SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 51. Senja sakit?


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu sejak pernikahan Langit dan Senja. Saat ini mereka telah mendaftarkan pernikahan ke Kantor Urusan Agama.


Pagi ini udara tampak begitu cerah. Langit bangun dan melihat ke samping, istrinya masih bergulung dengan selimut. Tidak biasanya sang istri begini.


Langit bangun dan menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian pria itu telah selesai mandi. Langit berlutut di samping tempat tidur menghadap istrinya. Dikecupnya dahi sang istri. Terasa hangat. Pria itu sangat kuatir dan memegang dahi istrinya. Memang terasa hangat.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Langit penuh kuatir. Dia duduk di tepi ranjang dan memeluk erat istrinya itu.


Senja membuka matanya. Dia membalas memeluk Langit dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang pria itu. Telah satu minggu Senja merasa kurang enak badan.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Langit lagi.


"Malas, Mas."


Senja memang diminta Langit memanggil dirinya Mas. Bukankah saat ini pria itu telah menjadi suaminya. Tidak pantas lagi memanggil nama.


"Kok malas? Kita harus ke rumah sakit. Nanti kalau dibiarkan bisa makin parah."


Senja makin mempererat pelukannya. Seperti sering Pelangi lakukan. Tampak sangat manja. Langit mengecup dahi lalu bibirnya.


"Aku gendong ke mobil kalau malas."Senja memukul lengan Langit mendengar ucapan suaminya itu.


"Mas harus kerja, pulang kerja aja ke rumah sakitnya. Cuma pusing dan mual dikit aja. Seperti saat aku awal tahu hamil Pelangi," ujar Senja.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya itu. Langit tampak tersenyum dan kembali mengecup istrinya. Pria itu memeluk tubuh Senja dengan erat.


"Apa mungkin Pelangi mau memiliki adik?" tanya Langit dengan berbisik.


Senja melototkan matanya mendengar ucapan suaminya itu. Kenapa dia tidak berpikir ke sana. Senja lalu mengingat apakah bulan ini dia telah datang bulan. Wanita itu tampak termenung, mencoba mengingatnya.


"Sepertinya memang aku hamil, Mas. Aku rasa belum datang bulan," ucap Senja pelan.


"Serius, Sayang?" Langit bertanya dengan memeluk erat istrinya. Mengecup seluruh bagian di wajah wanita yang paling dia cintai itu.


Jika memang Senja hamil, pria itu berjanji akan menjadi suami siaga untuk menebus waktunya yang terbuang saat istrinya hamil Pelangi. Akan dinikmati peran menjadi seorang ayah.


"Kata pergi ke rumah sakit pagi ini. Namun, maaf Sayang, aku tidak mau Dokter Surya yang menjadi dokter kandungan kamu lagi!"


"Kenapa?"


Senja tersenyum mendengar alasan pria itu tidak mau Dokter Surya yang menjadi dokter kandungannya. Seingat wanita itu, suaminya memang sangat pencemburu.


Saat mereka bersekolah dulu, Langit hampir baku hantam dengan temannya hanya karena pria itu menatap Senja lama. Dia pernah berkata, miliknya tidak boleh ada yang melirik lebih dari lima detik.


Langit melepaskan pelukannya. Berdiri dari duduknya. Tiba-tiba pria itu menggendong sang istri menuju kamar mandi. Sampai di kamar mandi, Langit mendudukan Senja di closet yang telah tertutup.


"Aku mandikan kamu, setelah itu sarapan. Kita ke rumah sakit. Aku akan minta izin hari ini libur. Kebetulan tidak ada rapat.

__ADS_1


Langit membuka seluruh pakaian Senja. Wanita itu melihat suaminya sering menarik napas saat memandikannya. Senja memeluk pinggang Langit, tidak peduli baju pria itu menjadi basah.


"Sayang, kamu pasti pengin'kan?" tanya Senja pelan. Langit hanya membalas dengan tersenyum. Pria itu kembali membersihkan tubuh istrinya itu. Memandikan Senja seperti yang sering dia lakukan saat mandikan Pelangi.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Langit mengajak istrinya sarapan. Pelangi telah menunggu di meja makan dengan pakaian rapi. Tampak putrinya telah siap untuk ke sekolah.


Saat ini mereka telah pindah ke rumah yang lebih besar. Sahabat Langit pemilik perusahaan menawarkan rumahnya. Langit bisa mencicil dengan potongan gaji tiap bulannya. Di rumah mereka, Langit juga mempekerjakan seorang wanita untuk membantu Senja.


Setelah sarapan. Langit mengantar Pelangi bersama istrinya Senja. Anak itu sedikit heran melihat bundanya yang ikut bersama mereka. Tidak biasanya wanita itu ikut.


"Bunda ikut antar aku ke sekolah?" tanya Pelangi saat di dalam mobil.


"Iya, Sayang. Bunda mau sekalian ke rumah sakit."


"Bunda, Sakit?" tanya Pelangi dengan wajah kuatir.


Senja yang duduk di jok depan bersama Langit, memalingkan wajahnya ke belakang tempat Pelangi duduk. Dia tersenyum menanggapi ucapan putrinya


"Hanya sakit kepala. Nanti diperiksa dulu, apa sakit bunda."


"Oh, gitu," jawab bocah itu. Entah dia mengerti atau tidak, pernyataan yang Senja ucapkan.


Setelah mengantar Pelangi, Langit langsung mengendarai mobil menuju rumah sakit.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2