SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 20. Kita Harus Berpisah!


__ADS_3

Kalaupun aku jatuh cinta dengan orang lain, perasaan itu tidak akan pernah sama ketika aku mencintaimu. Aku tidak tahu apa itu cinta, sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Tapi, saat itu juga aku tahu rasanya patah hati.



Langit spontan melepaskan pelukan Mawar, membuat wajah wanita itu masam. Dia malu atas sikap Langit yang begitu di depan salah satu karyawannya.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" tanya Langit dengan suara ketus.


"Kenapa aku harus mengetuk pintu dulu, bukankah ini ruang kerja suamiku?" tanya Mawar tidak kalah ketus. Dia tidak suka Langit berkata begitu di depan orang. Dia malu jika orang tahu pernikahannya hanyalah di atas kertas.


Mendengar ucapan Mawar yang mengatakan Langit suaminya, Senja tampak semakin kaget. Dadanya terasa nyeri, napasnya sesak. Senja langsung menghirup udara sebanyak mungkin.


Apa yang aku dengar tadi tidak salahkan? Wanita itu mengatakan jika Langit, suaminya. Mengapa Langit tidak mengatakan jika dia telah menikah? Maafkan Bunda, Nak. Mungkin Bunda akan sembunyikan keberadaanmu karena ayah kamu pasti telah memiliki putri yang lain. Bunda tidak mau nanti kamu jadi bahan bandingan.


Senja mencoba bersikap setenang mungkin. Langit tidak boleh tahu jika hatinya terasa ditusuk sembilu saat mengetahui kenyataan ternyata pria yang dia cintai telah menikah dan melupakan dirinya.


Apa maksud Langit kemarin? Kenapa dia meminta Senja untuk memulai hubungan lagi. Apakah Langit ingin mempermainkan dirinya lagi. Baru saja dia di bawa terbang tinggi, tetapi langsung dihempaskan ke dasar.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya pamit dulu. Jika ada yang Bapak butuhkan lagi bisa hubungi saya lagi. Permisi, Bu," ucap Senja dengan menundukan kepalanya.


Langit hanya bisa membiarkan Senja pergi, tetapi matanya terus menatap kepergian wanita itu hingga menghilang dari pandangan matanya. Semua itu ternyata tidak luput dari perhatian istrinya Mawar.


Mawar merasa ada sesuatu antara Langit dengan karyawannya itu. Tidak pernah dia melihat Langit memandangi wanita begitu. Setahun pernikahan mereka, walau Langit tidak mencintainya, tapi pria itu tidak pernah memandangi wanita hingga tidak berkedip seperti memandangi wanita tadi, pikir Mawar.


"Karyawan kamu tadi sangat cantik," ucap Mawar, dia ingin menguji Langit. Namun, pria itu tidak menjawab ucapannya.


"Kenapa kamu datang ke kantor?" tanya Langit.


"Tentu saja beda Mawar. Jika di luar negeri itu perusahaan juga milikmu. Kamu juga ikut andil di dalam operasionalnya. Jika di sini kamu tidak terlibat. Kamu tahu'kan jika aku baru masuk kerja, aku butuh banyak adaptasi dan pengenalan perusahaan ini. Aku sibuk!" ucap Langit tegas.


"Jika begitu, aku juga ingin kerja di sini. Aku bisa membantu agar kamu tidak terlalu sibuk. Bukankah kamu tahu jika aku sudah terbiasa memimpin perusahaan?"


Langit memandangi wajah istrinya itu dengan tatapan kurang suka. Mana mungkin dia pekerjaankan Mawar di perusahaan ini, jika ada Senja. Dia tidak akan bisa mendekati wanita itu lagi.


"Sudahlah Mawar. Apa kamu tidak mengerti juga jika aku tidak ingin dekat denganmu! Apa kamu sudah mati rasa sehingga tidak pernah menyadari jika aku tidak pernah mencintai kamu. Aku juga ingin kita segera berpisah. Aku akan mengurus secepatnya!" ucap Langit.

__ADS_1


Bagai mendengar petir di siang bolong, Mawar mendengar ucapan Langit. Walau pria itu tidak mencintai dirinya, sebelum ke Indonesia tidak pernah pria itu mengatakan jika mereka akan bercerai. Pasti ada yang disembunyikan Langit darinya.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin kita berpisah? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Mawar dengan suara lumayan tinggi.


"Sudahlah, Mawar. Jangan berpura-pura. Pernikahan kita selama ini juga tidak berjalan baik. Tidak ada gunanya dipertahankan. Kita akan saling menyakitkan nantinya. Sebaiknya kamu pulanglah! Kita akan bicarakan ini nanti di rumah!"


Mawar menarik napas dalam menahan emosi yang hampir meledak. Dia mencoba menahan amarahnya. Jika dia marah dan emosi pasti Langit akan bertambah membencinya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang telah aku genggam. Akan aku pertahankan hingga darah penghabisan," ucap Mawar. Setelah itu dia melangkah keluar dari ruangan.


Mawar memperhatikan wajah semua karyawan yang ditemuinya. Mencoba mencari dan melihat kembali dari dekat wajah Senja. Namun, dia tidak melihat Senja.


Di dalam toilet, Senja sedang menghapus air matanya yang tanpa bisa ditahan jatuh membasahi pipinya.


Aku pernah menolak yang datang, hanya untuk mempertahankan kamu yang telah pergi. Ketika aku merasakan kebahagiaan mendalam, aku merasa tertampar karena setiap kebahagiaan itu buat aku tersadar bahwa kebahagiaan hanya sementara. Kau mampu berlari dengan menebar senyum, sedangkan aku terpaku tak sanggup memelukmu, karena bagimu keadaanku ini adalah ketiadaan yang tak pernah ada.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2