
Pagi-pagi sekali, Mawar sudah mendapat kabar mengenai keberadaan Senja dan Langit. Berbekal alamat yang diberikan oleh anak buahnya, Mawar akan mendatangi Langit dan Senja ke sana.
Usai berdandan, Mawar membawa berkas-berkas yang sudah berhasil dia kerjakan. Itu semua adalah bukti-bukti mengenai tindak kriminal Senja karena sudah menggelapkan uang perusahaan milik keluarganya Langit. Namun, tentu saja itu semua bukti palsu yang direkayasa oleh Mawar.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Mawar mencoba menghubungi mantan papi mertuanya. Sayangnya, sudah beberapa kali Mawar menelepon papinya Langit tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya Mawar ganti menelepon mantan mama mertuanya.
"Hallo, Mi, aku sudah mendapat kabar mengenai keberadaan Langit dan Senja. Sekarang aku sedang menuju ke kantor polisi untuk membuat laporan supaya Senja bisa segera dipenjarakan." Mawar menjelaskan kondisi sekarang mengenai kemajuan pencarian keberadaan Langit dan Senja.
"Apa kamu butuh Mami untuk menemani kamu?" tanya wanita paruh baya di seberang telepon.
"Tidak perlu, Mi. Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Mawar.
Perempuan itu masuk ke dalam mobilnya yang sudah dipanaskan oleh asisten rumah tangga. Sekarang Mawar tinggal tancap gas saja. Untuk sejenak, Mawar melihat ke arah luar jendela. Cuaca hari ini begitu cerah, dan itu membuat Mawar tersenyum senang.
Cuaca saja mendukung rencanaku. Batin Mawar.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya," kata mantan mami mertuanya Mawar.
"Iya, Mi. Nanti kalau ada kelanjutannya, aku bakal langsung kasih tahu Mami sama Papi kok," kata Mawar.
Sambungan telepon terputus di sana. Mawar melanjutkan aksinya yang ingin ke kantor polisi. Wajahnya tersenyum sinis ketika membayangkan bagaimana reaksi kagetnya Senja dan Langit nanti ketika dia datang ke rumah yang mereka tempati sambil membawa polisi dengan tuduhan Senja melakukan penggelapan dana.
"Aku yakin, Langit pasti akan langsung ilfeel sama perempuan itu," kata Mawar dengan penuh rasa percaya dirinya.
Tibalah Mawar di kantor polisi, dia membawa berkas-berkas yang tadi dia letakkan di jok sampingnya. Sambil pasang wajah sedikit marah, Mawar berjalan masuk ke bagian kantor. Dia segera membuat laporan sesuai drama yang sudah dia rancang, dan laporan itu pun diterima oleh pihak kepolisian.
__ADS_1
"Bukankah Anda mantan menantu dari pemimpin perusahaan ini?" tanya polisi tadi dengan tatapan curiga.
"Iya, Pak. Saya memang cuma mantan menantu, tapi saya tidak tega melihat kedua mantan mertua saya yang sangat sedih karena adanya hal ini. Mereka terpukul mengetahui kenyataannya, jadi saya cuma berniat membantu meringankan beban mereka saja, Pak." Tangan Mawar mengelap pipinya pakai tisue, padahal sama sekali tidak ada air mata yang mengalir dari matanya.
"Kalau begitu, kami akan memprosesnya sekarang juga." Polisi memercayai laporan dan setiap perkataan yang terucap dari bibir Mawar.
"Kebetulan saya tahu di mana keberadaan mereka sekarang, Pak. Saya juga sedang menuju ke sana," ucap Mawar.
"Kalau begitu, kita bersama-sama saja ke sana." Pihak kepolisian langsung bergerak, mereka sama sekali tidak curiga lebih lanjut mengenai Mawar.
Mawar masih harus kembali menunggu di kantor polisi. Sekarang dia sedang menunggu surat penangkapan keluar. Polisi bilang, mungkin sekitar setengah jam sampai satu jam surat perintah sudah keluar. Hanya saja, semuanya juga dilihat dari kasusnya terlebih dulu.
Surat penangkapan surat turun, itu tandanya mereka sudah bisa bergerak. Beberapa polisi yang bertugas, langsung pergi ke alamat yang dibagikan oleh Mawar. Karena rumah dokter Surya berada di luar kota, jadi perjalanan mereka akan memakan waktu yang cukup lumayan.
Setengah rencana Mawar untuk memenjarakan Senja, sudah hampir berhasil. Sekarang menunggu melihat Senja benar-benar dipenjarakan.
Bel rumah sudah dipencet beberapa kali, tapi belum ada juga yang keluar. Mawar jadi takut kalau misalkan Langit dan Senja sudah lebih dulu pergi dari sana.
Pintu terbuka setelah polisi memencet bel yang kelima. Senja sedikit bingung ketika melihat ada beberapa laki-laki berseragam coklat datang ke rumahnya.
"Maaf, ada apa ya, Pak?" tanya Senja sopan.
"Kami mencari Ibu Senja," jawab salah satu polisi yang bertugas.
"Kebetulan, saya sendiri yang bernama Senja," kata Senja seraya menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ibu, kami tangkap karena kasus penggelapan dana senilai milyaran rupiah." Polisi tadi langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan ke depan wajah Senja, sebagai bukti bahwa ini bukanlah permainan.
Senja bingung, dia terlihat seperti orang linglung. Apalagi ketika dia mendengar bahwa dirinya melakukan penggelapan dana. Seingat Senja, dia tidak pernah melakukan itu.
"Ibu jangan mengelak, kami sudah memiliki bukti-bukti lengkap. Jadi Ibu tidak bisa lagi lari begitu saja." Salah satu polisi di sana memegangi tangan Senja karena saat polisi yang lain akan memborgol Senja, perempuan itu menolak.
Langit yang mendengar ada ribut-ribut di luar rumah, dia pun memutuskan buat keluar. Betapa kagetnya laki-laki itu ketika melihat tangan istrinya sudah diborgol oleh polisi.
"Istri saya salah apa, Pak?" tanya Langit bingung.
"Istri Anda sudah melakukan penggelapan dana di perusahaan orang tua Anda, Pak. Dan sekarang istri Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut." Polisi yang menangkap Senja tadi memberi pengertian kepada Langit, tapi gagal.
"Istri saya tidak mungkin melakukan itu, Pak. Pasti ada kesalahpahaman yang terjadi." Langit bersikeras kalau Senja tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.
Di hari ini, Langit kalah. Polisi berhasil membawa Senja ke kantor polisi. Langit ingin menyusul Senja tapi Senja melarangnya. Senja ingin jika Langit tetap di rumah menjaga Pelangi. Senja takut terjadi apa-apa pada suami dan putrinya, terlebih lagi kondisi pikiran Langit sedang kacau.
Mawar tersenyum senang melihat Langit berpisah dengan Senja. Perempuan itu mendekati Langit dan berkata, "Kamu lihat 'kan? Senja bukan perempuan sebaik yang kamu kira?" Bibir Mawar terkekeh usai mengatakan ini kepada Langit.
Tanpa banyak kata, Mawar segera pergi dari sana meninggalkan Langit yang sedang frustrasi. Langit yakin, ini semua pasti ulahnya Mawar.
Di kantor polisi, Senja dimintai keterangan mengenai benar atau tidaknya Senja melakukan penggelapan dana tersebut. Berulang kali Senja mengatakan tidak, tapi pertanyaan yang sama terus berulang.
Berdasarkan bukti palsu yang dibawakan oleh Mawar tadi, sekarang Senja benar-benar dipenjarakan. Perempuan itu berada di dalam sel di kantor polisi. Senja takut kalau ternyata dirinya akan mendekam di dalam tahanan selama bertahun-tahun.
"Aku tidak tahu apa-apa, kenapa aku bisa ada di sini atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan?" tanya Senja di sela-sela tangisnya karena terpisah dari Langit dan Pelangi.
__ADS_1
...****************...