SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 38. Dokter Surya vs Langit


__ADS_3

Dua jam perjalanan akhirnya sampai di rumah milik Dokter Surya. Rumah itu tampak asri dan bersih. Penjaga rumah itu selalu merawat dan membersihkan setiap hari.


Dokter Surya menggendong Pelangi dan menidurkan di sofa. Setelah itu membantu Langit membawakan tas dan koper berisi pakaian dan mainan Pelangi.


"Aku pamit dulu. Tiga jam lagi ada operasi. Aku takut telat."


"Terima kasih, Dok. Semoga semua kebaikan Dokter di balas Tuhan dengan kebaikan lagi," ucap Langit.


"Jangan sungkan begitu, Lang. Panggil nama saja biar lebih akrab."


Dokter Surya lalu mendekati Pelangi dan mengecup dahi bocah itu. Saat Dokter Surya akan melangkah pergi, Pelangi terbangun. Dia duduk dan melihat Surya yang akan keluar dari pintu utama.


"Daddy ...," teriak Pelangi. Bangun dan langsung berlari ke arah Surya dan memeluk kaki pria itu.


"Daddy mau kemana?" tanya Pelangi dengan suara sendu.


Surya berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Pelangi. Memeluk bocah itu. Pelangi juga memeluknya dengan mengalungkan kedua tangan ke leher Dokter Surya.

__ADS_1


"Daddy harus kembali ke rumah sakit. Ada yang harus dioperasi."


"Apa Daddy lama lagi ke sini?" tanya Pelangi.


Langit melihat semua interaksi Pelangi dan Surya dengan perasaan sedih. Hatinya terasa ngilu menyaksikan semua itu. Senja lalu mendekati Langit dan menggengam tangannya. Memukul lengan Langit pelan.


"Sabar, Lang. Beri waktu Pelangi untuk dapat menerima kamu. Dia mengenal Dokter Surya sejak dari kandungan. Jadi pasti lebih dekat dengannya," ujar Senja menguatkan hati Langit. Pria itu tersenyum ke arah Senja.


Surya menggendong Pelangi. "Lusa Daddy janji datang. Besok masih ada yang harus Daddy urus. Karena seminggu lagi Daddy sudah harus pergi buat belajar."


"Ada Papi Langit. Kamu bisa bermain dengan Papimu," ujar Surya.


Pelangi mengalihkan pandangannya ke Langit. Pria tersenyum dengan putrinya itu. Namun, Pelangi tidak membalasnya.


"Itu Om Langit. Bukan Papi. Apa Om itu bisa bermain ular tangga?" tanya Pelangi.


"Tentu saja bisa. Apa pun permainannya, Papi Langit bisa lakukan."

__ADS_1


"Apa Om bisa main ular tangga?" tanya Pelangi, memandang ke arah Langit.


"Tentu aja bisa. Permainan apa saja yang kamu mau Papi bisa lakukan. Apa kamu mau main sekarang?" tanya Langit antusias.


Pelangi memandangi Surya. Pria itu menganggukkan kepala tanda setuju. Dia lalu membisikan Pelangi, "Kamu harus panggil Papi. Dia itu Papi kamu. Papi Langit lebih pintar dari Daddy. Kalau kamu bisa mengalahkan Papi dalam permainan ular tangga, Daddy akan belikan boneka barbie terbaru."


"Daddy janji?"


"Ya, makanya kamu harus kalahkan Papi Langit dalam permainan ular tangga."


Setelah cukup lama, akhirnya Pelangi bisa diyakinkan. Dokter Surya meninggalkan Pelangi dengan berat hati. Sebenarnya besok dia libur. Namun, dia terpaksa berbohong pada Pelangi jika banyak kerjaan atas permintaan Senja.


Masih Surya ingat saat di mobil Senja memohon pengertiannya. "Maaf, Mas. Aku harap Mas jangan salah sangka. Aku melakukan ini bukannya tidak tahu terima kasih. Aku hanya ingin pengertian dari Mas. Coba beri waktu Langit selama seminggu ini untuk dapat merebut hati Pelangi. Sekali lagi aku mohon maaf, bukannya aku tidak suka Mas datang dan dekati Pelangi. Dari dulu hanya Mas yang ada dihatinya. Aku yakin sampai kapan pun, Mas tetap menempati tempat terindah di hati Pelangi."


Surya akhirnya menyetujui permintaan Senja. Padahal rencana awal dia mau mengambil cuti seminggu untuk dapat bermain dengan Pelangi sebelum ke luar negeri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2