SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 59. Kemana Pelangi?


__ADS_3

Senja menghubungi Langit suaminya agar tidak lupa menjemput anak mereka. Itu memang setiap hari dilakukannya.


"Ini aku lagi di jalan buat menjemput Pelangi, Sayang," kata Langit dalam sambungan teleponnya dengan Senja.


Langit sedang terjebak di lampu merah dan tiba-tiba Senja menelepon Langit hanya untuk mengingatkan suaminya supaya jangan lupa buat menjemput Pelangi. Senja tidak bermaksud aneh-aneh atau tidak percaya pada Langit. Hanya mengingatkan saja.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya. Aku juga ini di rumah lagi masak untuk kalian. Kebetulan, aku masak makanan kesukaan kalian. Jadi nanti jangan makan di luar atau jajan," ucap Senja dari seberang telepon.


"Iya, aku nggak akan ngajak Pelangi jajan kok. Kamu tenang saja. Ya sudah, ini sudah mau lampu hijau. Aku tutup dulu teleponnya." Langit pamit karena memang dia harus melanjutkan perjalanannya menuju tempat Pelangi bersekolah.


Langit melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Ternyata sudah hampir jam empat sore, Langit berharap kalau dia tidak telat menjemput Pelangi. Sebentar lagi, dia akan sampai.


Saat tiba di sekolahan, Langit melihat beberapa anak-anak sudah keluar dari gerbang dan dijemput oleh para orang tua mereka. Langit pun ikut turun untuk menjemput Pelangi.


Namun, beberapa kali Langit melihat ke sekitar, dia tidak juga menemukan Pelangi keluar dari dalam area sekolah.


Sedikit demi sedikit, anak-anak sekolah sudah hampir pulang semua. Sayangnya Langit belum juga menemukan keberadaan Pelangi.


Langit sampai menanyakan beberapa orang tua murid dan beberapa murid yang kemungkinan mengenal Pelangi, tapi semuanya tidak ada yang mengenal Pelangi.


"Om, Papanya Pelangi ya?" tanya seorang anak perempuan yang dijemput oleh ibunya.


"Sayang, jangan mengganggu orang dewasa," kata ibu dari anak itu.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa, Bu. Kebetulan, saya memang sedang mencari Pelangi. Barang kali putrinya Ibu tahu ke mana Pelangi?" Langit tidak merasa keberatan saat anak kecil itu menyapa dirinya.


Ibu muda yang menjemput anaknya itu pun menatap putrinya, seolah menanyakan balik mengenai apa yang Langit tanyakan. Langit berharap kalau anak kecil itu akan tahu di mana Pelangi sekarang. Jujur saja, Langit sangat khawatir kepada putrinya yang tak kunjung muncul.


"Aku enggak tahu di mana Pelangi, Om. Tapi tadi Pelangi dipanggil Ibu guru dan diminta mengemasi barang-barangnya. Habis itu, Pelangi nggak balik lagi ke kelas," cerita anak kecil itu memberi tahu Langit.


Informasi ini sangat membantu untuk Langit. "Terima kasih ya, kamu sudah memberi tahu Om. Ini buat kamu." Langit memberikan satu batang coklat yang dia siapkan di dalam saku celananya kepada anak perempuan itu.


Tadinya itu coklat dia siapkan untuk Pelangi, tapi Langit juga tidak bisa mengabaikan informasi itu begitu saja. Paling nanti Langit akan membelikan ulang buat putrinya.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada anak kecil dan kepada ibunya, Langit langsung berlari ke arah di mana ruang guru berada. Langit yakin, para guru belum pulang karena biasanya mereka masih harus membereskan berkas dan mengecek setiap muridnya ke semua kelas untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam kelas.


Tibalah Langit di ruang guru. Kebetulan, wali kelasnya Pelangi belum pulang. Langit segera menghampiri wali kelas Pelangi untuk menanyakan keberadaan putrinya.


Kening Langit mengerut, dia meneliti satu kata yang barusan diucapkan wali kelasnya Pelangi. "Tadi Anda bilang apa? Neneknya Pelangi?" tanya Langit memastikan, takutnya dia salah dengar.


"Iya, Pak. Tadi Neneknya Pelangi datang ke sini," jawab sang wali kelas. Keluarlah cerita di mana Angel datang dan mengatakan kalau dia tinggal di luar negeri dan segala macamnya.


Langit meremas rambutnya sendiri. Dia takut kalau Angel akan melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Pelangi. Angel berbohong, dia tidak pernah meminta izin atau memberi tahu Langit jika Angel akan mengajak Pelangi pergi.


"Lalu bagaimana, Pak? Apa jangan-jangan perempuan yang datang tadi pagi itu bukan Neneknya Pelangi? Maafkan saya, Pak. Saya sudah teledor dalam menjaga murid-murid saya." Wali kelasnya Pelangi itu tampak takut kalau terjadi apa-apa pada Pelangi. "Harusnya saya tadi bertanya dulu kepada Bapak, bukan langsung percaya begitu saja. Bagaimana kalau ternyata perempuan itu memang benar-benar orang jahat atau pelaku penculikan yang menyamar?" ucap wali kelasnya Pelangi ketakutan. Dia malah jadi heboh sendiri.


Tangan Langit merogoh ponsel di saku celananya. Langit cari foto maminya dan dia perlihatkan foto itu kepada wali kelasnya Pelangi. "Apa perempuan yang datang tadi pagi itu adalah dia?" tanya Langit mencari kepastian.

__ADS_1


"Iya, benar. Memang benar perempuan itu yang datang menjemput Pelangi dan mengaku-ngaku sebagai neneknya Pelangi," jawab guru yang merangkap sebagai wali kelasnya Pelangi.


"Dia memang Neneknya Pelangi,' kata Langit membuat guru tadi terdiam karena merasa tidak enak sudah mengatakan yang tidak-tidak mengenai Angel.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Terima kasih atas informasinya," kata Langit sebelum dia benar-benar pergi dari sana.


Langit akan mencari Pelangi ke rumah orang tuanya. Dalam hatinya, Langit berharap kalau Angel maupun Topan tidak akan melakukan hal buruk kepada Pelangi. Dia takut mereka mencelakai Pelangi karena rasa tidak sukanya mereka kepada Senja.


Sekarang Langit sudah berada di dalam mobilnya. Tubuhnya sudah terhalang sabuk pengaman dan dia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya. Langit bersumpah, kalau sampai Topan maupun Angel menyakiti Pelangi, maka dia tidak akan memaafkan mereka berdua sekalipun status mereka adalah orang tuanya.


Hati dan perasaan Langit gelisah, tidak tenang dan terus kepikiran tentang Pelangi. Langit memacu mobilnya sangat kencang supaya bisa lebih cepat sampai di rumah yang dia tinggali sebelum menjadi suami orang.


"Lebih baik aku tidak memberi tahu Senja mengenai hal ini. Kalau aku memberi tahu Senja, nanti yang ada dia bakalan khawatir dan tidak tenang. Aku akan bilang kalau aku sudah berhasil menemukan Pelangi." Langit bertekad untuk tidak memberi tahu Senja bahwa Pelangi dibawa oleh Angel sedari pagi.


Sampailah Langit di kediaman orang tuanya. Cepat-cepat Langit keluar mobil dan berjalan masuk. Dia akan mencari Pelangi di sana. Langit berharap, kalau dia memang menemukan Pelangi di rumah itu, maka harus dalam keadaan baik-baik saja.


Tubuh Langit sedikit gemetar ketika dia baru membuka pintu utama yang memang tidak dikunci karena sudah dijaga oleh satpam di gerbang. Langit berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Pelangi. Semua tempat di lantai bawah sudah Langit sisir tapi dia belum juga menemukan keberadaan Pelangi.


"Pelangi! Kamu ada di sini?" Langit berteriak mencari putrinya di sana.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2