil untuk membantu sesuatu di devisi lain. Wanita itu langsung pergi ke sana, di tengah jalan dia tidak sengaja berpapasan dengan atasan baru itu. Kakinya sekan membeku saat kala matanya menangkap sosok yang selama ini bayangannya selalu bersemayam di dalam pikirannya, bahkan Senja merasa kehilangan oksigen disekitarnya karena masih tercengang dengan apa yang dia lihat.
"Senja, ayo cepat."
"Ah, iya maaf."
Senja langsung berlari mendekat dengan orang yang mengajaknya itu. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat, Langit saat ini akan menjadi atasannya, itu artinya dia akan berinteraksi lagi denga laki-laki itu. Tetapi, Senja berusaha untuk tidak membawa masa lalunya lagi. Dia tidak tahu apa saat ini Langit juga masih menyimpan rasa kepadanya atau malah sudah ada wanita lain yang mengisi kehidupannya.
Tugas Senja untuk membantu devisi lain untuk mengerjakan sesuatu akhirnya selesai. Wanita itu baru saja akan kembali ke tempatnya dan menyelesaikan tugasnya, tapi tiba-tiba saja ada yang mengurungkan niatnya.
"Senja, kamu datang ke ruangan atasan sekarang juga. Oh ya, jangan lupa membawa berkas yang sudah kamu kerjakan tadi."
"Baik, Pak."
__ADS_1
Senja sangat gugup saat ini, dia tidak tahu apa yang akan terjadi di ruangan sana nanti. Dia bisa saja merencanakan untuk bersikap biasa saja, tapi terkadang semua rencananya itu akan gagal saat bertatapan langsung dengan Langit.
Namun, saat ini Senja tetap harus datang ke ruangan Langit. Waita itu menghirup udara dalam-dalam, dan berusaha untuk tenang. Kemudian dia mulai mengetuk pintu ruangan Langit, dan tak lama setelah itu dia dipersilahkan untuk masuk ke dalam.
Degup jantung Senja semakin tidak karuan kala dia semakin mendekat ke meja kerja Langit. Saat ini laki-laki itu masih belum melihat Senja, dia masih sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.
"Silahkan duduk dulu," ucap Langit tanpa melirik sedikpun kepada Senja.
Wanita itu juga masih mematung di sana, dia tidak duduk seperti yang diperintahkan Langit. Rasanya semua ini masih seperti mimpi baginya, melihat Langit berada di depannya.
Langit yang menyadari kalau orang yang ada di depannya belum duduk membuatnya langsung menoleh, mata laki-laki itu terlihat menyipit saat melihat wanita yang ada di depannya. Langit sedikit mengingat wajah cantik yang membuat ingatanya ditarik ke masa lalu, wanita itu pernah masuk dalam hidupnya.
Langit masih tidak percaya kalau saat ini Senja yang berdiri di hadapannya. Ternyata saat ini wanita itu sudah memakai hijab, itu sebabnya Langit sedikit sulit untuk mengealinya. Tapi saat ini Langit sudah sangat yakin kalau itu memang ....
Senja. Batin Langit.
...****************...
Bonus visual Senja
Langit
Pelangi
__ADS_1
Dokter Surya