SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 52. Rumah Sakit.


__ADS_3

Langit menggandeng istrinya melewati lorong rumah sakit. Sepanjang jalan senyuman selalu terkembang dari bibirnya. Pria itu tampak sangat bahagia membayangkan jika sebentar lagi dia akan memiliki seorang anak lagi.


Sampai di ruang tunggu, Langit meminta Senja menunggu di sana. Dia akan mencari tahu tentang semua dokter kandungan di rumah sakit ini. Langit sengaja memilih rumah sakit yang berbeda dengan tempat praktiknya Dokter Surya.


"Sayang, kamu di sini saja dulu. Biar aku cari tahu dulu mengenai semua dokter di sini. Setelah terpilih, aku daftarkan dulu baru jemput kamu," ucap Langit.


"Aku ikut kamu saja, Mas!"


"Jangan, Sayang. Nanti kamu capek dan bosan. Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan usahakan cepat."


Langit meninggalkan Senja yang duduk di ruang tunggu itu. Senja tersenyum dengan wanita yang duduk disampingnya. Tidak begitu lama datang wanita lain dan memilih duduk di samping kiri Senja.


Ketika Senja menoleh ke kiri betapa kagetnya wanita itu menyadari siapa yang duduk di samping kiri. Dengan dahi berkerut, Senja memandangi wajah ibu itu lagi. Barulah Senja menyadari jika dia sangat mengenalnya.


Raut wajah Senja langsung berubah sangat bahagia. Dipeluknya wanita itu langsung. Wanita yang Senja peluk tampak bingung.


"Ibu Riri, apa kabar?" tanya Senja. Air matanya tumpah membasahi pipi.


Wanita itu merenggangkan pelukan Senja, menatap wajah Senja tanpa kedip. Setelah cukup lama, akhirnya ibu itu yang kembali memeluk Senja.

__ADS_1


"Senja ...," ucap wanita itu tidak percaya. Senja membalas pelukannya erat.


Setelah cukup lama berpelukan, mereka melerainya. Senja kembali duduk, tapi dengan miring menghadap ibu Riri.


"Ibu tidak menduga akan bertemu kamu di sini!"


Senja masih tampak terisak. Tidak percaya dapat bertemu lagi dengan orang yang telah menolongnya dahulu. Kebaikan Ibu Riri tidak akan pernah dia lupakan. Senja telah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri.


"Ibu kapan kembali? Kenapa ada di sini, apa ibu sakit?" tanya Senja beruntun.


Ibu Riri menggenggam tangan Senja. Tampak sekali jika wanita itu juga menyayangi Senja seperti putrinya sendiri. Rasa simpatinya berubah menjadi sayang.


"Ibu juga tambah cantik dan makin muda!" Puji Senja. Ibu Riri tampak tersipu karena mendengar pujian dari Senja. Cukup lama mereka hanya saling diam dan saling menatap.


"Ibu tinggal di mana sekarang."


Ibu Riri tampak menarik napas dalam. Tampak raut wajahnya sedikit berubah. Seperti menahan rasa sakit hati dan amarah. Beberapa detik kemudian barulah ibu Riri bicara.


"Saat ini ibu tinggal dengan ponakan. Sengaja untuk menemani dia. Ibu dan Bapaknya tidak bisa lama-lama di Indonesia karena banyak kerjaan, jadilah ibu yang harus menemaninya."

__ADS_1


"Memangnya apa yang terjadi dengan ponakan Ibu. Maaf Bu, bukannya aku mau ikut campur."


Kembali Ibu Riri menarik napas dalam. Tampaknya berat untuk mengatakan apa yang telah dia alami. Senja yang dapat membaca itu, menggenggam tangan wanita itu.


"Jika Ibu keberatan, tidak perlu cerita. Aku hanya mendoakan semoga semuanya berjalan baik."


"Bukannya Ibu tidak mau cerita, tapi ibu juga belum tahu pasti masalah yang sedang dia hadapi. Yang ibu tahu, dia dipenjarakan suaminya dengan tuduhan palsu."


Senja tampak terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin ada suami yang tega memfitnah istrinya hingga masuk ke penjara.


"Tega sekali suaminya, Bu."


"Entahlah. Ibu juga belum yakin jika itu masalahnya. Jika memang dia tidak bersalah pastilah kedua orang tuanya bisa membebaskan tanpa syarat. Ini dia bisa bebas, tapi merupakan tahanan kota. Dia wajib lapor tiga kali seminggu dan tidak boleh meninggalkan kota ini. Ibu sering bertanya apa sebenarnya terjadi, tapi dia marah dan mengamuk. Ponakan ibu itu sedikit temperamen."


Ibu Riri menghentikan ucapannya. Pandangannya menerawang entah kemana. Senja yakin saat ini pastilah ibu Riri sedang memikirkan ponakannya itu.


"Apa pun masalah ponakan Ibu, aku mendoakan semua dapat selesai dengan baik," ucap Senja dengan memukul pelan tangan ibu Riri.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2