
Langit meraih tangan istrinya dan mengecup tangan wanita yang paling dia cintai itu. Langit mengerti, pastilah Senja tidak bisa menerima Mami membawa Pelangi tanpa izin darinya.
Senja sendiri sebenarnya tidak keberatan jika Maminya Langit itu membawa Pelangi jalan. Bahkan dia merasa senang karena putrinya itu bisa dekat dengan Mami Angel.
"Sayang, maafkan aku," ucap Langit lagi. Dia tidak ingin istrinya itu marah karena telah lengah menjaga Pelangi hingga bisa dibawa mami.
"Mas, kenapa kamu dari tadi minta maaf. Bukan salah kamu. Lagi pula Pelangi dibawa neneknya sendiri. Bukan orang lain. Cuma yang aku sayangkan, kenapa Mami tidak minta izin? Padahal aku juga tidak akan melarangnya. Satu lagi yang tidak aku suka, pihak sekolah yang teledor. Beruntung mami yang bawa, jika itu orang jahat. Bagaimana?" tanya Senja.
"Aku besok akan menuntut kepala sekolahnya. Lain kali jika melakukan hal yang sama, pasti akan aku tuntut."
Senja membalikkan badannya, melihat Pelangi yang asyik bermain dengan boneka yang dibelikan mami. Bagaimana mungkin Senja marah dan melarang, melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mungil putrinya.
"Sayang, kamu senang tadi jalan bareng nenek?" tanya Senja. Pelangi memandangi wajah Bundanya. Lalu menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Apa Pelangi bahagia?" tanya Senja lagi.
Langit menggenggam tangan istrinya. Dia mengerti pastilah perasaan Senja saat ini bercampur aduk. Antara tidak rela dan juga harus ikhlas. Senja tidak mungkin melarang, karena melihat kebahagiaan putrinya.
Senja mengajak suami dan anaknya makan. Dia tetap berusaha untuk masak walau mual dan pusing melanda. Senja ingin menyajikan makanan sehat buat keluarga dari tangannya sendiri.
__ADS_1
Setelah makan, Langit memandikan Pelangi lalu memintanya tidur. Langit juga segera mandi. Sehabis mandi naik ke ranjang untuk menyusul istrinya yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Langit mengusap dan mengecup perut Senja, membuat wanita itu membuka matanya dan tersenyum. Senja tahu, pasti Langit saat ini merasa sangat bersalah sekali.
"Mas, kamu nggak tidur?" tanya Senja.
"Aku belum ngantuk. Kamu tidurlah. Atau tidur di lenganku saja."
Senja meletakkan kepalanya di lengan kekar Langit dan memeluk dada bidang suaminya itu. Langit mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang, kamu nggak perlu merasa bersalah begini. Aku nggak apa-apa. Aku bahkan berdoa semoga Pelangi menjadi jembatan buat kedua orang tuamu bisa menerima pernikahan kita ini."
"Apa kamu bisa memaafkan semua kesalahan Mami dan Papi, Sayang?" tanya Langit. Senja tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu.
"Mas, mereka itu orang tua kamu. Mana mungkin aku dendam dengan orang yang telah membuat suamiku hadir. Tanpa Papi dan Mami, kamu tidak akan ada di dunia ini. Aku bahkan akan berterima kasih karena Mami telah melahirkan putra hebat seperti kamu."
Langit kembali memeluk tubuh istrinya itu. Merasa beruntung banget karena Senja yang tidak memiliki dendam pada orang tuanya.
Langit mengusap punggung istrinya hingga Senja memejamkan matanya. Langit mengecup dahi Senja sebelum dia juga ikut menutup mata.
__ADS_1
***
Senja memasak buat makan malam suami dan anaknya dibantu pekerja rumah tangganya. Wanita itu sesekali ke kamar mandi karena mual. Namun, dia masih terus bertahan buat memasak.
Ketika asyik memasak, Senja mendengar bel rumahnya berbunyi. Dia meminta tolong pekerja rumahnya untuk membukakan pintu. Tidak berapa lama, pelayan itu kembali lagi ke dapur.
"Bu, ada tamu yang ingin bertemu," ucap Bi Imah. Kebetulan semua makanan telah masak hanya tinggal dihidangkan.
"Bibi tolong hidangkan, ya. Aku temui tamunya dulu!"
Senja membasuh tangan dan melepaskan celemeknya. Dia lalu menuju ruang tamu, dimana orang itu menunggu.
"Selamat sore," ucap Senja.
Tamu undangan itu membalikkan tubuh menghadap Senja. Wanita itu kaget melihat siapa yang menjadi tamunya.
"Mami ...," ucap Senja dengan suara gemetar.
...****************...
__ADS_1